Gus Dur Serukan Muktamar PKB 2010 Februari

1 November 2009 at 12:03 pm | In Gus Dur Thought, News hangat | 1 Comment
Tags: , , , , ,

Gus Dur saat Jumpa Pers, didampingi oleh Kiai Maman Imanul Haq

Penindasan pemerintah terhadap kepemimpinan KH. Abdurrahman Wahid di PKB (partai kebangkitan bangsa) tak membuat surut langkah dan menyerah. Cucu pendiri NU ini nyatanya masih punya harapan besar dan kekuatan untuk menggerakkan nafas partai.

Setelah didzolimi oleh pemerintah berkali-kali dalam kurun waktu 2 tahun ini, Gus Dur ingin menegaskan bahwa PKB harus mengadakan Muktamar pada 2010 awal. Dalam keputusan rapat Pleno di Kantor PKB pada 28 Oktober lalu, Gus Dur menyatakan bahwa dirinya sejatinya telah didesak oleh kiai-kiai untuk segera mengadakan Muktamar di PKB

”Justru kia-kiai mendesak minta sekarang saja” ujar Gus Dur.

Dan kemudian statemen ini kembali di sampaikan dalam keterangan Pers di Kantor PBNU kemarin (29/10). Dengan didampingi oleh sejumlah Kiai seperti Kiai Maman Imanul Haq dan Pengurus Dewan Syura, Ketua Umum Dewan Syura DPP PKB itu mengaku siap mengadakan Muktamar III pada Februari 2010 atau satu bulan setelah pelaksanaan Muktamar NU. “Sebenarnya kiai-kiai yang datang sudah minta saya untuk mempercepat saja. Tapi, memang lebih baik setelah NU,” ujar Gus Dur saat memberikan keterangan pers di Kantor PB NU, Jl Kramat Raya, Jakarta, kemarin (31/10).

Menurut presiden ke-4 RI itu, para kiai merasa prihatin atas kondisi PKB saat ini. Partai berlambang bintang sembilan itu dianggap terlalu bergantung pada penguasa. PKB, kata Gus Dur, juga makin kehilangan jati diri sebagai partai yang tumbuh dari gerakan moral. “Intinya, partai ini perlu diselamatkan,” tandas Gus Dur.

Aturan di internal PKB memiliki keunikan tersendiri. Tidak seperti partai lain pada umumnya, pada Muktamar II Semarang lalu ditetapkan dua mandataris. Yaitu, Muhaimin Iskandar sebagai ketua umum Dewan Tanfidz dan Gus Dur sebagai ketua umum Dewan Syura. Dualisme kepemimpinan inilah yang dianggap sebagai salah satu pemicu konflik selama ini.

Selengkapnya, berikut ini beritanya:

Continue reading Gus Dur Serukan Muktamar PKB 2010 Februari…

Jalan Menuju Demokrasi

23 Juni 2009 at 6:47 pm | In Demokrasi, Gus Dur Thought | Leave a Comment
Tags: , , , , , , , , , , , , , , ,

Kolom Gus Dur kali ini berjudul “Jalan Menuju Demokrasi”. Diunduh dari Harian Seputar Indonesia. Berikut tulisan lengkapnya:

Jalan Menuju Demokrasi

Tuesday, 23 June 2009

PENULIS begitu terkejut melihat peristiwa pascapemilihan umum di Iran. Karena apa yang terjadi di Iran dewasa ini, seperti peniruan ketika Indonesia masih dipimpin oleh Pak Harto.
Namun,di balik hal itu ada perkembangan sangat menarik, ketika Mir Hosseini Mousavi ternyata meneruskan upaya yang dirintisnya selama ini. Ia mengajukan protes atas tindakan-tindakan Dewan Penyelamat Revolusi Islam Iran yang dipimpin oleh Ayatullah Ali Khamaeni yang juga ulama besar. Di masa pemerintahan Pak Harto, semua peraturan dan Undang-Undang Pemilu dibuat untuk memenangkan pihak Golongan Karya (Golkar).

Perbedaan paling mencolok terletak pada kenyataan bahwa Mir Hosseini Mousavi meneruskan demonya untuk menolak pemilu presiden.Ini berbeda dengan kaum yang menginginkan demokrasi di negeri kita. Kini mereka tidak mau meneruskan secara terbuka langkah ke arah itu.Paling jauh,kaum minoritas yang sering meminta agar penulis artikel ini, bersedia melindungi mereka jika diancam orang lain, baik dari pemerintahan maupun di luar pemerintahan. Tentu saja ini sangat sesuai bahwa ada mayoritas membisu (silent majority) dalam kondisi ini.
Continue reading Jalan Menuju Demokrasi…

Biografi Abdurrahman Wahid

21 April 2009 at 5:32 pm | In Gus Dur Thought | 7 Comments
Tags: , , , ,

LatarBelakangKeluarga

Gus Dur

Gus Dur

Abdurrahman “Addakhil”, demikian nama lengkapnya. Secara leksikal, “Addakhil” berarti “Sang Penakluk”, sebuah nama yang diambil Wahid Hasyim, orang tuanya, dari seorang perintis Dinasti Umayyah yang telah menancapkan tonggak kejayaan Islam di Spanyol. Belakangan kata “Addakhil” tidak cukup dikenal dan diganti nama “Wahid”, Abdurrahman Wahid, dan kemudian lebih dikenal dengan panggilan Gus Dur. “Gus” adalah panggilan kehormatan khas pesantren kepada seorang anak kiai yang berati “abang” atau “mas”.

Gus Dur adalah putra pertama dari enam bersaudara yang dilahirkan di Denanyar Jombang Jawa Timur pada tanggal 4 Agustus 1940. Secara genetik Gus Dur adalah keturunan “darah biru”. Ayahnya, K.H. Wahid Hasyim adalah putra K.H. Hasyim Asy’ari, pendiri jam’iyah Nahdlatul Ulama (NU)-organisasi massa Islam terbesar di Indonesia-dan pendiri Pesantren Tebu Ireng Jombang. Ibundanya, Ny. Hj. Sholehah adalah putri pendiri Pesantren Denanyar Jombang, K.H. Bisri Syamsuri. Kakek dari pihak ibunya ini juga merupakan tokoh NU, yang menjadi Rais ‘Aam PBNU setelah K.H. Abdul Wahab Hasbullah. Dengan demikian, Gus Dur merupakan cucu dari dua ulama NU sekaligus, dan dua tokoh bangsa Indonesia.

Pada tahun 1949, ketika clash dengan pemerintahan Belanda telah berakhir, ayahnya diangkat sebagai Menteri Agama pertama, sehingga keluarga Wahid Hasyim pindah ke Jakarta. Dengan demikian suasana baru telah dimasukinya. Tamu-tamu, yang terdiri dari para tokoh-dengan berbagai bidang profesi-yang sebelumnya telah dijumpai di rumah kakeknya, terus berlanjut ketika ayahnya menjadi Menteri agama. Hal ini memberikan pengalaman tersendiri bagi seorang anak bernama Abdurrahman Wahid. Secara tidak langsung, Gus Dur juga mulai berkenalan dengan dunia politik yang didengar dari kolega ayahnya yang sering mangkal di rumahnya.

Sejak masa kanak-kanak, ibunya telah ditandai berbagai isyarat bahwa Gus Dur akan mengalami garis hidup yang berbeda dan memiliki kesadaran penuh akan tanggung jawab terhadap NU. Pada bulan April 1953, Gus Dur pergi bersama ayahnya mengendarai mobil ke daerah Jawa Barat untuk meresmikan madrasah baru. Di suatu tempat di sepanjang pegunungan antara Cimahi dan Bandung, mobilnya mengalami kecelakaan. Gus Dur bisa diselamatkan, akan tetapi ayahnya meninggal. Kematian ayahnya membawa pengaruh tersendiri dalam kehidupannya.

Dalam kesehariannya, Gus Dur mempunyai kegemaran membaca dan rajin memanfaatkan perpustakaan pribadi ayahnya. Selain itu ia juga aktif berkunjung keperpustakaan umum di Jakarta. Pada usia belasan tahun Gus Dur telah akrab dengan berbagai majalah, surat kabar, novel dan buku-buku yang agak serius. Karya-karya yang dibaca oleh Gus Dur tidak hanya cerita-cerita, utamanya cerita silat dan fiksi, akan tetapi wacana tentang filsafat dan dokumen-dokumen manca negara tidak luput dari perhatianya. Di samping membaca, tokoh satu ini senang pula bermain bola, catur dan musik. Dengan demikian, tidak heran jika Gus Dur pernah diminta untuk menjadi komentator sepak bola di televisi. Kegemaran lainnya, yang ikut juga melengkapi hobinya adalah menonton bioskop. Kegemarannya ini menimbulkan apresiasi yang mendalam dalam dunia film. Inilah sebabnya mengapa Gu Dur pada tahun 1986-1987 diangkat sebagai ketua juri Festival Film Indonesia.

Continue reading Biografi Abdurrahman Wahid…

Anggap Hasil Pemilu Brengsek, Gus Dur Minta Pemilu Diulang

13 April 2009 at 2:57 pm | In Gus Dur Thought | Leave a Comment
Tags: , , , , ,
GD Pics

GD Pics

Minggu, 12/04/2009 14:55 WIB
M. Rizal Maslan – detikPemilu

Jakarta – Mantan Presiden Indonesia KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) geram dengan hasil pemilihan umum (Pemilu) 2009 kali ini yang dianggapnya brengsek dan curang. Makanya, Ketua Umum Dewan Syuro DPP PKB ini akan menggalang kekuatan untuk menolak hasil pemilu. Ia pun minta pemilu ulang.

Demikian disampaikan Gus Dur usai menghadiri deklarasi Cawapres Emir Soendoro dan pembukaan pameran lukisan di Jl Imam Bonjol No 4, Menteng, Jakarta Pusat, Minggu (12/4/2009). Berikut petikan wawancara Gus Dur dengan sejumlah wartawan usai acara tersebut.

Bagaimana Tanggapan Gus Dur tentang hasil Pemilu sekarang?

Brengsek…

Brengsek kenapa Gus?

Ya, karena KPU (Komisi Pemilihan Umum) nggak siap.

Continue reading Anggap Hasil Pemilu Brengsek, Gus Dur Minta Pemilu Diulang…

Gus Dur dan Politik Segala Arah

24 Maret 2009 at 5:53 pm | In Atikel Pilihan Media, Gus Dur Thought | 3 Comments
Tags: , , ,

Lama menoreh jeda, saya mencoba membuka ide untuk bermain kata. Susah juga kalau kita sejenak menaruh ide hingga terbiarkan diam. Untuk memancingnya tampaknya perlu ‘teriakan’ yang lebih ekstrim dan greget.

Sambil menikmati kesusahan itu, iseng membuka-buka portal berita, ketemu tulisan yang tampaknya menarik. Nyambung dengan situasi perpolitikan kontemporer. Langsung saja tulisan ini saya kutip seluruhnya dari harian Suara Merdeka (rubrik Wacana) sebagai satu refleksi yang kiranya pas dengan rubrik “Gus Dur Thought” di blog ini. Selamat membaca.

Politik Segala Arah Gus Dur

  • Oleh Hamdan Daulay

Gus Dur

Gus Dur

HARAPAN utama partai politik dalam setiap kali pemilu adalah untuk mendapatkan dukungan suara sebanyak mungkin, agar mereka bisa meraih kursi legislatif. Untuk mewujudkan harapan itu berbagai cara –mulai dari pemasangan iklan politik lewat media massa, memberi janji manis lewat kampanye, bantuan uang kepada masyarakat, hingga bersilaturahim dan mohon doa restu kepada tokoh-tokoh masyarakat– pun dilakukan.

Para tokoh masyarakat, seperti kiai yang memiliki pesantren dan ribuan santri, menjadi langganan yang biasa dikunjungi politikus pada musim kampanye. Elite politik begitu cerdas memanfaatkan berbagai peluang untuk mendapatkan dukungan massa. Apalagi kalau ada partai politik yang dilanda konflik internal, menjadi kesempatan bagi partai lain mendapatkan dukungan suara dari mereka yang tidak terakomodasi dalam konflik internal partai itu.

Di tengah ketidakharmonisan suasana politik di tubuh Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dengan keberadaan kubu Gus Dur dan Muhaimin, membuat para elite politik di Tanah Air berlomba meraih simpati Gus Dur dan pendukungnya.

Continue reading Gus Dur dan Politik Segala Arah…

Gus Dur Somasi Ikhsan

24 Februari 2009 at 9:10 pm | In Gus Dur Thought | Leave a Comment
Tags: , , , , ,
Somasi GD1

Somasi GD1

Somasi GD2

Somasi GD2

Saya mendapatkan dua lembar surat dari seorang teman, yang kelihatannya berisi sangat serius. Setelah saya baca, ternyata isinya berupa Somasi Gus Dur (KH. Abdurrahman Wahid) terhadap salah satu caleg (calon legislatif) yang mencalonkan diri lewat PKB versi Muhaimin Iskandar. Siapa caleg ini, mantan ketua Lakumham DPP-PKB, H. Ikhsan Abdullah, SH., MH.

“ini teguran terakhir”, kata teman saya itu.

“dia ini sangat mbandel. Gus Dur sudah instruksikan untuk tidak memasang gambar dia, tapi kok yo masih saja memberanikan diri untuk nampang di bawah nama besar Gus Dur. Ngerti hukum gak sih dia?”, tambahnya kesel.

Dia juga menyatakan bahwa Gus Dur telah melayangkan surat berupa instruksi yang melarang dengan keras penggunaan foto maupun gambar dan suaranya dalam seluruh kegiatan Muhaimin Iskandar dan jajarannya (termasuk para caleg-calegnya). Instruksi itu tertuang dalam Surat Nomor: 3750/DPP-01/IV/A.1/XI/2008, tertanggal 3 November 2008 tentang Instruksi Ketua Umum Dewan Syura DPP-PKB.

Salah satu Spanduk Ikhsan di Brebes, tepatnya di samping Pos Polisi Pejagan.

Salah satu Spanduk Ikhsan di Brebes, tepatnya di samping Pos Polisi Pejagan.

Bahkan, beberapa waktu lalu, imbuhnya, saat deklarasi Gatara di Kabupaten Tegal, Gus Dur, sempat berpapasan dengan mobil saudara Ikhsan, yang telah berubah wajah begitu apik dengan gambar dirinya bersanding mesra dengan Gus Dur.

Hmm… ini memang rumit. Saya sendiri sempat berpikir, bahwa kalau konflik ini berlanjut terlalu lama, bisa-bisa tak akan produktif untuk pembangunan bangsa ke depan. Meski ini sebagai pertikaian internal partai. Namun, saya yakin, ada pengaruhnya bagi sistem kenegaraan kita, dan keberlangsungan bangsa ini untuk terus tersenyum, meski pahit.

“Sampai kapan sih, konflik partai berlambang bintang sembilan ini akan berakhir mas”, tanya seorang awam kepada saya.

Kita tengah sama-sama menunggu jawaban atas pertanyaan orang itu.

NB: bagi yang ingin download surat GD tersebut, silakan klik di sini

Continue reading Gus Dur Somasi Ikhsan…

Kerja Besar Kita ke Depan

12 Februari 2009 at 5:34 pm | In Gus Dur Thought | Leave a Comment
Tags: , , , , , , ,

Masih seputar tema yang berdekatan dengan postingan sebelumnya, hari ini Gus Dur Juga menuliskan kolom tentang perlunya kerja-kerja dialog dan pemberian ruang ekspresi bagi ‘the others’, yang lain, dan ‘yang berbeda’ dari kita:

Kolom Gus Dur

Kerja Besar Kita ke Depan

Thursday, 12 February 2009

Kerja Besar Kita ke Depan (capture)

Kerja Besar Kita ke Depan (capture)

KITA dibuat tertegun dengan kenyataan bahwa dalam proses pembangunannya bangsa ini didominasi orang kaya/elite.Tidak punya uang, maka harus “mengalah” dari mereka yang lebih beruntung.
Pendidikan dan sebagainya hanya menganakemaskan mereka yang kaya.

Dikotomi kayamiskin ini berlaku di hampir semua bidang kehidupan. Nah, bagi mereka yang merasa tertinggal, mengakibatkan munculnya rasa marah dan dendam.Pemerintah turut bersalah dalam hal ini,karena mengambil pihak yang salah untuk dijadikan panutan.

Untuk menutupi hal itu, lalu mereka mengambil sikap yang juga salah, yaitu membiarkan salah pengertian satu sama lain antarkelompok melalui politik yang berat sebelah. Contohnya, dibiarkan saja suara berdengung dari garis keras yang meminta pembubaran kelompok minoritas, tanpa memberikan pembelaan kepada mereka.

Continue reading Kerja Besar Kita ke Depan…

Hakikat Semangat Kebangsaan Kita

11 Februari 2009 at 8:52 pm | In Gus Dur Thought | 3 Comments
Tags: , , ,

Berikut ini untuk melengkapi kategori Gus Dur Thought, saya unduh kolom Gus Dur yang diterbitkan oleh Koran Seputar Indonesia (edisi Rabu, 11 Februari 2009):

Hakikat Semangat Kebangsaan Kita

Wednesday, 11 February 2009

Kolom Gus Dur hasil Capture/Snapshot

Kolom Gus Dur hasil Capture/Snapshot

KETIKA pada 1933, KH M Hasjim Asy’ari Tebuireng (Jombang) memerintahkan putra beliau, KH Wahid Hasjim, yang baru pulang dari Tanah Suci, Mekkah untuk mempersiapkan Muktamar ke-9 NU di Banjarmasin (Borneo Selatan); pertanyaan tentang kebangsaan lalu muncul.

Dijawab oleh beliau,bahwa kita memerlukan pembahasan terus-menerus antara ajaran agama Islam dan paham kebangsaan/nasionalisme tersebut. Lalu menjadi jelaslah, bahwa di negeri ini,ajaran agama Islam tidak bisa lepas dari faktor kebangsaan tersebut.

Sebab,mayoritas anak bangsa tidak biasa berjuang terlepas dari paham kebangsaan/nasionalisme. Sebab,hal itu memang sudah lama dilakukan. Wangsa Syailendra dari Buddhis di Sumatera sudah merasakan masalah tersebut sejak abad ke-6 Masehi.

Continue reading Hakikat Semangat Kebangsaan Kita…

Gus Dur Tolak Fatwa Haram Golput

27 Januari 2009 at 7:43 am | In Gus Dur Thought | 4 Comments
Tags: , , , ,

Mencermati, wacana fatwa haram golput, berikut ini penulis unduh langsung dari situs berita Antara, tentang sikap dan reaksi Gus Dur terhadap hasil ijtima’ para ulama di MUI.

Jakarta  (ANTARA News) – Mantan Presiden KH Abdurrahman Wahid atau lebih akrab disapa Gus Dur menolak fatwa haram bagi orang yang tidak menggunakan hak pilih atau golongan putih (Golput) yang dikeluarkan Majelis Ulama Indonesia (MUI).

“Saya menolak sikap beberapa orang atau yang mengatasnamakan institusi MUI yang mengeluarkan fatwa haram bagi yang tidak memilih dalam Pemilu 2009,” kata Gus Dur di Jakarta, Selasa.

Gus Dur beralasan, hingga kini Komisi Pemilihan Umum (KPU) selaku penyelenggara Pemilu tidak bekerja dengan baik, bahkan melakukan kecurangan.

Contohnya, dalam Pilkada di Jawa Timur jumlah pemilih yang dipanggil semestinya 42 juta orang, tetapi yang dipanggil cuma 15 juta orang sebagaimana diungkap National Democratic Institute (NDI).

Menurut Gus Dur, kasus serupa kemungkinan juga akan terjadi dalam Pemilu 2009 karena sosialisasi Pemilu yang dinilainya amburadul.

“Jika penyelenggara Pemilu telah ceroboh dalam bekerja, lalu bagaimana nasib demokrasi bangsa kita ke depan?” katanya.

Dengan alasan itulah Gus Dur menegaskan tetap memboikot Pemilu 2009 dengan tidak menggunakan hak pilihnya.

“Saya tetap bersikap memboikot Pemilu untuk tidak memilih,” kata Ketua Umum Dewan Syura Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) tersebut.

Menurut Gus Dur, sikapnya yang memboikot Pemilu merupakan hal yang biasa dalam alam demokrasi yang memungkinkan perbedaan pendapat.

“Kita sekarang sedang diuji untuk belajar berdemokrasi. Jadi beda pendapat merupakan hal yang biasa,” katanya. (*)

Halaman Berikutnya »

Blog pada WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.