Kolom Gus Dur kali ini berjudul “Jalan Menuju Demokrasi”. Diunduh dari Harian Seputar Indonesia. Berikut tulisan lengkapnya:
Jalan Menuju Demokrasi
Tuesday, 23 June 2009
PENULIS begitu terkejut melihat peristiwa pascapemilihan umum di Iran. Karena apa yang terjadi di Iran dewasa ini, seperti peniruan ketika Indonesia masih dipimpin oleh Pak Harto.
Namun,di balik hal itu ada perkembangan sangat menarik, ketika Mir Hosseini Mousavi ternyata meneruskan upaya yang dirintisnya selama ini. Ia mengajukan protes atas tindakan-tindakan Dewan Penyelamat Revolusi Islam Iran yang dipimpin oleh Ayatullah Ali Khamaeni yang juga ulama besar. Di masa pemerintahan Pak Harto, semua peraturan dan Undang-Undang Pemilu dibuat untuk memenangkan pihak Golongan Karya (Golkar).
Perbedaan paling mencolok terletak pada kenyataan bahwa Mir Hosseini Mousavi meneruskan demonya untuk menolak pemilu presiden.Ini berbeda dengan kaum yang menginginkan demokrasi di negeri kita. Kini mereka tidak mau meneruskan secara terbuka langkah ke arah itu.Paling jauh,kaum minoritas yang sering meminta agar penulis artikel ini, bersedia melindungi mereka jika diancam orang lain, baik dari pemerintahan maupun di luar pemerintahan. Tentu saja ini sangat sesuai bahwa ada mayoritas membisu (silent majority) dalam kondisi ini.
Padahal, sejak berabad-abad yang lalu, Fahien dari Tiongkok telah mengajak kita semua untuk membentuk bangsa yang menghargai pluralistik dan memberikan perlindungan kepada kaum minoritas. Demikian kuat ajakan untuk menghargai perbedaan tersebut sehingga memberikan warna tersendiri dalam kehidupan Bangsa Indonesia. Namun,kini para pemimpin kita sering melupakan kenyataan bahwa memang bangsa kita sudah pluralistik sejak dulu.Ketika para penguasa di Sriwijaya ”mendatangkan” bala tentara Sriwijaya beragama Budha di abad ke-8 Masehi ke daerah Magelang.
Di kawasan yang sekarang dikenal sebagai Kabupaten Wonosobo mereka dapati orang-orang Hindu dari Kerajaan Hindu Kalingga.Ternyata,mereka tidak mengganggu orang-orang dan keyakinan yang telah ada di daerah itu. Bahkan agama mereka itu dibiarkan terus hidup. Orang-orang Budha dari Kerajaan Sriwijaya itu pun bergerak ke arah tenggara, sampai mereka mencapai kawasan Magelang. Di daerah itu mereka mendirikan Candi Borobudur. Dari sana sebagian meneruskan perjalanan dan sampai di daerah yang sekarang bernama Yogyakarta.
Di tempat baru itu mereka mendirikan kerajaan yang dinamai Kerajaan Kalingga.Pada abad ke-9 Masehi mereka mendirikan Candi Prambananyangmemilikiidentitas campuran, yaitu beragama Hindu- Budha.Orang-orang ”Hindu murni” dan orang-orang ”Budha murni” bereaksi. Ia menolak perhimpitan budaya dan penyatuan politik tersebut. Karena itulah, kaum Hindu- Budha tersebut berpindah ke timur. Di bawah pimpinan Prabu Darmawangsa, mereka berpindah ke Kediri, yang juga bernama Daha.
Dua abad lamanya mereka berada di daerah itu, terutama di bawah Raja Airlangga. Dengan demikian, percampuran antara ajaran Hindu dan ajaran Budha menjadi sesuatu yang menetap. Percampuran ajaran tersebut diteruskan oleh Kerajaan Singosari (sebelah utara Kota Malang). Sehingga percampuran ajaran itu meluas. Ketika menantu Prabu Kertanegara bernama Raden Wijaya berpindah ke utara dan mendirikan Kerajaan Majapahit, maka lengkaplah sudah percampuran antara ajaran tiga buah agama, yaitu Hindu, Budha, dan Islam.
Walaupun di kemudian hari terjadi pertempuran hebat antara pasukan-pasukan Majapahit dan balatentara Kediri, yang memiliki permaisuri Kencanawungu yang merupakan Putri Mahkota Majapahit. Mereka menolak perluasan Majapahit dengan penduduk kaum muslim santri, maka perang pun tidak dapat dicegah karena Raden Wijaya adalah seorang muslim santri yang dilindungi oleh angkatan laut Tiongkok,yang hampir seluruhnya beragama Islam.
Demikian sejarah penyebaran ajaran agama Islam di negeri kita. Jadi, sejak awal kita memang sudah menerima prinsip masyarakat pluralistik, tidak hanya sekarang saja.Ini mencerminkan kemampuan sikap saling menghormati antara berbagai keyakinan yang saling berbeda. Itulah esensi demokrasi yang juga ditangkap oleh Mir Hosseini Mousavi di Iran.
Dalam perkembangan demokrasi di Tanah Air kita dan perubahan-perubahan sosial di Iran, terdapat persamaan hakiki. Antara dua negara ini,banyak lagi hal-hal lain yang menarik untuk dipelajari,bukan?(*)
DIarsipkan di bawah: Demokrasi, Gus Dur Thought | Ditandai: Gus Dur, demokrasi, Kolom, Majapahit, kolom Gus Dur, tulisan Gus Dur, Raden Wijaya, Tiongkok, Iran, Revolusi Islam, Ayatullah Ali Khamaeni, Mir Hosseini Mousavi, Hindu, Kalingga, Borobudur, Ahmadinejad


RSS - Posts



