Catatan dari buku Gus Dur-Ikeda

Tulisan di bawah ini, saya copy dari website Gus Dur (www.gusdur.net), yang menceritakan bagaimana prosesi launching buku Gus Dur dan Daisaku Ikeda. Buku ini konon menjadi karya terakhir Gus Dur sebelum meninggalnya di penghujung tahun 2009 lalu. Catatan saya, Gus Dur dari lahir hingga detik kematiannya selalu memberikan waktunya untuk anfa’uhum linnas. Termasuk kontribusinya dalam menggagas dialog antar peradaban.

Kalau demikian, mau diberi gelar pahlawan atau tidak, bagi saya tak mengubah pandangan kita terhadap sosok kepahlawanan Gus Dur untuk bangsa ini, bahkan dunia ini. berikut tulisannya:

Peluncuran Buku Dialog Peradaban untuk Toleransi dan Perdamaian

Dialog Peradaban Dua Tokoh Perdamaian Dunia

Oleh : Alamsyah M. Dja’far

Meski baru bertemu pertama kali pada 2002, tapi keduanya sesungguhnya telah berdialog puluhan tahun sebelum itu. Gus Dur sudah mengenal pemikiran Ikeda sejak 25 tahun lalu ketika membaca pertama kali buku dialog Ikeda dengan Tonybee bertajuk Perjuangkan Hidup.

Kepada Yenny Wahid, KH. Abdurrahman Wahid yang akrab disapa Gus Dur pernah mengutarakan harapannya. Suatu saat, Presiden RI ini berharap bisa berdialog intens dengan Daisaku Ikeda dan dapat menyebarluaskan dialog itu kepada sebanyak mungkin manusia dalam bentuk buku. Ikeda adalah Presiden Ketiga Gerakan Sokka Gakkai Internasional (SGI), organisasi umat awam penganut menganut Budhisme Nichiren yang kini telah memiliki 12 juta anggota di 192 negara dan wilayah. Komunitas ini meyakini bahwa Budhisme adalah sebuah filsafat praktis tentang pemberdayaan diri dan perubahan internal seseorang yang memungkinkan orang tersebut mengembangkan diri dan bertanggung jawab atas hidupnya sendiri. Nichiren sendiri adalah nama seorang bhiku pada abad ke-13 .

Ikeda yang juga pendiri Institute Filsafat Timur dan telah menerima gelar Doktor Honoris Causa lebih dari 260 uiversitas di dunia ini dikenal tokoh yang gemar melakukan dialog. Lebih dari 60 buku berisi dialog dengan tokoh dunia lahir dari tangannya. Di antaranya Dialog Menuju Abad ke-21 dengan sejarawan terkemuka abad 20 asal Inggris Arnold Joseph Toynbee, Pelajaran Moral di Abad ke-20 dengan mantan Presiden Uni Soviet Mikhail Gorbachev, Sebuah Pencarian untuk Perdamaian Global dengan fisikawan Polandia-Inggris yang juga dikenal sebagai tokoh perdamaian Joseph Rotblat, Perjalanan Kebudayaan dan Kesenian dengan profesor untuk kebudayaan cina dan kajian Timur Jao Tsung-I.

Pertemuan Gus Dur dengan Ikeda pertamakali terjadi pada tahun 2002. Gus Dur diundang Universitas Soka untuk menerima gelar Doctor Honoris Causa. Sejak saat itu keinginan dialog muncul. Pada tahun 2007 Gus Dur juga sempat mengunjungi pameran Foto Ikeda bertajuk Dialog Dengan Alam yang diselenggarakan di Jakarta.

Pada Juli 2008 giliran the Wahid Institute yang memberi penghargan kepada tokoh kelahiran Tokyo 1928 ini. Acaranya digelar di kantor The Wahid Institute di Jalan Taman Amir Hamzah, Jakarta. “Tidak ada kedamaian tanpa keadilan dan keadilan hanya dapat muncul lewat diskusi yang seimbang antara perbedaan yang ada,” kata Gus Dur dalam sambutannya ketika itu seperti dikutip kompas.com (14/7).

Sayangnya Ikeda saat itu berhalangan hadir karena alasan kesehatan. Tapi ia mengutus langsung anaknya, Hiromasa Ikeda, yang juga wakil Presiden Yayasan Soka Gakkai Internasional untuk menerima penghargaan.

Harapan Gus Dur untuk menerbitkan dialognya dengan Ikeda ini akhirnya terwujud. “Ini buku terakhir Gus Dur sebelum beliau wafat,” kata Yenny Wahid dalam peluncuran buku Dialog Peradaban untuk Toleransi dan Perdamaian di Pusat Kebudayaan Soka Gakkai Indonesia di Bandar Kemayoran, Jakarta, Senin (6/12/2010).

Acara peluncuran buku ini dihadiri sejumlah tokoh penting. Di antaranya mantan Wakil Presiden RI dan Ketua Umum Palang Merah Indonesia Jusuf Kalla, Rektor Universitas Indonesia (UI) Gumilar Rusliwa Somantri, Rektor Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Sunaryo, pengusaha perempuan Dewi Motik Pramono, Direktur Eksekutif PT Gramedia Pustaka Utama Wandi S Brata, termasuk tuan rumah Ketua Umum Soka Gakkai Indonesia, Peter Nurhan, dan isteri mendiang Gus Dur, Shinta Nuriyah Wahid.

Dalam sambutannya, Yenny sempat memuji JK, panggilan akrab Jusuf Kalla. Tokoh Nahdliyin asal Sulawesi Selatan itu dipandang mirip dengan sang ayahanda. Meski tak lagi menjabat jabatan formal, namun JK tetap mengabdikan dirinya pada kemanusiaan. Yenny menyatakan, JK dengan Palang Merah Indonesia (PMI) melakukan aksi konkret dalam musibah bencana alam di beberapa wilayah di Tanah Air. “Pak JK duluan yang datang daripada pejabat. Memang Pak JK lebih cepat lebih baik,” pujinya seraya disambut aplaus hadirian yang jumlahnya lebih dari 300 orang.

JK sendiri dalam sambutannya sangat mengapresiasi kehadiran buku penting ini. Bagaimanapun setiap agama tidak pernah menganjurkan terjadinya konflik. Buku itu dinilanya penting untuk terus mempromosikan perdamaian dan toleransi. Tapi JK juga menegaskan, untuk menciptakan perdamaian yang nyata di tengah masyarakat, gagasan saja tidaklah cukup. “Pemikiran dan gagasan tentang perdamaian harus dilaksanakan. Pemikiran saja tidak cukup untuk menciptakan kedamaian,” katanya. Bahkan ia sempat mengatakan, konflik antarsuku dan agama justru paling banyak terjadi saat Gus Dur yang dikenal dengan gagasan pluralismenya menjadi presiden. “Kita butuh waktu yang lama untuk melaksanakan gagasan itu,” katanya.

JK menandaskan, muara dari konflik tidak lain ketidakadilan. Dan karenanya keadilan harus diwujudkan oleh negara, selain juga oleh masyarakat. “Mewujudkan keadilan yang makmur, makmur yang adil,” tambahnya.

Acara peluncuran buku ini sendiri diramaikan dengan beragam pertunjukan. Mulai dari musik angklung hingga lagu oh Ibu karya Daisaku Ikeda. Lagi itu diiringi dengan Koto, musik kecapi khas Jepang, dan seorang penari yang memegang kipas dan sekuntum kembang. Lagu itu merupakan salah satu lagu yang amat dinikmati Gus Dur saat dinyanyika dalam acara pemberiaan gelar Doctor Honoris Causa. Dewi Motik berkenan pula menyumbang suara di acara peluncuran dengan menyanyikan lagu Bengawan Solo juga diiringi musik Koto.

Membaca buku setebal 310 halaman ini, akan membawa kesimpulan pada pembacanya bahwa kedua tokoh ini memiliki pemahaman dan wawasan yang amat luas. Tak hanya menyangkut kebudayaan Jepang-Indonesia, asal negara keduanya, tapi juga negara-negara di dunia. Di buku itu mereka membicarakan hal yang mungkin dianggap remeh temeh hingga perkara besar seperti wacana membangun peradaban dan perdamaian dunia.

Sebagai pembaca saya terheran-heran ketika mereka membicarakan mengenai bunga dan kembang yang tumbuh di Jepang dan Indonesa. Dari bunga mereka bicara filosofi di baliknya. Kata Daisaku, “Indonesia memiliki banyak jenis bunga seperti kembang sepatu, bougenvil, katleya, wijayakusuma dan raflesia”.  Gus Dur menimpali, “Di Indonesia bunga flamboyan adalah bunga yang dijadikan sebagai tanda akan menjelang masuknya musim hujan. Saat flamboyan berwarna merah berkembang adalah puncak hari-hari paling yang panas. Saat bunganya berguguran dan tersisa daun-daun berarti mulai masuk musim hujan. Kalau di Jepang, saat bunga sakura berkembang menandakan akan datangnya musim semi, bukan?”

Ikeda menimpali lagi. “Bunga Sakura adalah bunga kenegeraan Jepang. Bunga kenegaraan Indonesia adalah bunga melati, bukan?” Kepada Ikeda, Gus Dur juga menceritakan sejak kecil ia amat menyukai bunga melati. Seperti sering ia dengar, bunga itu bunganya para wali.

Setelah bicara bunga, keduanya lantas bicara musik. Ternyata keduanya punya kesamaan hobi: sama-sama menyukai karya Beethoven Simfoni No. 9 yang dianggap mencerminkan kehidupan penciptanya yang penuh perubahan dan perjuangan keras.

Sebelumnya, seperti disinggung Dewa S. Brata dalam sambutan, melalui pembicaraan Beethoven itu Gus Dur mengungkapkan sesuatu yang ironi tapi penuh makna. Ikeda bertanya pada Gus Dur, “Apakah Gus Dur pernah memendam rasa kecewa dan kesal karena dikhianati?”. Dengan santai Gus Dur menjawab. “Terlalu sering dikhianati sehingga tidak merasakannya sebagai tantangan. Nanti aka nada hikmah dari tiap kali terjadinya pengkhianatan itu. Saat saya mengundurkan diri dari jabatan sebagai presiden bulan Juli 2001, saya berjanji akan bekerja untuk demokrasi yang lebih baik. Saat itu saya juga tidak menyesal. Satu-satunya hal yang menyedihkan bagi saya adalah kehilangan beberapa pita kaset musik Ludwig van Beethoven yang secara khusus telah saya koleksi.” Gus Dur tertawa. Saat Dewa S. Brata menceritakan itu kembali di sambutannya, sebagian besar peserta tertawa diiringi tempik sorak.

Buku ini terdiri dari tujuh bab: Perdamaian Merupakan Misi Agama, Persahabatan sebagai Jembatan Dunia, Perjuangan dan Pencarian di Masa Remaja, Tantangan Menuju Abad Hak Azasi manusia, Persahabatan Antarbudaya sebagai Sumber Kreativitas, Belajar Toleransi dari Sejarah Islam dan Buddha, Pendidikan Pilar Emas Masa Depan, dan Membuka Zaman Baru. Diberi kata sambutan empat tokoh: Jusuf Kalla, Menteri Pendidikan Mohammad Nuh, Gumilar Rusliwa Somantri, dan Ketua Umum PBNU KH. Said Aqil Siradj.

Dialog yang ada di buku ini sendiri sebetulnya merupakan seri dialog yang diterbitkan sejak 2009 secara berseri di majalah Ushio, majalah bulanan Jepang bertiras 400 ribu eksemplar. Sejak September 2010 dialog itu lalu diterbitkan dalam bahasa Jepang dan telah terjual lebih dari 200 ribu eksemplar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s