Asyik Masyhuk Kencan, Diperas Polisi Gadungan
22 April 2009 at 2:46 pm | In Pendidikan-Humaniora, Sosial | 1 CommentTags: Asik, Gadungan, KPK, Pacaran, Polisi
Geli membaca berita ini. Coba anda cermati, lantas apa komentar anda…
Mendapati ada Polisi gadungan, kita sering. KPK gadungan, dan yang gadungan-gadungan lainnya. Ditelusuri lagi, pekerjaan gadungan yang lebih banyak porsi pada kerja-kerja ngibulin, membohongi, dusta, dan tidak amanah memang menjadi fenomena yang akrab dialami negeri ini. Meski fenomena itu menjadi cermin di wilayah lain.
Tapi, bagaimana kita mau menegakkan kejujuran, jika perilaku negarawan kita masih jauh dari yang kita harapkan. Mereka dusta demi kekuasaan dan kepentingan kelompok, bahkan pribadi. Maka suatu kewajaran barangkali jika mendapati ada polisi Gadungan yang bergentayangan.
Hanya nasib mereka yang berbeda. Yang satu-kata si Tukul Arwana-rejeki kutho (kota), dan yang satunya rejeki ndeso. Hmm… prihatin ya…
Asyik Pacaran, Diperas Polisi Gadungan
Rabu, 22 April 2009 | 09:15 WIB
MALANG, KOMPAS.com - Bermodal tubuh tinggi besar dan rambut pendek, Bahri (26), warga Madyopuro, Kecamatan Kedungkandang, Malang, mencoba mencari peruntungan. Korbannya, pasangan muda-mudi yang kerap berpacaran di kawasan velodrome, sirkuit sepeda balap.
Beberapa pasangan yang asyik bermesraan di lokasi yang gelap tanpa penerangan didatanginya. Bahri dengan gaya meyakinkan mengaku sebagai petugas Polresta Malang. Ia meminta kartu identitas para muda-mudi itu dan memeras sejumlah uang atau barang berharga. Jika tidak dikasih uang, Bahri mengancam membawa para sejoli itu ke Polresta Malang.
Namun, aksi premanisme ini terbongkar. Salah satu korban melapor ke Polsekta Kedungkandang yang kemudian menangkap Bahri akhir pekan lalu. “Dia mengancam akan membawa saya sama pacar saya ke Polresta kalau tidak memberikan uang. Karena tidak membawa uang, saya kasihkan ponsel,” kata Rizal, salah satu korban Bahri, Selasa (21/4).
Continue reading Asyik Masyhuk Kencan, Diperas Polisi Gadungan…
Hanya Dihargai ‘Sebuah Pemberitahuan’ Depdiknas
20 April 2009 at 1:38 pm | In Pendidikan-Humaniora | Leave a CommentTags: beasiswa, iklan pendidikan, mahasiswa, Pendidikan, pendidikan singapura, perguruan tinggi, politik, Sekolah gratis, singapura, universitas
Membaca headline berita kompas pagi ini (Senin, 20/4/09), rasanya kita musti kembali untuk mengelus dada, memperpanjang nafas dan kesabaran kita. Tidak berlebihan jika saya katakan bahwa berita tersebut menyangkut dan ‘mengosek-osek’ harga diri serta ‘aurat’ pendidikan bangsa yang semakin telanjang kemundurannya.
Prihatin memang. Bagaimana tidak? Dalam berita yang diulas panjang lebar tersebut, telanjang sekali pemerintah kita terlihat ‘pasrah’ oleh adanya aksi ‘bajak’ perguruan tinggi sejumlah negara lain (baca: Singapura) yang mengincar para ‘genius’ kita. Mereka berani menantang ’si otak-otak cerdas kita’ dengan memberikan ‘iming-iming’ biaya kuliah (tuition grant) sebesar 15.000 dollar Singapura (sekitar Rp 112,5 juta per tahun) atau pinjaman bank tanpa agunan untuk biaya kuliah.
Padahal, kita tahu memasuki universitas-universitas mereka tidaklah gampang. Karena, perguruan tinggi di negeri kanguru ini merupakan perguruan top dunia. National University of Singapore, misalnya. Universitas yang memperoleh peringkat ke-30 dunia dalam pemeringkatan Times Higher Education 2008 ini setiap tahunnya menerima mahasiswa cerdas dari negeri kita sekitar 80-100 orang per tahun.
Beda lagi dengan NTU (Nanyang Technological University), yang termasuk peringkat ke-77 dalam daftar Times Higher Education 2008, setiap tahun ada 100-150 mahasiswa baru asal Indonesia.
Setelah lolos dalam seleksi, baru calon mahasiswa asing semuanya ditawari tuition grant dari Pemerintah Singapura yang besarannya sekitar 15.000 dollar Singapura atau sekitar Rp 112,5 juta per tahun.
eitt… sebentar.
Continue reading Hanya Dihargai ‘Sebuah Pemberitahuan’ Depdiknas…
Bohong
17 Februari 2009 at 6:48 pm | In Kamar Curhat, Pendidikan-Humaniora | Leave a CommentTags: amanah, bohong, Caleg, kepercayaan, obral janji, pembeli, penjual
Tiba-tiba saya ingin membelejeti tema itu. Entah karena apa, tapi yang jelas, bahwa sifat seperti ini yang sering kita jumpai, alami, atau bahkan kita sendiri pernah melakukannya. Dengan beragam alasan, saya, anda dan kita membohongi orang lain.
Ceritanya begini:
“Orang ini kok punya gelagat yang gak baik ya”, tanyaku dalam hati, sambil memilah-milah buah yang akan saya beli di satu kesempatan.
Dari omongannya, sudah kelihatan kalau penjual ini tak jujur. Dia promosikan kalau buah nya itu adalah nomor 1, unggul, manis, paling baik deh pokoknya.
“saestu mas, kulo mboten ngapusi”, belanya dengan logat jawa, yang berarti: sumpah deh, saya gak bohong.
Su’udzonku sejenak saya coba redam sambil melihat wajahnya yang rada memelas. Memang seringkali, saya tertipu soal citra para penjual yang memelas, namun menyimpan sejuta niat untuk berbohong pada para pembelinya.
Jaipong yang Bikin ‘Terangsang’ Gubernur
9 Februari 2009 at 7:00 pm | In Pendidikan-Humaniora, Sosial | 9 CommentsTags: 3g, goyang, Jaipong
Ada-ada aja Gubernur kita satu ini, sudah mulai nakal kali ya, mulai ‘campur tangan’ mulai ‘terangsang’ ngelihat goyangan bahenol para penari jaipong, hingga jengah, lalu keluarlah ‘AH’:
Pembatasan Jaipong
Goyang “Bujur” yang Bikin Risih Gubernur
Jakarta – “Goyang Mang”, sapaan Putri Malam ini sempat akrab di telinga masyarakat pemirsa televisi tahun 2000-an. Setelah menyapa, Sang Putri Malam lalu bergoyang mengikuti rampak gendang jaipong.
Melly Zamri, sosok di balik topeng Sang Putri Malam mengaku, dalam bergoyang ia sering berimprovisasi. Tapi tentunya tidak terlepas dari ketukan gendang jaipong yang jadi dasar setiap gerakannya.
Lantas bagaimana jika goyang, gitek, dan geol atau 3G yang jadi ciri jaipong itu dibatasi? “Tentu tidak akan maksimal. Karena ketiga gerakan itulah yang menjadi ciri khas jaipongan. 3G itu ruh dari jaipongan,” kata Melly Zamri saat berbincang-bincang dengan detikcom.
Kisah JUSTISIA yang Bengal
31 Januari 2009 at 6:33 am | In Kamar Curhat, Pendidikan-Humaniora | 7 CommentsTags: Bengal, Justisia, kampus, LPM, Pers
Hari masih pagi, tapi dering SMS sudah berbunyi. Di seberang sana, nama “Syarung”-angkatan seniorku di kampus IAIN Semarang dulu-menuliskan pesan.
Pesannya kurang lebih begini: “Suara Merdeka 31/1/09.hal-M: “Pers Kampus, si ‘Anak Bengal’”. Mengulas Justisia, sebagai Persma y progresif”
Hmm…segera saja aku cek di internet. Betul ternyata.
Haaa, jadi ingat masa-masa dulu, Lembaga Justisia ini memang salah satu tempat prihatinku dulu bersama sahabat-sahabat lain di IAIN Walisongo Semarang.
Sejak mengembara ke Jakarta, kini aku hanya bisa memantau perkembangannya dari informasi telephone, sms temen, dan termasuk koran atau internet.

Jurnal Justisia
Agak berbangga sih, membaca isi liputannya. Seolah menguak romantisme betapa rekosonya saat-saat menimba ilmu: diskusi, menulis, membaca, menceri berita dan bercerita porno antar sesama (bukan jenis, he he…) kawan. Wah, macam-macam.
Kini, temen-temen satu angkatanku (2001) yang di Justisia sudah berpisah. A. Khoirul Umam (di Australi), Tedi Kholiludin (UKSW), Iman Fadhilah (dosen IAIN, yang mau nikah), Maskin, Qonik H. M, Muasyaroh, Siti Asfiyah, Ali Masturi, dan lainnya. Semuanya, memang sudah terpisah oleh jarak. Namun, ikatan emosionalnya masih terasa jelas dan hangat.
Adapun senior-senior Justisia juga tak kalah. Kita bisa melihat Kang Su(Manto) di negerinya Obama sana, Kang Rumadi, Mas Ingwuri Handayani yang masih setia mondok di Desantara, Kang Aziz Hakim yang ‘mbuntut’ ke Mba Yenni, Kakek Tholhah, dan lainnya.
Pokoknya Justisia-kata iklan rokok-memang punya Taste…
Maka untuk saling menjaga komunikasi antara kita, silakan bergabung di milis Justisia: justisianetwork@yahoogroups.com atau menghubungi admin Sdr M. Nasiruddin (081542036039)
Berikut ini saya lampirkan berita dari Suara Merdeka: (atau baca versi online)
Apa Lagi Neh; SPP Nunggak, OUT
11 Desember 2008 at 10:58 am | In Pendidikan-Humaniora | Leave a CommentTags: kritik, pemerintah, Pendidikan-Humaniora, SPP nunggak
Heran, prihatin, sedih, campur marah saya membaca berita di www.okezone.com. Mari kita simak:
Telat Sehari Bayar SPP, Siswa Dilarang Ujian
Kamis, 11 Desember 2008 – 14:41 wib
BOGOR – Hanya gara-gara telat membayaran SPP satu hari, seorang siswa kelas 1 SD Eka Wijaya, Cibinong dikeluarkan dari ruang kelas oleh pihak sekolah.
Akibatnya, bocah bernama Rastra Sewa tidak bisa mengikuti ujian sementer. Tak ayal, orang tua bocah ini menggeruduk pihak sekolah lantaran tidak menerima dengan kebijakan yang dinilai tidak manusiawi itu.
Setiawan, orangtua Rastra menyatakan, pihak sekolah tidak memiliki rasa kemanusiaan. Padahal, selaku orangtua saat mendapat informasi tersebut hari itu juga langsung melunasi pembayaran SPP bulan Desember sebesar Rp180.000.
Dia mengatakan selama ini dirinya tidak pernah menerima keterlambatan pembayaran SPP, karena tanggal 10 merupakan batas akhir pembayaran.
“Saya sudah mengikuti auran sekolah sebelum tanggal 10, tapi kenapa anak saya dikeluarkan dari ujian,” tandas Setiawan saat mendatangi sekolah, Kamis (11/12/2008).
Dia menyesalkan tindakan dari sekolah yang gegabah tanpa membicarakan terlebih dahulu masalah tersebut dengan pihak orangtua. (Endang Gunawan/Global/ram)
Belum lagi jika kita melanjutkan untuk membuka tab baru di sini, dan di sini.
Ini sebuah pemandangan yang seringkali mencoreng dunia pendidikan kita. Kenapa para pendidik kita yang seharusnya memahami kondisi (apapun, termasuk ekonomi) anak didik, tega mengusir dari area kelas.
Saya lantas membuka-buka file-file berita yang sejenis itu. Astaghfirullah, sungguh banyak kasus-kasus serupa ternyata. Masih ingatkah kita dengan kasus Eve Natalia Chrisna (15) di akhir tahun 2007. Siswa SMP Yayasan Sekolah Kristen Indonesia (YSKI) Semarang ini mengakhiri hidupnya dengan gantung diri di depan adik bungsunya. Gara-gara malu belum membayar uang sumbangan penyelenggaraan pendidikan atau SPP selama tiga bulan. (baca beritanya).
Kejadian seperti ini sepantasnya tidak boleh terjadi. Apalagi hanya karena aturan Yayasan yang tak manusiawi dan humanis itu. Kenapa hanya karena telat membayar SPP harus kaku mengeluarkannya? Apakah tidak ada upaya kekeluargaan serta sikap yang lebih manusiawi lainnya.
Kita semua harus prihatin bahwa tujuan utama pendidikan ternyata terkalahkan oleh aturan sebuah Yayasan Kecil, dan alasan Ketakutan tak berarti tak bisa membayar gaji para pendidik jika siswa tak bayar SPP. Ini sebuah pelecehan terhadap pendidikan.
Semoga pihak pemerintah memperhatikan ini sebagai satu cambuk untuk kita lebih maju.
Dua arah
Kita bisa kritik hal ini dari dua arah. Yang pertama, Upaya pemerintah selama ini dalam rangka memajukan pendidikan. Terlebih UU di negeri ini telah mematok anggaran pendidikan sebesar 20%. Tentu ini menjadi pertanyaan besar ketika ada kasus pengeluaran siswa dari ruang kelas dan tidak bisa ikut ujian hanya karena masalah ekonomi.
Kedua, tentu kita sudah bisa menduga, bahwa analisa kemiskinan warga kita masih tetap tak beranjak dari lubang ketidakmampuan. Sangat kontras sekali dengan cerita manis para elite yang tengah membanggakan diri serta rezimnya yang berhasil mensejahterakan rakyat kita selama 5 tahun ini. Mana buktinya?
Lha wong warga kita mbayar SPP saja masih ada yang musti puasa Senin-Kamis, gali lobang tutup lobang, alias utang sana-sini.
Semoga kasus ini menjadi perhatian kita bersama untuk bisa lebih melihat lebih dalam bagaimana sistem pendidikan kita serta kemajuan ekonomi masyarakat kita yang masih sangat lamban berjalan.
Ketika Penculikan Anak Berdalih (Pendirian) Negara
28 Agustus 2007 at 10:30 am | In Agama-agama, Pendidikan-Humaniora, Sosial | Leave a CommentTags: agama, anak, dalih, negara, penculikan
Ketika Penculikan Anak Berdalih (Pendirian) Negara
Tak seperti biasanya, berita penculikan anak beberapa hari terakhir ini mencuat ramai setelah adanya kabar hilangnya Raisah Ali (5), putri salah satu Ketua Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIMPI) Ali Said, pada Rabu (15/8) siang, selepas pulang sekolah.
Publik seolah terhipnotis mendengar kabar penculikan ini. Semua mata tertuju pada keluarga Ali Said, yang tengah tertimpa musibah, kehilangan putrinya. Presiden pun kemudian menyempatkan diri untuk memberikan press conference dan memberikan himbauan pada para penculik agar segera menyerahkan putri pasangan Ali Said-Nizmah Mucksin Thalib itu. Walhasil, setelah disekap kurang lebih sembilan hari, Raisah dapat dibebaskan pada Jum’at silam.
Komisi Nasional (komnas) Perlindungan Anak, dalam laporannya menyebutkan bahwa munculnya kasus penculikan yang marak terjadi akhir-akhir ini mempunyai banyak tujuan berikut motifnya. Kasus terakhir yang dialami oleh keluarga Ketua Himpunan Pengusaha Muda Indonesia, Ali Said, menurut Komnas Perlindungan anak masuk dalam kategori bermotif ekonomi.
Sementara itu, Komnas juga mengurai motif lain selain ekonomi, yakni perdagangan anak. Untuk motif ini, lazimnya yang menjadi sasaran adalah mereka yang tergolong secara ekonomi berada pada tingkat menengah ke bawah.
Nah, dua motif tersebut setidaknya kini tengah marak terjadi di beberapa daerah, khusunya ibukota Jakarta. Bahkan laporan terbaru Komnas membeberkan adanya 50 kasus penculikan anak mulai Januari hingga pertengahan tahun 2007. Dan ditengarai jumlah aduannya akan merangkak naik hingga akhir tahun 2007 dibanding tahun sebelumnya (2006) yang tercatat 87 kasus.
Motif Baru?
Dari beberapa kasus penculikan anak yang telah terbongkar akhir-akhir ini, motifnya memang bermacam-macam. Dari mulai motif ekonomi (minta uang tebusan, atau diperdagangkan), sampai pada motif persaingan pribadi, perebutan hak asuh anak, bisnis, dan dendam.
Namun untuk kasus penculikan yang dialami oleh Raisah, ada hal yang menarik untuk dibahas, dan menjadi percikan wacana yang—bisa jadi—cukup sensitif; motif agama.
Munculnya desas-desus ini berawal dari pengakuan sang penculik yang berinisial ‘BH’ (Budi Haryanto, pen) yang mengakui bahwa alasan penculikan yang dilakukannya bersama teman-temannya itu adalah bermotif—pendirian—negara (baca: agama, Syari’at Islam). Benarkah demikian?
Rasanya, memang sulit untuk mengindentifikasi motif penculikan ini pada derivasi ranah negara dan agama, atau dalam hal ini adalah upaya penegakan syari’at islam. Namun setidaknya, dalam catatan sejarah, penulis menemukan beberapa alur pikir dan gerakan yang setidaknya senada dan bermotif sejenis.
Erich Hobsbawn, misalnya. Ia mengawali dengan membahasakan Social Movement dalam bukunya “Primitive Rebels” (Peter Burke, History and Sosial Theory, New York: Cornell University Press, 1996). Erich menguraikan gerakan sosial ini lahir salah satunya sebagai reaksi terhadap perubahan yang sedang terjadi. Terbukti, gerakan sosial yang paling lazim adalah gerakan sosial yang bertipe “reaktif” dan “melawan”, terutama gerakan rakyat yang menuntut perubahan ekonomi atau sosial (termasuk kepercayaan/agama) yang mengancam cara hidup yang berlaku dan mereka yakini kebenarannya. Untuk kasus di Indonesia (juga di beberapa negara Muslim), kita mengalami bagaimana muncul gerakan sosial yang merupakan perlawanan dan resistensi terhadap perubahan sosial yang terjadi dengan mengusung simbol-simbol agama secara ekstrem.
Sementara itu, aplikasi gerakan sosial yang lebih konkret dan kentara juga terjadi di Indonesia. Masih ingatkah kita dengan sebuah peristiwa perampokan yang dilakukan oleh Warman, seorang Komandan (pimpinan) Jihad di penghujung tahun 1970-an dan awal 1980-an. Pada 1 Maret 1979, suatu tim pimpinan Warman ini berhasil merampok mobil yang membawa gaji pegawai IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Namun kemudian upaya kedua untuk melakukan aksi perampokan di IKIP Malang gagal. Aksi perampokan ini dipijakkan kelompok Warman pada konsep Fa`i, yakni pengumpulan dana perjuangan lewat penyerangan terhadap musuh-musuh Islam. Pada penghujung 1980, Komando Jihad Warman dihancurkan oleh petugas keamanan. Warman sendiri tertembak pada 23 Juli 1981 di Soreang, Jawa Barat (lihat dalam Taufik Adnan Amal & Samsu Rizal Panggabean: Politik Syari’at Islam, dari Indonesia hingga Nigeria).
Menurut penjelasan Pemerintah, gerakan mirip terorisme yang dikenal dengan ‘Teror Warman’ ini bertujuan untuk membentuk “Dewan Revolusi Islam Indonesia”. Mereka menentang Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945. Meski agenda jangka pendeknya adalah memberangus ajaran dan orang-orang penganut komunisme, namun dalam agenda jangka panjangnya, mereka berkeinginan mendirikan daulah islamiah Indonesia (Negara Islam Indonesia).
Yang pasti, varian-varian gerakan sosial—seperti yang dibahasakan oleh Erich—yang berbuntut tindakan teror, pembunuhan, penculikan hingga pemberontakan terhadap keutuhan NKRI dan semacamnya, jauh hari telah muncul sebagai realitas sejarah.
Waspada Sejak Dini!
Untuk mengaitkan antara kasus penculikan yang dialami oleh Raisah dengan konsep teoritis dan data sejarah di atas, barangkali agak kesulitan dan terkesan mengada-ada. Namun apa kita salah jika kemudian melakukan satu pencegahan preventif? Apalagi dalam kasus penculikan putri Said Ali beberapa hari lalu itu, salah seorang pelaku penculiknya melontarkan pernyataan yang provokatif dan cenderung bernada ‘reaktif’ dan ‘melawan’: dengan mengatakan bahwa motif penculikan dan pemerasan yang dilakukan kelompok mereka adalah motif negara.
Tampaknya tidak terlalu salah jika wacana penculikan yang akhir-akhir ini bergulir perlu kita waspadai nilai efeknya di kemudian hari. Untuk tidak kecolongan yang kedua kali pasca serangkaian tindakan keji berupa pengeboman, dan tindakan teror pada masyarakat, kita wajib menanamkan logika kecurigaan pada setiap kasus yang bisa mengarah pada tindakan yang merongrong stabilitas keamanan di masyarakat.
Orang boleh menilai jika aksi penculikan yang dilakukan oleh Yogi Permana (27), Anggana (26), Budi Haryanto (18), Januar (18), dan Firmando (19) terhadap diri Raisah adalah bermotif ekonomi. Namun juga tidak terlalu salah jika unsur kewaspadaan bahwa gerakan YP dkk di atas kemudian justru berujung pada rangkaian jejaring terorisme yang lebih luas, alias “terorisme gaya baru”.
Sampai di sini, penulis hanya ingin mengingatkan bahwa pola gerakan dan aksi yang dilakukan oleh para penculik (Yogi Cs) ini memang menarik, karena di samping menyembulkan isu ekonomi juga menyembulkan isu-isu sensitif tentang ideologi pendirian negara (baca: agama). Dan dari isu yang sensitif inilah perlu ada satu klarifikasi secara ilmiah juga.
Badan Intelejen Nasional (BIN) telah mengingatkan pada kita bahwa ancaman teror, gangguan keamanan, hingga pembunuhan yang disingkap akan menimpa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan keluarganya juga sebagai rangkaian tindakan aksi teror yang merongrong keutuhan negara dan kemanan masyarakat.
Akhirnya, kita tidak ingin stabilitas Negara Indonesia yang kini tengah diuji dengan berbagai macam permasalahan bangsa (kekerasan dan terorisme) akan semakin sakit oleh akutnya masalah bangsa yang diderita—Lewis Coser (1956). Semoga. Wallahua’lam. [wrf]
Blog pada WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.







