Tradisi Kekerasan=Cermin Budaya Sakit
11 September 2009 at 5:04 pm | In Sosial | 2 CommentsTags: bobrok, budaya sakit, ekonomi, kekerasan, kultur, lewis coser, politik, Sosial, tradisi, violence
Membincang kekerasan memang tak ada mati dan putus-putusnya. Baru saja, seorang sahabat memampang status di Facebook, “Tadi fajar YPMI diserang minhum.. Mereka mengajak preman2 yang sedang mabok. YPMI dirusak… Sampai kapan kita terus jadi mainan mereka…”
Tanpa ingin memperjelas objek sasaran kekerasan, namun kita hanya ingin memberikan penegasan bahwa penyelesaian masalah dengan jalan kekerasan itu tak akan menyelesaikan masalah. Bahkan justru menimbulkan masalah baru.
Jika sudah demikian, maka kultur dialog, dan penghargaan terhadap ‘liyan’ (the others) jelas akan mengalami degradasi dan pengikisan. Mereka tak lagi mau menyelesaikan persoalan itu dengan dialog. Karena sejak awal, mereka memang tak mempunyai sense terhadap segalam macam hal yang berbau beda dan majemuk. Sehingga ketika ada hal yang dianggap mengancam eksistensi mereka, itu berarti harus dihapuskan dan singkirkan.
SURGA dan PEREMPUAN CANTIK buat BOIM?
13 Agustus 2009 at 1:03 pm | In Agama-agama, Hukum & HAM, Ideologi, Sosial | 4 CommentsTags: akibat terror, aksi, Boim, bom, ekonomi, ekses, Ibrohim, JW Marriott, labelisasi, pengantin, perempuan cantik, Polisi, ritz carlton, surga, temanggung, tuduhan, Tuhan
Beginilah nasibnya kalau aksi pengeboman hanya berbekal desakan ‘nafsu jihad’ fi sabilillah secara keliru. Pemakaman jenazah tanpa keluarga, hukuman dan tekanan sosial datang bertubi menghampiri keluarga.
Seperti diketahui, mayat korban yang tewas di Temanggung adalah Ibrohim alias Boim, bukan Noordin M Top. Kepergiannya itu, nyatanya menyisakan sekian masalah dan tanggungan yang tak sepele.
Pertama, beban labelisasi. Labelisasi ini akan segera saja mencari titik tumpunya. Dan tak lain tak bukan keluargalah sebagai pelabuhan terakhir segala cemoohan, pelabelan dan hukuman sosial dari masyarakat. Banyak perbincangan dan sorotan media yang menyoroti keluarga para pelaku terror, sepeninggal mereka.
Tentu ini menjadi beban yang berat bagi keluarga. Terutama bagi yang sudah mempunyai anak dan istri. Mereka jelas tak menginginkan tekanan sosial yang tidak ringan seperti itu. Belum lagi, jika memikirkan masa depan si anak. Bukankah ini menjadi problem tersendiri?
Kedua, beban tanggungan ekonomi. Bagi sosok Boim yang telah mempunyai pekerjaan sebagai florist tentu adalah sebagai bentuk tanggung jawab dan tuntutan sebagai kepala keluarga. Namun, dengan ‘iming-iming akhirat’, surga, dan menjadi ‘pengantin imaginer’ dan segala macam janji-janji khayalan yang lain, Ia rela melepas tanggung jawab itu dengan menukar nyawanya untuk melakukan berbagai macam aksi peledakan bom di sejumlah tempat di tanah air, termasuk niatnya untuk melakukan bom bunuh di diri di kediaman Presiden SBY.
Beban tanggunan lain pun siap menghadang. Sepeninggal Boim, bukan bertambah baik keadaan perusahaan tempat ia bekerja. Justru sebaliknya.
Sejak bom meledak di Hotel JW Marriott dan Ritz-Carlton 17 Juli 2009, teman-teman Ibrohim alias Boim sesama florist menjadi pengangguran. Tempat kerja teroris yang tewas di Temanggung itu ditutup.
Seperti diberitakan di www.detik.com, sepeninggal Boim, tempat kerjanya justru mengalami penurunan aktifitas, bahkan kini telah tutup. Disamping beberapa karyawannya terancam nganggur dan tak punya perkerjaan lagi.
“Sudah sebulan nggak kerja. Katanya ditutup. Sejak kejadian itu (ledakan bom), suami saya sudah tidak kerja lagi. Ya penggangguran,” kata Aar istri Andi Suhandi kepada detikcom, Kamis (13/8/2009).
Andi merupakan teman kerja dan juga pernah satu kos dengan Ibrohim di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan.
Aar mengatakan, semua teman-teman Ibrohim yang bekerja sebagai florist di Ritz-Carlton sudah tidak bekerja lagi. Kalaupun tempat kerjanya masih buka, kemungkinan akan berganti kepemimpinan.
“Ada banyak (yang pengangguran). Mungkin ada 15 orang. Kalaupun masih buka lagi, ya ganti bos,” ujarnya.
Ini adalah bagian dari sekian problem ikutan yang membuntuti kematian sang pelaku terror. Kematiannya dengan cara yang tragis, masa depan keluarga jadi taruhan, dan beban sosial lain menghadang pula. Oh, inikah yang dinaman mati Syahid sebagai pengantin yang akan bahagia di akhirat sana.
Tuhan tentu tak semudah itu memberikan Surga dan ‘perempuan cantik’ buatmu Boim…
Ketika Silaturrahim dalam Bingkai Facebook
25 Mei 2009 at 3:30 pm | In Islamic Studies, Sosial | Leave a CommentTags: facebook, Fatwa haram facebook, forum Bahtsul Masail Putri (BMP) XI, friendster, halal, Haram, Kediri, lirboyo, MUI, Nabil Haroen, pondok pesantren, silaturrahim, Silaturrahim dalam Bingkai Facebook
Semakin tak terbendung kiranya melihat fenomena jejaring sosial bernama facebook ini. Virusnya menggejala dan mewabah kemana-mana. Hingga siapapun bisa memanfaatkan link sosial di dunia maya ini untuk kepentingan apapun. Dari mulai pertemanan sosial, kampanye politik, iklan, perdagangan, chating, hingga urusan yang berbau ‘abu-abu’ semacam seks.
Seolah merebak fenomena Tuhan Facebook. Dalam tulisan tentang tema ini sebelumnya, saya pernah menuliskan Irasional yang hadir menyertainya, sebab jamak jamaah facebook yang rela berasik ria di depan layar monitor untuk sekadar memperbarui statusnya, mengirimkan pesan di dinding temannya, surfing group yang disukainya, membikin group, halaman, serta ada juga yang pasang iklan bisnis, dan iklan politik. Macam-macam rupanya.
Semuanya itu bisa membawa pelaku ‘facebookholic’ mabuk, tak merasakan perjalanan waktu dan masa yang terus ‘melarikan diri’ meninggalkannya.
tuhan baru
Continue reading Ketika Silaturrahim dalam Bingkai Facebook…
FACEBOOK HARAM atau HALAL?
25 Mei 2009 at 1:22 pm | In Islamic Studies, Sosial | 7 CommentsTags: bid'ah, BMP lirboyo, facebook, Fatwa, Fatwa haram facebook, fatwa muhammadiyah, fatwa NU, forum Bahtsul Masail Putri (BMP) XI, friendster, halal, Haram, jejaring, Kediri, lirboyo, MUI, Nabil Haroen, pengguna, pesan, pesan erotis, pondok pesantren, profil, seks, Sosial, status, ulama, ulama jatim, user
JAKARTA – Ijtima 700 ulama Jawa Timur soal fatwa haram situs jejaring sosial, Facebook, dimentahkan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat. MUI menilai, tidak ada alasan mendasar untuk dikeluarkan fatwa haram jika jejaring sosial ini mengandung banyak manfaat bagi umat.
“Kalau lebih banyak manfaat untuk orang lain seperti untuk berdakwah, menyambung tali slaturrahmi, kenapa harus diharamkan?” ujar Ketua MUI, Cholil Ridwan, saat dikonfirmasi okezone, Senin (25/5/2009).
Itulah sekelumit berita yang saya kutip dari portal berita Okezone.com (Senin, 25 Mei 2009 – 08:05 wib-Maria Ulfa Eleven Safa)
Seperti diketahui sebelumnya, forum Bahtsul Masail Putri (BMP) XI Pondok Pesantren Lirboyo Kediri menetapkan status haram kepada pengguna facebook. Tapi catatanya yang dilampirkan adalah ketika membuat keakraban dan kedekatan hubungan lawan jenis yang tanpa batas, sehingga memunculkan potensi syahwat atau fitnah.
Seperti dikutip Tempo interaktif:
Juru bicara bathsul masail, Nabil Haroen menegaskan forum tersebut tidak pernah memutuskan haram pada jejaring sosial facebook. Sebab media tersebut hanyalah alat komunikasi yang diciptakan manusia. “Kami mengharamkan penggunaannya, jika merangsang atau menimbulkan syahwat,” kata Nabil kepada Tempo, Minggu (24/5).
Bagaimana sikap kita?
Mengenal Flu Babi
1 Mei 2009 at 3:54 pm | In Sosial | Comments OffTags: A/H1N1, flu, flu babi, influenza B, Pandemi, SARS
Zaman tambah tua, penyakit juga makin bertambah. Fenomena terbaru, kita mendengar penyakit mengerikan yang telah memakan korban. Ya, Flu Babi. Ngeri sekali saya mendengar berita ini. Berikut ini saya unduh dari situs detiknews.com dan inilah.com. Mari kita simak.
Jakarta (http://www.detiknews.com/)- WHO menaikkan fase flu burung dari 4 menjadi 5. Ini berarti kurang satu fase lagi flu babi menjadi wabah global. Apa maksud dari fase-fase itu?
Berikut penjelasan Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Depkes RI Prof Tjandra Yoga Aditama tentang fase pandemi suatu penyakit, Kamis (30/4/2008):
Fase 3, kasus sporadik atau kluster kecil, penularan antar manusia terbatas (misalnya pada kontak amat erat), tidak ada penularan berkepanjangan di masyarakat, tidak jelas apakah akan terjadi pandemi.
Fase 4 , jelas ada penularan antar manusia, telah terjadi KLB di masyarakat (community-level outbreaks). Kemungkinan penularan berkelanjutan menjadi meningkat dan risiko terjadinya pandemi juga makin meningkat secara bermakna.
Fase 5 ditandai dengan penularan antar manusia yang menyebar pada setidaknya 2 negara di dalam satu region WHO. Fase 5 adalah signal kuat bahwa pandemi sudah mengancam dan merupakan waktu untuk menyempurnakan organisasi dan komunikasi dan mengimplementasikan rencana mitigasi yang ada.
Fase 6, adalah fase pandemi, di mana sudah terjadi KLB juga juga di setidaknya satu negara lain di luar region WHO yang tadi sudah terkena di fase 5. Kalau sudah ada deklarasi fase 6 maka artinya pandemi sedang berjalan. (nrl/ndr)
Dari Mana Asal Flu Babi?
INILAH.COM, Beijing – Flu babi kini menjadi hantu dunia. Di Meksiko, negara pertama ditemukannya epidemi virus ini, ratusan nyawa sudah melayang. Darimanakah flu babi berasal? Di tengah kekalutan, beragam spekulasi kini mulai muncul.
Salah satunya, spekulasi yang menyebutkan virus flu babi sebenarnya berasal dari Asia, tepatnya China. Setidaknya, begitulah laporan yang berkembang di berbagai media satu-dua hari ini. Bukan berdasarkan riset media, laporan itu semata-mata mengandalkan pernyataan Gubernur Veracruz, Meksiko, Fidel Herrera.
Tidak terlalu jelas, darimana Fidel Herrera menyimpulkan hal tersebut. Bisa jadi, salah satunya karena China akhir-akhir ini sering menjadi negara sumber munculnya wabah mematikan, termasuk SARS dan flu burung. Enam tahun lalu, China dikecam karena pada awalnya menutup-nutupi epidemik SARS yang bersumber dari wilayah selatan negara tersebut.
SARS, flu burung, seperti juga flu babi, kebetulan juga berpindah dari binatang ke tubuh manusia. Yang mengerikan, tentu jika perpindahan virus itu terjadi antarmanusia.
SARS merayap dari Guangdong, China, dan menyerang hingga ke-37 negara di dunia. Kasus SARS pertama kali terjadi di Shunde, Guangdong, pada November 2002. Penderitanya, seorang petani, dirawat di rumah sakit dan meninggal tak lama kemudian. Tak ada diganosa, tak ada pula laporan pemerintah China ke Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Pemerintah China menutup pemberitaan media sebelum akhirnya SARS ‘menggilas’ dunia pada Februari 2003.
Kurang dari setahun, SARS menewaskan 775 orang dari 8.273 kasus. Hampir 90% korban meninggal terjadi di kawasan China (China, Taiwan, dan Hong Kong).
Hal yang sama terjadi pada kasus flu burung (H5N1). Virus pertama avian influenza ini pertama kali terdeteksi juga di Provinsi Guangdong, China, pada 1996. Tapi, perhatian dunia baru muncul saat virus itu merebak melalui pasar unggas di Hongkong yang menyebarkan virus H5N1 ke manusia pada Mei 1997, menewaskan enam dari 18 orang yang terinfeksi.
Hingga kini, flu burung menewaskan 257 orang dari 421 kasus (61%) yang terjadi. Korban paling banyak justru di Indonesia, 141 orang meninggal, disusul Vietnam 110 orang, Mesir (66), China (38), dan Thailand (25).
Meskipun bukan berdasarkan penelitian mendalam, ada juga alasan-alasan logis atas tudingan Gubernur Veracruz itu. Dua tahun lalu, para pejabat pertanian China dituduh menutup-nutupi berkembangnya wabah babi berkuping biru yang membunuh lebih dari 80 ribu babi. Saat virus itu menyerang, lebih dari 235 ekor babi terpaksa disembelih.
Lalu, benarkah virus flu babi berasal dari China? “Laporan yang menyebutkan epidemik flu babi di Meksiko berasal dari China tak berdasar sana sekali. Kami tak mendeteksi variasi virus flu babi yang menyerang di Amerika Utara itu,” ujar pernyataan Kementerian Pertanian China. Mereka menilai pernyataan itu sengaja untuk merusak citra China.
Menurut juru bicara Kementerian Kesehatan, Mao Qunan, laporan media tersebut mengabaikan fakta dan sains (kesehatan) dasar. Mereka menciptakan rumor bahwa epidemik itu berasal dari China.
“Mereka berniat menciptakan kekacauan, keributan, dan menghancurkan citra China. Kami tegas-tegas menantang ini,” katanya.
Mao menyatakan China siap bekerja sama dengan masyarkat internasional untuk mengatasi merebaknya virus flu babi (A/H1N1) yang begitu cepat menyebar ke negara lain. Ketakutan lebih dalam muncul jikalau virus babi jadi pandemik global.
Sejauh ini, belum ada kasus flu babi yang menyerang orang di China. Sejumlah pekahar di wilayah utara China yang semula diperiksa karena gejala tertentu, ternyata hanya terserang influenza B yang biasa terjadi pada manusia.
“Setelah epidemik flu babi merebak di AS, Meksiko, dan tempat lainnya, pemerintah China memandang betapa pentingnya inisiatif sistem pencegahan darurat. Untuk memerangi epidemik ini, negara kami akan bekerja sama erat dan melakukan upaya bersama WHO dan pemerintah negara yang terkena,” ujar Mao pula. Kabarnya, pemerintah China setuju menyumbang US$ 5 juta kepada Meksiko untuk membantu perjuangan melawan flu babi. [I4]
Asyik Masyhuk Kencan, Diperas Polisi Gadungan
22 April 2009 at 2:46 pm | In Pendidikan-Humaniora, Sosial | 1 CommentTags: Asik, Gadungan, KPK, Pacaran, Polisi
Geli membaca berita ini. Coba anda cermati, lantas apa komentar anda…
Mendapati ada Polisi gadungan, kita sering. KPK gadungan, dan yang gadungan-gadungan lainnya. Ditelusuri lagi, pekerjaan gadungan yang lebih banyak porsi pada kerja-kerja ngibulin, membohongi, dusta, dan tidak amanah memang menjadi fenomena yang akrab dialami negeri ini. Meski fenomena itu menjadi cermin di wilayah lain.
Tapi, bagaimana kita mau menegakkan kejujuran, jika perilaku negarawan kita masih jauh dari yang kita harapkan. Mereka dusta demi kekuasaan dan kepentingan kelompok, bahkan pribadi. Maka suatu kewajaran barangkali jika mendapati ada polisi Gadungan yang bergentayangan.
Hanya nasib mereka yang berbeda. Yang satu-kata si Tukul Arwana-rejeki kutho (kota), dan yang satunya rejeki ndeso. Hmm… prihatin ya…
Asyik Pacaran, Diperas Polisi Gadungan
Rabu, 22 April 2009 | 09:15 WIB
MALANG, KOMPAS.com - Bermodal tubuh tinggi besar dan rambut pendek, Bahri (26), warga Madyopuro, Kecamatan Kedungkandang, Malang, mencoba mencari peruntungan. Korbannya, pasangan muda-mudi yang kerap berpacaran di kawasan velodrome, sirkuit sepeda balap.
Beberapa pasangan yang asyik bermesraan di lokasi yang gelap tanpa penerangan didatanginya. Bahri dengan gaya meyakinkan mengaku sebagai petugas Polresta Malang. Ia meminta kartu identitas para muda-mudi itu dan memeras sejumlah uang atau barang berharga. Jika tidak dikasih uang, Bahri mengancam membawa para sejoli itu ke Polresta Malang.
Namun, aksi premanisme ini terbongkar. Salah satu korban melapor ke Polsekta Kedungkandang yang kemudian menangkap Bahri akhir pekan lalu. “Dia mengancam akan membawa saya sama pacar saya ke Polresta kalau tidak memberikan uang. Karena tidak membawa uang, saya kasihkan ponsel,” kata Rizal, salah satu korban Bahri, Selasa (21/4).
Continue reading Asyik Masyhuk Kencan, Diperas Polisi Gadungan…
Kegilaan
17 April 2009 at 3:29 pm | In Sosial | Leave a CommentTags: Caleg, calon legislative, Gila, kegilaan, pemilu, stress
Akhir-akhir ini, ungkapan ‘ini’ cukup populer dan ‘mengeras’ menjadi fakta yang tak berbantah. Kegilaan. Ya. 9 April lalu menjadi titik awal bagaimana fakta itu mulai menampakkan diri. Bahkan sebelumnya, banyak orang yang meramalkan bakal ada fakta kegilaan sebagian golongan masyarakat kita. Hmm… terbukti rupanya.
Saya, ingin menyambungkan dengan keinginan saya kemarin yang baru saja mendaftar pada sebuah milis/forum pembaca harian kompas. Terkejut, dan sedikit agak kaget. Setelah terregister menjadi anggota di dalamnya, rupanya inbox dalam email seketika banjir dengan bermacam-macam posting dari segenap pembaca.
Seneng sih, bisa mencermati wacana yang tengah mengalir, menghangat dan memanas dengan sesegera mungkin; tinggal klik, jreng jreng…muncul berita. Tidak senengnya, ya jadi gak bisa bermanja-manja membaca versi cetaknya di Koran. Rasanya keasikan membaca Koran dengan rasa pegelnya tangan menyangga Koran tiba-tiba hilang.
Ah, rupanya dalam deretan posting itu, terdapat sebuah berita yang cukup membuat saya berpikir sejenak. Arif Hidayat, si pengirim yang menceritakan sebuah fakta kegilaan merebak, dan membunyikan kenyataan yang rasanya kurang mengenakkan bagi sebagian orang.
“23 Fakta Tentang Caleg Stress”
Ponari dan Birahi Jaipong
21 Februari 2009 at 1:06 pm | In Sosial | 4 CommentsTags: batu ajaib, birahi, Jaipong, mainstream, pelayanan kesehatan, ponari
“Hai, itu tahayul, klenik, jangan ikuti”, teriak sekelompok orang.
“pake yang ilmiah, rasional dong”
Riuhnya teriakan itu, meluncur deras saat h

versi tulisan ini yang dimuat di Citizen Jurnalizm (inilah.com), lihat di: http://inilah.com/berita/citizen-journalism/2009/02/23/85620/ponari-dan-birahi-jaipong/
adir fenomena ‘pengajaiban’ bocah bernama Ponari yang sanggup memberikan perantara kesembuhan bagi banyak orang.
Itu juga yang dikatakan oleh seorang kyai di salah satu tayangan televisi, seperi yang juga Emha tulis di Koran Tempo (21/2), “Jangan minta kepada Ponari, Ponari itu makhluk. Jangan minta kepada batu, batu itu makhluk. Jangan berlaku syirik sehingga menjadi manusia musyrik. Mintalah Khaliq, Allah Swt….”
Saya begitu tertarik membaca tulisan si “Kyai Kanjeng” ini. Ada pesan yang coba saya tafsiri. Bahwa dalam masyarakat kita acap terjadi salah dan sesat pikir, bagaimana membandingkan keklenikan ‘pemuja’ Ponari yang berusaha sembuh dengan para pasien dokter yang juga melakukan hal yang sama.
Dalam logika yang sangat sederhana, Emha menuliskan cukup apik. Ketika sebagian orang mencemooh fenomena ‘pemujaan’ Ponari karena mendekatkan pada perbuatan yang dibenci Allah, Syirik; Ponari itu makhluk. Begitu, pada saat yang sama, muncul jawaban: “Jangan minta kesembuhan kepada dokter, dokter itu (juga) makhluk. Jangan minta kepada pil dan obat-obatan, pil dan obat-obatan itu (juga) makhluk. Jangan berlaku syirik, sehingga menjadi manusia musyrik.”
tuhan Facebook
19 Februari 2009 at 2:39 pm | In Sosial | 11 CommentsTags: facebook, friendster, ponari, ponari sweat, Tuhan

Facebook, fenomena irasional
Belakangan ini rame sekali diperbincangkan komunitas sosial pesaing Friendster yang bernama Facebook.
“Ha, makhluk apa tu”?
Makhluk ini seolah menyebar bagai virus yang menjangkiti setiap pojok-pojok kota, perkantoran, warnet, institusi pemerintah, professional, intelektual, akademisi dan lain sebaginya, tanpa memandang status sosial, karena status sosialnya ya itu…main tampang status yang diupdate terus setiap saat, detik, jam, hari dan seterusnya.
Saya cukup terhenyak membaca tulisan di blognya ndoro kakung yang ngetop itu, bahwa fenomena facebook, laiknya fenomena Ponari, yang menampilkan aura irasional bagi sebagian kalangan.
Blog pada WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.







