Dekonstruksi Paham Konvensional Zakat

14 September 2009 at 11:18 pm | In Islamic Studies | Leave a Comment
Tags: , , , , , , , , , , , , , ,

Realitas kemiskinan tampaknya telah menjadi sepotong kenyataan universal yang akan selalu menjadi ‘teks’ bagi orang-orang yang berpikir. Teks yang meniscayakan tafsir akan kepentingan ekonomi yang timpang, sehingga perlu ada keberpihakan terhadap ‘kelompok pinggir’ ini lewat pemberdayaan ekonomi. Dalam ranah agama, konsep pemberdayaan ekonomi ini acap dibunyikan dengan perintah Zakat.

Menurut M. Quraish Shihab (1997: 323-5), zakat merupakan jenis ibadah yang berkaitan erat dengan harta benda (maliyah). Oleh karena itu, bagi siapa saja (muslim) yang telah memenuhi syarat, sebagaimana yang telah ditentukan syariat, maka dia dituntut untuk menunaikannya, bukan semata-mata atas dasar kemurahan hatinya, tapi kalau perlu ‘dipaksa’ dengan menggunakan kekuasaan.

Sebegitu pentingnya ritual peribadatan ini, sampai-sampai orang banyak yang berlomba untuk menuntaskan ‘hasrat ubudiyah’nya di bulan Ramadhan dengan mendermakan sebagian hartanya kepada orang-orang yang membutuhkan. Pada saat yang sama, kelompok warga yang tergolong miskin telah siap antri untuk menerima sedekah dan pemberian zakat.

Continue reading Dekonstruksi Paham Konvensional Zakat…

SURGA dan PEREMPUAN CANTIK buat BOIM?

13 Agustus 2009 at 1:03 pm | In Agama-agama, Hukum & HAM, Ideologi, Sosial | 4 Comments
Tags: , , , , , , , , , , , , , , , ,

Beginilah nasibnya kalau aksi pengeboman hanya berbekal desakan ‘nafsu jihad’ fi sabilillah secara keliru. Pemakaman jenazah tanpa keluarga, hukuman dan tekanan sosial datang bertubi menghampiri keluarga.

Seperti diketahui, mayat korban yang tewas di Temanggung adalah Ibrohim alias Boim, bukan Noordin M Top. Kepergiannya itu, nyatanya menyisakan sekian masalah dan tanggungan yang tak sepele.

Pertama, beban labelisasi. Labelisasi ini akan segera saja mencari titik tumpunya. Dan tak lain tak bukan keluargalah sebagai pelabuhan terakhir segala cemoohan, pelabelan dan hukuman sosial dari masyarakat. Banyak perbincangan dan sorotan media yang menyoroti keluarga para pelaku terror, sepeninggal mereka.

Tentu ini menjadi beban yang berat bagi keluarga. Terutama bagi yang sudah mempunyai anak dan istri. Mereka jelas tak menginginkan tekanan sosial yang tidak ringan seperti itu. Belum lagi, jika memikirkan masa depan si anak. Bukankah ini menjadi problem tersendiri?

Kedua, beban tanggungan ekonomi. Bagi sosok Boim yang telah mempunyai pekerjaan sebagai florist tentu adalah sebagai bentuk tanggung jawab dan tuntutan sebagai kepala keluarga. Namun, dengan ‘iming-iming akhirat’, surga, dan menjadi ‘pengantin imaginer’ dan segala macam janji-janji khayalan yang lain, Ia rela melepas tanggung jawab itu dengan menukar nyawanya untuk melakukan berbagai macam aksi peledakan bom di sejumlah tempat di tanah air, termasuk niatnya untuk melakukan bom bunuh di diri di kediaman Presiden SBY.

Beban tanggunan lain pun siap menghadang. Sepeninggal Boim, bukan bertambah baik keadaan perusahaan tempat ia bekerja. Justru sebaliknya.

Sejak bom meledak di Hotel JW Marriott dan Ritz-Carlton 17 Juli 2009, teman-teman Ibrohim alias Boim sesama florist menjadi pengangguran. Tempat kerja teroris yang tewas di Temanggung itu ditutup.

Seperti diberitakan di www.detik.com, sepeninggal Boim, tempat kerjanya justru mengalami penurunan aktifitas, bahkan kini telah tutup. Disamping beberapa karyawannya terancam nganggur dan tak punya perkerjaan lagi.

“Sudah sebulan nggak kerja. Katanya ditutup. Sejak kejadian itu (ledakan bom), suami saya sudah tidak kerja lagi. Ya penggangguran,” kata Aar istri Andi Suhandi kepada detikcom, Kamis (13/8/2009).

Andi merupakan teman kerja dan juga pernah satu kos dengan Ibrohim di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan.

Aar mengatakan, semua teman-teman Ibrohim yang bekerja sebagai florist di Ritz-Carlton sudah tidak bekerja lagi. Kalaupun tempat kerjanya masih buka, kemungkinan akan berganti kepemimpinan.

“Ada banyak (yang pengangguran). Mungkin ada 15 orang. Kalaupun masih buka lagi, ya ganti bos,” ujarnya.

Ini adalah bagian dari sekian problem ikutan yang membuntuti kematian sang pelaku terror. Kematiannya dengan cara yang tragis, masa depan keluarga jadi taruhan, dan beban sosial lain menghadang pula. Oh, inikah yang dinaman mati Syahid sebagai pengantin yang akan bahagia di akhirat sana.

Tuhan tentu tak semudah itu memberikan Surga dan ‘perempuan cantik’ buatmu Boim…

Loh, AHMADIYAH Hajinya Ke Mekkah Ya?

12 Agustus 2009 at 9:43 pm | In Demokrasi, Hukum & HAM, Ideologi, Islamic Studies | 37 Comments
Tags: , , , , , , , , , , , ,

Malam ini, saya melihat catatan yang sangat menarik dari Mas Guntur Romli. Dan, saya ambil secara utuh judul dari catatan miliknya itu untuk mengawaki postingan ini. Memang, begitu menggelitik dan menarik, pasalnya, dalam hal ini, Mas Guntur begitu tergelitik oleh sikap pemerintah Saudi Arabia yang Wahabi itu terkait pelarangan Jemaat Ahmadiyah naik Haji.

Kita semua prihatin dengan sikap sekelompok orang melakukan pembatasan seperti ini. Seolah-olah kelompok mainstream ini berusaha memosisikan diri sebagai ”polisi agama” yang melakukan controlling terhadap aliran-aliran keagamaan pinggiran tersebut.

Dan jika Mas Guntur, begitu sopan memandang Pemerintah Indonesia masih waras, toh nyatanya gelagatnya justru mengarah pada hal sebaliknya. Lihatlah komentar Lalu Suhaimi Ismi, Kepala Kantor Wilayah Departemen Agama Provinsi NTB.

Menurut Lalu Suhaimi Ismi, larangan warga Ahmadiyah menunaikan haji datang dari Saudi Arabia dan bukan dari pemerintah (Indonesia).

“Apa urusannya dengan jama’ah Ahmadiyah. Orang Ahmadiyah tidak boleh naik haji sebelum mereka merubah sikap dan kembali kepada ajaran Islam yang benar,” kata Lalu Suhaimi kepada wartawan TV One di Mataram Senin 10 Agustus 2009. (berikut ini beritanya).

Kembali kepada larangan Pemerintah Saudi, jelas ini sebuah pengkebirian hak keberagamaan yang bersifat sangat politis. Tentu, kita semua tidak menginkan hal ini terjadi. Dan refleksi dari Mas Guntur ini layak menjadi catatan bagi pemerintah kita untuk memberikan rasa keadilan bagi temen-temen Jemaat Ahmadiyah. Jangan sampai pemerintah kita ikut-ikutan tidak waras, dan mengambil mentah-mentah seruan Saudi yang Wahabi itu.

Berikut ini catatan yang saya unduh langsung dari Facebook Mas Guntur, Selamat Menikmati:

Loh, Ahmadiyah Hajinya Ke Mekkah Ya?

Saya baru tahu kalau jemaat Ahmadiyah naik haji ke Mekkah juga. Anehnya saya malah tahu dari Pemerintah Saudi. Saya tahu bukan dari teman-teman saya yang berasal dari pengikut Ahmadiyah, meski saya cukup dekat dengan mereka tapi saya tidak pernah tanya soal sas-sus itu. Dan saya memang tak pernah mau tahu urusan keyakinan mereka.

Saya tahu setelah media kita ribut-ribut mengabarkan bahwa Pemerintah Saudi Arabia akan melarang jemaat Ahmadiyah naik haji. Loh, selama ini Pemerintah Saudi yang Wahabi itu mengabarkan bahwa Ahmadiyah termasuk aliran sesat karena salah satu alasannya: haji mereka ke Qodian atau Lahore. Alasan ini pula yang ditaklid buta oleh kelompok-kelompok yang selama ini menerima dana dari Saudi di Indonesia.

Lihatlah bagaimana jemaat Ahmadiyah menjadi bulan-bulanan di negeri ini. Hingga kini jemaat Ahmadiyah di NTB masih hidup di pengungsian di gedung Transito hampir sejak lima tahun yang lalu. Kampung Ahmadiyah di Manislor diserang, sekolahnya disegel, di tempat lain masjid-masjid Ahmadiyah dibakar. Alasannya, ya tuduhan itu: salah satunya karena mereka hajinya tidak ke Mekkah, tapi ke Qodian atau Lahore.

Saya sebenarnya tak terlalu peduli alasan-alasan kenapa jemaat Ahmadiyah ini muncul, alasan teologis misalnya tentang pemahaman dan keyakinan internal yang mereka anut. Pun selama ini, saya tak peduli pada serangan-serangan terhadap jemaat Ahmadiyah ini, misalnya konon mereka mengganti kalimat syahadat, mengganti Al-Quran dengan Tadzkirah, atau hajinya tidak ke Mekkah. Saya tidak pernah tahu kesahihan-kesahihan tuduhan ini. Saya tidak pernah meminta konfirmasi ke pengikutnya—karena bagi saya ini tidak penting.

Bagi saya Ahmadiyah memiliki hak untuk hidup di Indonesia—dengan model keyakinan apapun yang dimilikinya, asal mereka mematuhi hukum yang ada di Indonesia ini, demikian juga dengan kelompok-kelompok Islam yang lain. Sepanjang pengetahuan saya, pengikut Ahmadiyah telah memenuhi kewajibannya sebagai warga negara yang baik, mereka juga terlibat pembangunan fasilitas publik: sekolah, rumah ibadah, balai pendidikan, yayasan dan fasilitas-fasilitas yang lain-lain.

Malah pengikut-pengikut dari kelompok-kelompok yang menyerang mereka melakukan tindakan kekerasan dan sering mengangkangi hukum di negeri ini. Pun dari kelompok-kelompok itu tak satu-ruangan-pun membangun untuk sekolah atau pesantren, program asasinya adalah demonstrasi, dan mengumbar cacian dan fitnah di media-media yang mereka terbitkan. Mumpung lagi terbuka alam demokrasi dan kebebasan, meski mereka tak paham apa itu demokrasi dan kebebasan. Pikir mereka, demokrasi dan kebebasan adalah alasan yang sebebas-bebasnya untuk menghakimi keyakinan orang lain, mengumbar fitnah, cacian dan provokasi, melakukan penyerangan dan kekerasan terhadap kelompok yang dituding “sesat” dan “menyimpang”. Maklum kelompok ini memang “penumpang gelap” dalam kondisi ini.

Kira-kita tiga tahun yang lalu, saya pernah berada di dalam sebuah masjid Ahmadiyah Al-Fadl di Bogor yang dituntut disegel oleh kelompok yang menamakan dirinya Gerakan Umat Islam (GUI) di bawah pimpinan yang mengaku Habib Abdurrahman Assegaf. Saya juga baru tahu, ternyata “Habib Abdurrahman Assegaf” bukan nama sebenarnya. Laki-laki ini tidak memiliki wajah Timur Tengah, tapi “Timur Tengah Indonesia” alias berwajah Ambon Manise. Nama aslinya Abdul Haris Umarella. Saya tidak pernah tahu, bagaimana ia mendapat marga Assegaf, dan mendapat julukan Habib yang berarti orang yang dicintai. Wajah Habib Abdurrahman Assegaf ini, uuupss Abdul Haris Umerella baru saja muncul di televisi ketika menyebut bahwa Nur Said atau Nur Sahid yang sebelum-sebelum ini ditenggarai pelaku bom bunuh diri (ternyata salah!) adalah lulusan Pesantren Ngruki. Pihak Ngruki pun meradang, mereka akan menuntut Pak Abdul Haris ini. Mereka awalnya menolak informasi tentang Nur Said itu, namun akhirnya mengakuinya. Pertanyaan saya, darimana sumber informasi yang diterima oleh Pak Abdul Haris Umarella ini? Saya kenal dia bukan peneliti atau pengamat terorisme, darimana ia memperoleh data yang valid? Dari intel atau aparat kah? Wallahu a’lam.

Tuntutan penyegelan itu hari Jumat, tepatnya setelah sholat Jumat. Saya pun merinding, bagaimana sholat Jumat digunakan sebagai tempat mobilisir massa, khutbahnya ajang provokasi, setelah tu teriak-teriak takbir “Allahu Akbar, Allahu Akbar” ingin menyerang orang. Sholat Jumat di masjid Ahmadiyah sama seperti yang lain, khutbah dua kali, khatibnya duduk di antara dua khutbah, tiap khutbah memuji Allah dan bersalawat pad Rasul-Nya, menganjurkan wasiat taqwa, dan di khutbah kedua mendoakan ampunan bagi kaum muslimin—termasuk mereka yang menyerang Ahmadiyah. Khutbahnya dalam bahasa Indonesia. Sholat Jumat nya juga dua rakaat.

Kembali ke larangan Pemerintah Saudi itu yang akan melarang jemaat Ahmadiyah naik haji, direspon oleh seorang sekretaris Muhammadiyah, yang menurutnya sangat sulit karena paspor dan KTP Indonesia cuma mencantumkan agama Islam “thok”. Tak ada embel-embel yang lain. Ketika saya lemparkan informasi ini di status facebook saya, ada komentar menarik, hal ini akan mungkin kalau Saudi Arabia memiliki kecanggihan teknologi melebihi Amerika, yakni semacam “pemindai keyakinan”. Kalau “metal detector” akan mengeluarkan bunyi-peringatan kalau mendeteksi besi—kalau “pemindai keyakinan” akan berbunyi kalau menyentuh orang Ahmadiyah atau orang-orang yang disesatkan oleh Pemerintah Saudi yang Wahabi itu.

Saya ingin kegilaan Pemerintah Saudi ini ditolak mentah-mentah oleh Pemerintah Indonesia yang masih waras ini. Dan dari permintaan Saudi ini pula, saya baru tahu kalau jemaat Ahmadiyah naik haji ke Mekkah, bukan ke Qodian atau Lahore yang selama ini dituduhkan pada mereka.

Wallahu A’lam

Jakarta 11 Agustus 2009

Mohamad Guntur Romli

NOORDIN M TOP tengah Tersenyum Geli?

10 Agustus 2009 at 11:26 pm | In Agama-agama, Hukum & HAM, News hangat | 4 Comments
Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Perburuan gembong pelaku teror dan pengeboman sejumlah tempat publik di negeri ini, yang baru saja kita tonton beberapa waktu lalu, tampaknya akan berujung senyuman pahit. Dan sebaliknya ada yang menuai senyum dari kisah dramatik penggrebekan Densus 88 di Tembanggung.

Perkiraan sejumlah pengamat yang meragukan bahwa korban yang di ciduk Densus 88 Antiteror, berangsur menemui titik terang. Mr x yang kini terbujur kaku di Rumah Sakit Polri Kramat Jati itu besar kemungkinan bukanlah Noordin M Top.

Pihak kepolisian sendiri belum berani banting palu, bahwa yang tewas dalam penggrebekan lalu itu adalah Noordin.

Padahal, dalam siaran langsung beberapa stasiun televisi swasta, disebutkan bahwa sosok yang tewas di Beji, Kedu, Temanggung, Jawa Tengah, itu diduga kuat adalah Noordin M Top. Tak lupa, hal tersebut diembel-embeli, menurut sumber kepolisian, meski dugaan itu pertama kali dilansir oleh al-Jazeera.

Cerita kematian gembong teroris di Indonesia selalu memicu kontroversi. Ini karena validitas yang ditampilkan kepolisian kerap diragukan publik. Mungkinkah, Noordin saat ini masih bisa tersenyum geli? Publik sangat menunggu jawaban pastinya.

Sidik Jari Buktikan Teroris Temanggung Bukan Noordin

Senin, 10 Agustus 2009 – 16:06 wib

Muhammad Saifullah – Okezone

JAKARTA – Hasil pemeriksaan sidik jari oleh para analis menyebutkan, teroris yang ditembak mati personel Densus Antiteror 88 di Temanggung, Jawa Tengah, bukanlah Noordin M Top.

Analisis ini semakin dikuatkan dengan perbedaan struktur wajah antara Noordin dan jenazah yang ditemukan di rumah Mohzahri di RT 1 RW 12, Dusun Beji, Desa Kedu, Temanggung, Jawa Tengah pada Sabtu lalu.

Berdasarkan keterangan dari sumber di kepolisian, Noordin M Top hingga kini masih bebas berkeliaran. “Itu bukan Noordin. Kami tahu dari struktur wajah dan sidik jarinya,” ujar sumber tersebut seperti dilansir dari The Australian, Senin (10/8/2009).
Continue reading NOORDIN M TOP tengah Tersenyum Geli?…

Noordin M Top Ditangkap

7 Agustus 2009 at 9:06 pm | In Agama-agama, Hukum & HAM, Politika | 7 Comments
Tags: , , , , , , , , , ,

Iseng melongok beberapa portal berita online, saya menemukan info yang cukup menarik dan provokatif kiranya. Berita ini saya temukan di www.vivanews.com pada pukul 20.00. Isinya tentang informasi penangkapan gembong teroris nomor wahid yang tengah diincar dan diendus polisi di Indonesia pasca peledakan bom di duo hotel internasional J.W Marriott dan Ritz-Carlton pada 17 Juli lalu.

berikut ini beritanya:


Noordin M Top Dikabarkan Ditangkap

Demikian dilansir laman stasiun televisi Al Jazeera, Jumat 7 Agustus 2009.

Jum’at, 7 Agustus 2009, 19:52 WIB

Hadi Suprapto, Harriska Farida Adiati

VIVAnews – Noordin Mohammed Top, orang yang dicari-cari karena diduga terlibat dalam pengeboman dua hotel mewah di Jakarta, telah ditangkap. Demikian dilansir laman stasiun televisi Al Jazeera, Jumat 7 Agustus 2009.

Noordin M. Top, salah satu dari dua tersangka yang diduga terlibat dalam pengeboman hotel J.W Marriott dan Ritz-Carlton pada 17 Juli, dikabarkan ditangkap hari ini. Namun, belum disebutkan tempat penangkapannya.

Sembilan orang tewas dan lebih dari 50 orang terluka akibat ledakan tersebut. Noordin merupakan anggota kunci Jemaah Islamiyah (JI), kelompok yang berkaitan dengan al-Qaeda dan ingin mendirikan negara Islam di Asia Tenggara. Namun, kelompok Noordin M. Toop memisahkan diri dari JI setelah dituduh menjadikan warga sipil sebagai target serangan.

JI disalahkan sebagai pelaku pengeboman tahun 2002 di Bali yang menewaskan 202 orang. Noordin juga diduga berada di balik serangan bom Marriott 2003 dan Kedutaan Besar Australia di Jakarta pada 2004, serta serangkain peristiwa pengeboman di sejumlah restoran di Bali pada 2005 yang menewaskan lebih dari 20 orang.

Noordin M Top Diduga Ditangkap di Temanggung

Penangkapan terjadi pada pukul 17.00, Jumat 7 Agustus, dengan baku tembak.

VIVAnews – Densus 88 melakukan penggrebekan rumah yang diduga berisi buronan nomor satu, Noordin M Top, di Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung.

Penangkapan terjadi pada pukul 17.00, Jumat 7 Agustus, dengan baku tembak.

Laporan reporter tvOne yang berada di lokasi, penggrebakan dilakukan dengan mengepung rumah kontrakan yang berada di area persawahan.

Informasi yang diperoleh tvOne, penghuni rumah itu berbadan tegap menyerupai Noordin M Top. hadi.suprapto@vivanews.com

Baku Tembak Masih Berlangsung
Penyergapan yang diwarnai baku tembak itu berlangsung sejak pukul 17.00.

VIVAnews – Penyergapan yang diwarnai baku tembak Detasemen Khusus 88 Antiteror dengan segerombolan teroris di Kedu, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, masih berlangsung. Penyergapan dilakukan sejak pukul 17.00, Jumat 7 Agustus 2009.

Diduga, salah satu penghuni rumah itu diperkirakan Noordin M Top. Penggerbekan ini membuat warga panik.

Menurut informasi dari reporter tvOne di lokasi, ciri-ciri orang yang menghuni rumah itu mirip gembong teroris Noordin M Top. Saat ini belum bisa dipastikan apakah Noordian atau bukan hingga penembakan berakhir.

Diduga, di dalam rumah itu tidak hanya Noordin, tapi juga buronan kelas kakap lainnya, seperti Reno alias Tedi alias Mubarok. Reno merupakan orang kedua setelah Azhari yang pandai meracik bom.

Hingga kini belum dipastikan berapa banyak isi rumah yang letaknya di area persawahan. hadi.suprapto@vivanews.com

• VIVAnews

‘Ilusi Negara Islam’ dan Teror

23 Mei 2009 at 4:42 pm | In Islamic Studies | 22 Comments
Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Salam,

Kami baru menerima berita dari Mas Ahmad Suaedy Direktur the Wahid Institute, toko-toko yang menjual buku “Ilusi Negara Islam” diteror: akan diserbu, dibakar melalui telepon-telepon tak dikenal.

Di Gramedia pun buku ini belum sempat beredar. Anda mungkin akan kesulitan mendapatkan buku ini di pasaran. Syukur alhamdulillah, melalui jasa internet, pembredelan dan ancaman untuk sebuah karya tidak akan berhasil sempurna. Kini bagi siapa pun yang ingin membaca buku ini silakan mengunduhnya (download) melalui alamat berikut:

http://www.bhinnekatunggalika.org/galeri.html

Catatan yang saya terima di jejaring sosial Facebook ini memang cukup membawa aroma kontroversi menyusul peluncuran buku berjudul “Ilusi Negara Islam; Ekspansi Gerakan Islam Transnasional di Indonesia” yang digagas oleh tiga tokoh besar Islam moderat: Mantan Presiden Indonesia, KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), bersama mantan Ketua Umum Muhammadiyah, Prof. Dr. Ahmad Syafi’i Maarif (Buya), dan tokoh terkemuka Nahdlatul Ulama, KH. A. Mustofa Bisri (Gus Mus).

Saya mungkin mempunyai beberapa catatan kecil tentang hal ini. Jika memang benar, telah terjadi terror, telepon gelap, dan semacamnya terhadap diri Mas Ahmad Suaedy, sebagai Direktur The Wahid Institute yang ikut menggawangi terbitnya buku ini, maka telah terjadi pengingkaran terhadap hukum agama itu sendiri, yakni pengakuan keragaman dalam keberagamaan—orang menyebut pluralisme.

Dan bagi pelaku terror, tampaknya akan segera masuk dalam kategorisasi berikut ini:

  1. Mengalami persinggungan teologis. Jelas dalam persinggungan ini, ada satu pertentangan untuk membela keimanan versi mereka yang mereka percayai. Jika reaksi yang muncul kemudian adalah tindakan-tindakan terror, anarkhis, ahumanis, dan lain semacamnya, maka pelaku terror ini telah mengingkari hukum agamanya sendiri.
  2. Eksklusifisme agama. Ini juga bahaya. Pendeta Bonar Napitupulu dari Huria Katolik Batak Protestan (HKBP) pernah menyatakan bahwa Pandangan eksklusifisme dari sebuah agama, potensial menyebabkan konflik. Terbukti bukan?
  3. Percaya diri yang berlebihan, bahwa kebenaran, keselamatan, serta nilai-nilai ideal dalam agama hanya milik mereka, hanya mereka yang memahami, serta versi pemahaman merekalah yang (paling) benar, sementara yang lain salah.
  4. dan tentu, masih banyak yang lainnya…

akhirnya, :

“Saya tidak khawatir terhadap non-Muslim atau siapa pun selama mereka terus belajar; yang saya khawatirkan adalah ketika seseorang berhenti belajar dan menganggap kebenaran sudah ada di tangannya dan kemudian menganggap yang lain salah. Sebab, sabda Nabi saw., ‘Orang akan tetap baik-baik saja, tetap pandai selama mau belajar. Ketika orang itu berhenti belajar karena sudah merasa pandai, mulailah dia bodoh’,” (Gus Mus).

NB: bagi yang ingin mendownload buku ini silakan kunjungi <<link ini>>

Hasil Rumusan Ijtima Ulama Komisi Fatwa MUI III

28 Januari 2009 at 5:38 am | In Agama-agama | Leave a Comment
Tags: , , , , ,

Masih pada tema perbincangan yang sama, tentang fatwa MUI, berikut ini, meski agak terlambat, saya posting hasil rumusan ijtima’ Ulama Komisi Fatwa MUI III di Padangpanjang Sumatera Barat pada 24-26 Januari lalu.

Siap-siap saja, anda tersenyum geli, mengernyitkan dahi (bingung, atau tak mengerti), atau apapun ekspresi anda membaca hasil rumusan para ulama kita ini.

Hukum tak Menggunakan Hak Pilih dalam Pemilu (pen: GOLPUT)
Pemilu dalam pandangan Islam adalah upaya untuk memilih pemimpin atau wakil yang memenuhi syarat-syarat ideal bagi terwujudnya cita-cita bersama sesuai dengan aspirasi umat dan kepentingan bangsa. Memilih pemimpin yang tidak memenuhi syarat-syarat sebagaimana disebutkan dalam butir 1 (satu) atau tidak memilih sama sekali padahal ada calon yang memenuhi syarat hukumnya adalah haram.

Continue reading Hasil Rumusan Ijtima Ulama Komisi Fatwa MUI III…

Halaman Berikutnya »

Blog pada WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.