Awas, Hak Angket Kasus Century Masuk Angin!

26 November 2009 at 1:18 pm | In News hangat, Politika | 1 Comment
Tags: , , , , , , , , , , ,

Ditengarai munculnya pendatang baru alias penumpang belakangan yang menyetujui hak angket kasus bank century dicurigai banyak pihak sebagai upaya penggembosan dan pemberian ”angin tambahan” (biar masuk angin), hingga akhirnya gembos alias gagal total. Awas, mari kita awasi bersama.

Adalah Partai Demokrat yang belakangan ini secara tiba-tiba mendukung seratus persen dikemukakannya hak angket kasus century. Padahal sebelumnya jelas-jelas partai pendukung SBY ini menolaknya. Bahkan belakangan partai ini malah bernafsu untuk merebut kursi pimpinan pansus (panitia khusus) hak angket century.

Ha ha… lucu jadinya, jika penumpang baru, lantas tiba-tiba nyelonong hendak merebut kursi supir…? ini akan menabrak etika dong….

Lihatlah ulah mereka ini:

Continue reading Awas, Hak Angket Kasus Century Masuk Angin!…

Noordin M Top Ditangkap

7 Agustus 2009 at 9:06 pm | In Agama-agama, Hukum & HAM, Politika | 7 Comments
Tags: , , , , , , , , , ,

Iseng melongok beberapa portal berita online, saya menemukan info yang cukup menarik dan provokatif kiranya. Berita ini saya temukan di www.vivanews.com pada pukul 20.00. Isinya tentang informasi penangkapan gembong teroris nomor wahid yang tengah diincar dan diendus polisi di Indonesia pasca peledakan bom di duo hotel internasional J.W Marriott dan Ritz-Carlton pada 17 Juli lalu.

berikut ini beritanya:


Noordin M Top Dikabarkan Ditangkap

Demikian dilansir laman stasiun televisi Al Jazeera, Jumat 7 Agustus 2009.

Jum’at, 7 Agustus 2009, 19:52 WIB

Hadi Suprapto, Harriska Farida Adiati

VIVAnews – Noordin Mohammed Top, orang yang dicari-cari karena diduga terlibat dalam pengeboman dua hotel mewah di Jakarta, telah ditangkap. Demikian dilansir laman stasiun televisi Al Jazeera, Jumat 7 Agustus 2009.

Noordin M. Top, salah satu dari dua tersangka yang diduga terlibat dalam pengeboman hotel J.W Marriott dan Ritz-Carlton pada 17 Juli, dikabarkan ditangkap hari ini. Namun, belum disebutkan tempat penangkapannya.

Sembilan orang tewas dan lebih dari 50 orang terluka akibat ledakan tersebut. Noordin merupakan anggota kunci Jemaah Islamiyah (JI), kelompok yang berkaitan dengan al-Qaeda dan ingin mendirikan negara Islam di Asia Tenggara. Namun, kelompok Noordin M. Toop memisahkan diri dari JI setelah dituduh menjadikan warga sipil sebagai target serangan.

JI disalahkan sebagai pelaku pengeboman tahun 2002 di Bali yang menewaskan 202 orang. Noordin juga diduga berada di balik serangan bom Marriott 2003 dan Kedutaan Besar Australia di Jakarta pada 2004, serta serangkain peristiwa pengeboman di sejumlah restoran di Bali pada 2005 yang menewaskan lebih dari 20 orang.

Noordin M Top Diduga Ditangkap di Temanggung

Penangkapan terjadi pada pukul 17.00, Jumat 7 Agustus, dengan baku tembak.

VIVAnews – Densus 88 melakukan penggrebekan rumah yang diduga berisi buronan nomor satu, Noordin M Top, di Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung.

Penangkapan terjadi pada pukul 17.00, Jumat 7 Agustus, dengan baku tembak.

Laporan reporter tvOne yang berada di lokasi, penggrebakan dilakukan dengan mengepung rumah kontrakan yang berada di area persawahan.

Informasi yang diperoleh tvOne, penghuni rumah itu berbadan tegap menyerupai Noordin M Top. hadi.suprapto@vivanews.com

Baku Tembak Masih Berlangsung
Penyergapan yang diwarnai baku tembak itu berlangsung sejak pukul 17.00.

VIVAnews – Penyergapan yang diwarnai baku tembak Detasemen Khusus 88 Antiteror dengan segerombolan teroris di Kedu, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, masih berlangsung. Penyergapan dilakukan sejak pukul 17.00, Jumat 7 Agustus 2009.

Diduga, salah satu penghuni rumah itu diperkirakan Noordin M Top. Penggerbekan ini membuat warga panik.

Menurut informasi dari reporter tvOne di lokasi, ciri-ciri orang yang menghuni rumah itu mirip gembong teroris Noordin M Top. Saat ini belum bisa dipastikan apakah Noordian atau bukan hingga penembakan berakhir.

Diduga, di dalam rumah itu tidak hanya Noordin, tapi juga buronan kelas kakap lainnya, seperti Reno alias Tedi alias Mubarok. Reno merupakan orang kedua setelah Azhari yang pandai meracik bom.

Hingga kini belum dipastikan berapa banyak isi rumah yang letaknya di area persawahan. hadi.suprapto@vivanews.com

• VIVAnews

KPU Kampanyekan SBY-Budiono?

26 Juni 2009 at 12:51 pm | In Politika | 4 Comments
Tags: , , , , , , , , ,

Begini jadinya kalau dalam beberapa hal langkah KPU tak punya perhitungan dan kehati-hatian. Cap tidak profesional siap menjadi caci maki publik. Bagaimana tidak menyembulkan tafsir tak adil, tak profesional dan berat sebelah, jika dalam spanduk sosialisasi Pilpres 2009 nanti, bisa-bisanya dan sempat-sempatnya menyenggol ranah kontroversi dengan memampang spanduk yang (seolah-olah) mengarahkan untuk mencontreng pasangan Capres-Cawapres nomor urut 2 alias SBY-Budiono.

Berikut kabar buruk itu:

KPU arahkan contreng SBY-Budiono?

KPU arahkan contreng SBY-Budiono?

Jumat, 26/06/2009 09:57 WIB
Spanduk Sosialisasi Pilpres Arahkan Contreng No 2
Shohib Masykur – detikPemilu

Jakarta – Spanduk sosialisasi pilpres di Lampung dinilai menyesatkan. Sebab spanduk itu seolah-olah mengarahkan pemilih mencontreng pasangan capres-cawapres nomor 2.

“Spanduk itu berukuran 5 meter, ada gambar 3 kolom. Masing-masing kolom berisi gambar 3 pasangan, capi blank, nggak ada mukanya. Hanya pencontrengannya di nomor dua semua,” kata Ketua Panwaslu Lampung Desi Putra Jayasinga saat dihubungi detikcom, Jumat (26/6/2009).

Pencontrengan yang dilakukan di nomor 2 itu dinilai menyesatkan. Sebab spanduk itu seperti mengarahkan publik untuk mencontreng pasangan nomor 2. Beberapa partai pendukung calon lainnya telah menyatakan protes atas spanduk tersebut.

“Spanduk itu kan ada 3 kolom. Kalau mau bijak seharusnya pencontrengan dilakukan di masing-masing pasangan. Kolom pertama pasangan nomor 1, kolom kedua nomor 2, kolom ketiga nomor 3,” kata Desmi.

Desmi mengatakan, tadi malam Panwaslu Lampung telah meminta agar spanduk itu diturunkan. Sampel spanduk juga telah dikirim ke Bawaslu untuk ditindaklanjuti lebih lanjut.

Namun karena spanduk itu telah tersebar ke seluruh kabupaten dan kecamatan di Lampung, sulit untuk menurunkan semuanya. Meski begitu, KPU Lampung berjanji menurunkan semua spanduk itu.

Menurut pengakuan KPU Lampung, kata Desmi, spanduk itu merupakan kiriman dari KPU pusat. Produksinya dilakukan KPU pusat yang lalu didistribusikan ke daerah-daerah.

“Pengakuan dari KPU Lampung itu dicetak dari KPU pusat. Saya khawatir ini di seluruh Indonesia. Panwaslu melihat ini suatu keberpihakan,” ucap Desmi. ( sho / nrl )

Video Bagi-bagi Selebaran Istri Budiono Katholik

25 Juni 2009 at 8:40 pm | In Politika | 37 Comments
Tags: , , , , , , , , , , ,
Selebaran gelap: Apakah PKS tidak tahu istri Budiono Katolik

Selebaran gelap: "Apakah PKS tidak tahu istri Budiono Katolik"

Saling lempar Isu SARA kembali dipertontonkan. Kali ini menimpa istri Budiono yang dicap oleh salah satu tabloid sebagai non Muslim. Terang saja, rumor itu membuat kubu Cikeas tersedak. Dan mereka menuntut kubu JK-Wiranto minta maaf.

Aksi bagi-bagi ini dilakukan saat digelar kampanye JK-Wiranto di Medan. Nah, untuk lebih jelasnya, berikut ini liputan SCTV yang merekam aksi tersebut:

[http://video.liputan6.com/videodetail/200906/234817/Selebaran.Soal.Istri.Boediono.Berbuntut.Panjang]

Video Bagi-bagi Selebaran Istri Budiono Katholik

25 Juni 2009 at 8:29 pm | In Politika | 1 Comment
Tags: , , , , , , , ,

Saling lempar Isu SARA kembali dipertontonkan. Kali ini menimpa istri Budiono yang dicap oleh salah satu tabloid sebagai non Muslim. Terang saja, rumor itu membuat kubu Cikeas tersedak. Dan mereka menuntut kubu JK-Wiranto minta maaf.

Aksi bagi-bagi ini dilakukan saat digelar kampanye JK-Wiranto di Medan. Nah, untuk lebih jelasnya, berikut ini liputan SCTV yang merekam aksi tersebut:

[<embed src='http://video.liputan6.com/libs/jwplayer/player-licensed-viral.swf' height='360' width='480' allowscriptaccess='always' allowfullscreen='true' flashvars='repeat=list&autostart=true&file=http%3A%2F%2Fvideo.liputan6.com%2Fmrss.php%3Fprogram%3Dnews%26id%3D234817%26m_id%3D846884&plugins=viral-1d'/>]

Download Iklan Mega-Pro yang Dicekal

18 Juni 2009 at 6:20 pm | In Politika | 4 Comments
Tags: , , , , , , , , , , ,

Banyak pertanyaan yang berseliweran, mengapa stasiun tv kita banyak yang menolak iklan ini. Bukannya setiap tv justru acap membuka diri jika masa kampanye dimulai. Kenapa justru gak ‘dipanen’. Gak butuh duitnya, atau sudah ada yang membayar lebih gede? atau, atau yang lain?

Tampaknya kita butuh jawaban para pemilik tv yang menolak iklan Mega-Pro tentang ‘Harga’ itu. Atau kalau mungkin pihak-pihak yang membuat bungkam.

Bagaimana menurut anda?

SBY dan Si Brutus (2)

17 Juni 2009 at 4:48 pm | In Politika | 4 Comments
Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Ketika itu, tahun 2001, di masa pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid, stabilitas politik dan keamanan betul-betul goyah. Di Jakarta, atau kota besar lainnya, ancaman perampokan, pembunuhan, atau pencurian, merajalela. Lampu merah (lampu lalu lintas) adalah daerah bahaya satu, karena di situ beroperasi kelompok `’Kapak Merah”. Ketika lampu merah menyala, tiba-tiba saja serombongan anak muda bersenjata kapak, pisau, atau golok -terkadang bersenjata api-menyatroni mobil yang sedang berhenti, memecahkan kacanya, lalu merampok penumpangnya, dan pergi seenaknya saja meninggalkan korban, yang tak jarang sudah dianiaya terlebih dulu. Polisi seakan tak berdaya. Itu menyebabkan rakyat terpancing menjadi main hakim sendiri. Maling motor yang tertangkap, dibakar hidup-hidup. Adegan mengerikan itu, merupakan pemandangan sehari-hari di mana-mana.

Itu belum seberapa. Berbagai daerah bergolak. Aceh, misalnya,seakan sudah terpisah dari Republik. Bayangkan, Presiden Abdurrahman Wahid, datang ke Banda Aceh, ketika itu, hanya berani sampai Masjid Raya. Bicara sebentar, ia langsung balik ke bandar udara, terbang pulang ke Jakarta. Di Ambon, Maluku, `’perang” Islam – Kristen, mencapai puncaknya. Tak terhitung nyawa yang melayang, bangunan yang terbakar, atau perkantoran yang dimusnahkan. Peristiwa serupa terjadi di Poso, Sulawesi Tengah. Di berbagai daerah di Kalimantan, orang Dayak `’perang” melawan suku pendatang, Madura. Korban tak lagi terhitung.

Nah, ketika itu yang menjadi Menko Polkam adalah Jenderal (Purn.) Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), yang berambisi menjadi Presiden RI. Sebagai penanggungjawab stabilitas politik dan keamanan di kabinet, apa yang SBY lakukan? `’Ooh dia rapat terus, diskusi terus, sampai berbulan-bulan,” ujar seorang Menteri yang ketika itu masuk jajaran Polkam. Sebagai hasil rapat-rapat yang melelahkan yang dipimpin SBY itu, dibentuklah Desk Aceh, Desk Ambon, Desk Poso, Desk Sampit, dan entah Desk apa lagi. Apa kerja Desk itu? Jangan tanya, karena mereka rapat terus, diskusi terus, seminar terus. `’Saya lihat orang-orang yang bunuh-bunuhan di Ambon, Poso, atau Sampit, sudah mulai capek. Mereka juga sudah capek membakar rumah, saking banyaknya rumah yang dibakar. Tapi rapat belum menghasilkan keputusan apa pun,” kata Menteri tadi.
Continue reading SBY dan Si Brutus (2)…

SBY dan si Brutus (1)

17 Juni 2009 at 4:44 pm | In Politika | 2 Comments
Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Hari ini, saya mendapatkan email dari milis yang rasanya cukup perlu untuk dibaca dan ditelaah. Mulai dari awal kata hingga akhir kata saya membaca, saya tanamkan terlebih dahulu keyakinan bahwa ini adalah sebuah teks yang siap mendapatkan ekor makna dan pemahaman yang berbeda-beda, bahkan menjadi kontroversi.

Terlebih, teks ini dihadirkan saat dimana konstalasi politik memanas pra pemilihan Presiden dan Wakil Presiden 2009.

Tapi apapun yang menjadi makna, arti dan pemahaman para pembaca, saya kira itu sah-sah saja. Silakan ditafsirkan sesuai dengan persepsi dan keyakinan anda semua. Mendukung, menolak, setuju, tak setuju atau biasa-biasa saja. Itu semua adalah (sekali lagi) hak anda semua. Saya hanya bagian terkecil dari orang yang hendak memberikan pemahaman tentang teks ini.

Dalam milis tersebut sang pengirim yang menamakan diri Bungaran memberikan judul “Kilas Balik Langkah Politik SBY”. Tulisan tersebut terbagi menjadi 2 bagian. Berikut ini saya unduh dari milis tersebut. Selamat menikmati.

Marcus Brutus adalah kawan, anak buah dan orang yang dipercaya Julius Caesar, kaisar Romawi. Tapi Brutus pulalah yang menusuk sang kaisar dengan pisau dari belakang hingga mati. Karakter Brutus akhirnya dipakai untuk menggambarkan seorang yang berkhianat terhadap orang yang menolongnya, melindunginya dan bahkan mempercayainya. Karakter Brutus ini hampir selalu muncul dalam pergulatan politik. Dalam perbincangan politik Indonesia sekarang ini, salah satu figur yang dijuluki Brutus adalah Jenderal SBY.

SBY telah menjadi Brutus bagi tiga presiden yaitu Soeharto, Abdurrahman Wahid dan Megawati. Bedanya, Brutus di zaman Romawi akhirnya mati bunuh diri, sedangkan Brutus SBY terbilang Brutus yang masih beruntung.

Di akhir zaman Presiden Soeharto, SBY menjabat Kasosspol ABRI di bawah Panglima ABRI Wiranto. Tanggal 16 Mei 1998, MABES ABRI di Jalan Merdeka Barat dipenuhi wartawan karena ada siaran pers Wiranto yang meminta Soeharto mundur. Tapi Wiranto tak muncul-muncul.

Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) ABRI, Wahab Mokodongan, membagikan siaran pers itu yang isinya menimbulkan kontroversi, yaitu: ABRI Mendukung Pernyataan PBNU. Padahal isinya adalah minta Soeharto untuk turun. Wiranto kaget, kok ada siaran seperti ini. Kemudian baru diketahui bahwa SBY-lah yang membuat dan mengkonsep pernyataan itu. Dengan cara itu, SBY bermaksud mendorong dan menjebak Wiranto untuk ambil alih kekuasaan. Akibatnya, Wiranto sempat kena tuding mau mengkudeta Soeharto. Seperti ditulis dibukunya, SBY bahkan sempat bertanya pada Wiranto, “Apakah Bapak akan ambil kekuasaan?” Ambisi SBY memang besar. Targetnya ketika itu adalah Pangab. Kalau Wiranto bisa jadi Presiden dengan mengambil alih dari Soeharto, tentu ia akan ditunjuk jadi Pangab, orang nomor satu di ABRI. Tapi Wiranto memang dinilainya penakut. Tapi, setelah Soeharto jatuh, peristiwa ini dieksploitasinya sebagai bentuk keberpihakannya pada kelompok reformis. Ke mana-mana ia mengatakan bahwa ia adalah ABRI yang reformis dan ABRI perlu paradigma baru. Dengan tampil sebagai sosok seolah-olah reformis, SBY tampil dalam elit politik pada pemerintahan pasca Soeharto.
Continue reading SBY dan si Brutus (1)…

Saling ‘CAPER’ dan Olok-olok NEOLIBERAL

23 Mei 2009 at 8:42 pm | In Politika | 12 Comments
Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Tentu, anda sudah mendengar, merasa atau meraba ada hawa yang semakin panas akhir-akhir ini. Ingat, bukan suhu udara, melainkan suhu perpolitikan negeri menjelang even Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden 2009. Saking panasnya, acapkali melupakan etika politik dan kesantunan sosial.

Saya hanya merangkum dan menafsirkan ulang apa yang ada dalam ‘teks-teks’ berikut ini:

Sementara itu, saat para kandidat Capres saling merogoh simpati ke ranah akar rumput dalam-dalam dan mengharap ‘perhatian’, ada juga fenomena saling tuding. Tudingan ini, tentu kita semua mafhum apa yang diributkan, meski banyak diantara kita yang belum paham betul mengenai istilah yang diributkan itu, yakni tentang Neoliberalisme.

Kita simak saja berita yang saya unduh dari Vivanws.com:

Kubu SBY: yang Neoliberal itu Justru Megawati

(Mereka menunjuk penjualan BUMN Indosat dan Kapal milik Pertamina)

VIVAnews - Tuding-menuding bertema neoliberalisme semakin panas. Kubu pasangan calon presiden dan wakil presiden, Susilo Bambang Yudhoyono-Boediono, menunjuk pemerintahan Megawati Soekarnoputri sebenarnya yang neoliberal.

“Yang neoliberal itu justru pemerintahnya Megawati,” kata Ketua Dewan Pembina Gerakan Lanjutkan SBY, Hayono Isman. “Pernah kejadian di era Megawati, penjualan Indosat dan kapal tanker kepada pihak asing,” katanya dalam sambutan kepada kader-kader Gerakan Lanjutkan SBY di markas besar mereka di Jalan Cikajang, Jakarta, Sabtu 23 Mei 2009.

Lalu SBY, kata Hayono, berusaha mengkoreksi kebijakan pendahulunya itu. Jadi, ujar Hayono, “tudingan neoliberal kepada Boediono itu adalah akal-akalan public relation untuk membentuk persepsi. Ini yang akan kita lawan secara tegas,” ujarnya.

Politik, kata Hayono, adalah soal persepsi. “Kita tidak boleh black campaign, tapi kalau dalam situasi terpaksa, kita boleh menggunakan negative campaign,” katanya.

Boediono memang merasa dituding sebagai neoliberal dalam polemik yang mengemuka menjelang Pemilihan Presiden 2009 ini. Boediono melalui juru bicaranya, Rizal Mallarangeng, menyatakan bukanlah neoliberal. Boediono dalam setiap kebijakan yang dibuatnya saat menjadi menteri selalu mendasarkan diri pada peraturan perundang-undangan.

• VIVAnews

Halaman Berikutnya »

Blog pada WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.