Apa yang kita rasakan ketika kita jauh dari keluarga? Tentu, ada perasaan sedih, rindu, dan kehausan ingin bertemu.
Karena bagaimanapun, keluarga adalah sebuah lingkungan dimana kita menautkan emosional, kekerabatan serta keturunan. Dan dengan lingkungan keluarga itulah kita bisa bersatu, menjalin kasih sayang, saling perhatian dan memberikan support satu sama lain.
Karakter Ibu dan bapak tentu menjadi dua tokoh yang sangat spesial dalam kehidupan keluarga kita. Dari merekalah kita bisa menjalani hidup ini lebih hidup.
Saat masih kecil, saya masih ingat betapa sosok ibu, yang dalam keluarga saya memegang peranan penting dalam pendidikan, sangat disiplin menerapkan pada anaknya untuk selalu belajar. Dan beliau akan sangat marah ketika ketahuan anaknya tak belajar, atau teledor melupakan PR (pekerjaan rumah) dari sekolah.
Sementara, bapak begitu tertoreh dalam hati ini sebagai sosok yang sabar. Meski tak semapan ibu yang menjadi guru SD, tapi bapak tetap berjuang, bekerja, memasah kayu, karena pekerjaan bapak memang tukang kayu.
Nah, Apa jadinya ketika kita jauh dari dua sosok mereka?
Perasaan sedih itu muncul tadi malam, ketika istri saya tengah merasakan betapa bayi dalam kandungannya semakin meningkatkan intensitas menendang, menyikut, serta sesekali (seperti) menggaruk kala miring ke kanan. Ternyata ia, tak suka ibunya miring ke kanan.
Sudah enam bulan ini, istri saya mengandung. Paling tidak rencana bidan-karena kontrolnya bukan ke dokter-menghitung kelahiran anak kita sekitar bulan Mei (akhir) atau Juni (awal). Tersisa waktu 3 bulan lagi, sangat dekat. Ini pengalaman pertama bagi saya dan istri yang menikah pada 25 April 2008.
Umur 6 bulan konon sebuah masa di mana janin telah bisa melakukan aktifitas menendang dan merespon keadaan di sekelilingnya. Maka ketika suara saya menyapa sang-Janin, dan si Janin lantas merespon dengan gerakan menendang, entah apa yang dilakukannya di dalam.
Geranakan dan tendangan ‘dede’ dalam janin istriku seringkali memancing jutaan rasa dan asa. Acapkali, di saat-saat seperti itulah, istri saya sering meneteskan air mata. Bahagia, geli bercampur sedih. Ia merasakan sebuah perasaan jauh dari keluarga, jauh dari saudara dan sanak famili. Begitu nekatnya kita ingin melahirkan di Jakarta.
“Ternyata kita nekat ya ingin melahirkan di Jakarta?”, Tanya istri saya suatu saat.
Tapi, saya memberikan ‘pil penenang’ kepada istri bahwa kita harus kuat dan tangguh menghadapi situasi-siatusi seperti ini. Meski kita jauh dan terpisah jarak dengan keluarga kita, namun mereka senantiasa berdoa untuk kita. Pasti Tuhan akan mengabulkan doa-doa mereka untuk kita.
Bukan maksud kita ingin menjauh dari mereka, namun keadaan yang memaksa kita untuk tetap tegar ‘menggantungkan’ nasib kita di ibukota ini.
Dan yang terpenting adalah menjaga si-janin ini agar tetap sehat dan selalu tercipta kondisi tenang, serta rileks. Karena ‘dede’ pasti akan ikut merasakan senang, dan tenang terlindungi ketika si-ibu (dan tentu juga ayahnya) memberikan perasaan tenang dan menenangkan. Ia akan merespon ketika kita memberikan cerita. Ia akan menendang ketika kita memberikan doa, serta ungkapan harapan baginya.
Dan, saya memang sering membisikkan sebuah harapan (atau doa) yang baik bagi calon anak ini. Semoga dia lahir dengan selamat, sehat tanpa ada kekurangan, serta kelak bisa menjadi kader penerus cita-cita orang tuanya.
Dan tentu ‘dede’ akan meneruskan catatan-catatan kecil di blog ini di masa yang akan datang. Semoga…
Kalibata, 16 Februari ’09


saya terharu baca paragraf terakhir mas.
betapa mulia cita-cita yang hendak ditanamkan. walau cita-cita itu masih tersirat dalam tulisan.
dede akan meneruskan blog ini. luar biasa cita-citanya
terima kasih masicang, sudah sudi membaca tulisan sederhana ini, sangat senang anda berkunjung ke blog saya.
ya, betul, cita-cita itu gak salah bukan?
alhamdulillah, dengan kuasa Tuhan yang begitu Agung, akhirnya kami melahirkan si-Kecil di pelosok kampung Brebes nun jauh di sana, pada 28 Mei 2009.
sehat sekali, cantik sekali. dan tentu, cita-cita orang tuanya kelak, Ia bisa menjadi anak yang sholehah dan bermanfaat bagi bangsa negara dan agamanya. amiin.
“Nak, ini blog sederhana ayahmu yang seringkali banyak dihujat, di kritik dan sedikit dipuji. Beberapa suara hati, acap mampir di sini. Maukah kau meneruskannya?”
wah…keren jg tulisannya mbak…sy jg skrg lg coba2 nulis diary diblog, yg kecil2 dulu lah tentang kehamilan sy skrg…lumayan buat inget2an..tp klo lg males,blognya jd dianggurin hehe….
oiya dedeknya sapa namanya???sy skrg lg hamil 6bln,kt dokternya cewek huhuhuhu….mudah2n lahir sehat n selamat kaya dedeknya mbak,n ga da kekurangan apapun:)