Penindasan pemerintah terhadap kepemimpinan KH. Abdurrahman Wahid di PKB (partai kebangkitan bangsa) tak membuat surut langkah dan menyerah. Cucu pendiri NU ini nyatanya masih punya harapan besar dan kekuatan untuk menggerakkan nafas partai.
Setelah didzolimi oleh pemerintah berkali-kali dalam kurun waktu 2 tahun ini, Gus Dur ingin menegaskan bahwa PKB harus mengadakan Muktamar pada 2010 awal. Dalam keputusan rapat Pleno di Kantor PKB pada 28 Oktober lalu, Gus Dur menyatakan bahwa dirinya sejatinya telah didesak oleh kiai-kiai untuk segera mengadakan Muktamar di PKB
”Justru kia-kiai mendesak minta sekarang saja” ujar Gus Dur.
Dan kemudian statemen ini kembali di sampaikan dalam keterangan Pers di Kantor PBNU kemarin (29/10). Dengan didampingi oleh sejumlah Kiai seperti Kiai Maman Imanul Haq dan Pengurus Dewan Syura, Ketua Umum Dewan Syura DPP PKB itu mengaku siap mengadakan Muktamar III pada Februari 2010 atau satu bulan setelah pelaksanaan Muktamar NU. “Sebenarnya kiai-kiai yang datang sudah minta saya untuk mempercepat saja. Tapi, memang lebih baik setelah NU,” ujar Gus Dur saat memberikan keterangan pers di Kantor PB NU, Jl Kramat Raya, Jakarta, kemarin (31/10).
Menurut presiden ke-4 RI itu, para kiai merasa prihatin atas kondisi PKB saat ini. Partai berlambang bintang sembilan itu dianggap terlalu bergantung pada penguasa. PKB, kata Gus Dur, juga makin kehilangan jati diri sebagai partai yang tumbuh dari gerakan moral. “Intinya, partai ini perlu diselamatkan,” tandas Gus Dur.
Aturan di internal PKB memiliki keunikan tersendiri. Tidak seperti partai lain pada umumnya, pada Muktamar II Semarang lalu ditetapkan dua mandataris. Yaitu, Muhaimin Iskandar sebagai ketua umum Dewan Tanfidz dan Gus Dur sebagai ketua umum Dewan Syura. Dualisme kepemimpinan inilah yang dianggap sebagai salah satu pemicu konflik selama ini.
Selengkapnya, berikut ini beritanya:
[ Minggu, 01 November 2009 ]
Gus Dur: PKB Perlu Diselamatkan!
JAKARTA - Gejolak di internal Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) belum berakhir. Abdurrahman Wahid alias Gus Dur ternyata masih menyimpan energi untuk turun gunung terlibat dalam perseteruan pada partai dengan suara terbesar ketujuh pada Pemilu 2009 itu.
Ketua umum Dewan Syura DPP PKB (hasil Muktamar II di Semarang) itu mengaku siap mengadakan muktamar III pada Februari 2010 atau satu bulan setelah pelaksanaan Muktamar NU. ”Sebenarnya kiai-kiai yang datang sudah minta saya untuk mempercepat saja. Tapi, memang lebih baik setelah NU,” ujar Gus Dur saat memberikan keterangan pers di Kantor PB NU, Jl Kramat Raya, Jakarta, kemarin (31/10).
Menurut presiden ke-4 RI itu, para kiai merasa prihatin atas kondisi PKB saat ini. Partai berlambang bintang sembilan itu dianggap terlalu bergantung pada penguasa. PKB, kata Gus Dur, juga makin kehilangan jati diri sebagai partai yang tumbuh dari gerakan moral. “Intinya, partai ini perlu diselamatkan,” tandas Gus Dur.
Aturan di internal PKB memiliki keunikan tersendiri. Tidak seperti partai lain pada umumnya, pada Muktamar II Semarang lalu ditetapkan dua mandataris. Yaitu, Muhaimin Iskandar sebagai ketua umum Dewan Tanfidz dan Gus Dur sebagai ketua umum Dewan Syura. Dualisme kepemimpinan inilah yang dianggap sebagai salah satu pemicu konflik selama ini.
Terkait rencana muktamar mendatang, apakah sudah berkomunikasi dengan Muhaimin? “Yang pasti akan kami ajak. Persoalan bagaimana nanti, kita lihat saja dulu,” tambah Gus Dur.
Pelaksanaan muktamar setelah suksesi NU itu diputuskan dalam rapat gabungan DPP PKB (kubu Gus Dur) pada 28 Oktober lalu. Hingga saat ini PKB di bawah kepemimpinan Muhaimin Iskandar yang diakui pemerintah. (dyn/agm)
DIarsipkan di bawah: Gus Dur Thought, News hangat | Ditandai: Gus Dur, KH. Abdurrahman Wahid, Muhaimin Iskandar, Muktamar, NU, PKB


RSS - Posts




SETUJU PKB HARUS DISELAMATKAN
sy prihatin dengan kondisi PKB saat ini, terllu lunak dengan pemerintah, seolah-olah tidak punya kekuatan tuk mengkritik pemerintahan, PKB yang seharusya menjadi partai terbesar malh suaranya kalh dngan partai baru, mari qta perbaiki dan bangun kmbali parpol yang dilahirkan oleh ormas NU,