Archive for Februari, 2009


Gus Dur Somasi Ikhsan

Somasi GD1

Somasi GD1

Somasi GD2

Somasi GD2

Saya mendapatkan dua lembar surat dari seorang teman, yang kelihatannya berisi sangat serius. Setelah saya baca, ternyata isinya berupa Somasi Gus Dur (KH. Abdurrahman Wahid) terhadap salah satu caleg (calon legislatif) yang mencalonkan diri lewat PKB versi Muhaimin Iskandar. Siapa caleg ini, mantan ketua Lakumham DPP-PKB, H. Ikhsan Abdullah, SH., MH.

“ini teguran terakhir”, kata teman saya itu.

“dia ini sangat mbandel. Gus Dur sudah instruksikan untuk tidak memasang gambar dia, tapi kok yo masih saja memberanikan diri untuk nampang di bawah nama besar Gus Dur. Ngerti hukum gak sih dia?”, tambahnya kesel.

Dia juga menyatakan bahwa Gus Dur telah melayangkan surat berupa instruksi yang melarang dengan keras penggunaan foto maupun gambar dan suaranya dalam seluruh kegiatan Muhaimin Iskandar dan jajarannya (termasuk para caleg-calegnya). Instruksi itu tertuang dalam Surat Nomor: 3750/DPP-01/IV/A.1/XI/2008, tertanggal 3 November 2008 tentang Instruksi Ketua Umum Dewan Syura DPP-PKB.

Salah satu Spanduk Ikhsan di Brebes, tepatnya di samping Pos Polisi Pejagan.

Salah satu Spanduk Ikhsan di Brebes, tepatnya di samping Pos Polisi Pejagan.

Bahkan, beberapa waktu lalu, imbuhnya, saat deklarasi Gatara di Kabupaten Tegal, Gus Dur, sempat berpapasan dengan mobil saudara Ikhsan, yang telah berubah wajah begitu apik dengan gambar dirinya bersanding mesra dengan Gus Dur.

Hmm… ini memang rumit. Saya sendiri sempat berpikir, bahwa kalau konflik ini berlanjut terlalu lama, bisa-bisa tak akan produktif untuk pembangunan bangsa ke depan. Meski ini sebagai pertikaian internal partai. Namun, saya yakin, ada pengaruhnya bagi sistem kenegaraan kita, dan keberlangsungan bangsa ini untuk terus tersenyum, meski pahit.

“Sampai kapan sih, konflik partai berlambang bintang sembilan ini akan berakhir mas”, tanya seorang awam kepada saya.

Kita tengah sama-sama menunggu jawaban atas pertanyaan orang itu.

NB: bagi yang ingin download surat GD tersebut, silakan klik di sini

View full article »

Ponari dan Birahi Jaipong

“Hai, itu tahayul, klenik, jangan ikuti”, teriak sekelompok orang.

“pake yang ilmiah, rasional dong”

Riuhnya teriakan itu, meluncur deras saat h

versi tulisan ini yang dimuat di Citizen Jurnalizm (inilah.com), lihat di: http://inilah.com/berita/citizen-journalism/2009/02/23/85620/ponari-dan-birahi-jaipong/

versi tulisan ini yang dimuat di Citizen Jurnalizm (inilah.com), lihat di: http://inilah.com/berita/citizen-journalism/2009/02/23/85620/ponari-dan-birahi-jaipong/

adir fenomena ‘pengajaiban’ bocah bernama Ponari yang sanggup memberikan perantara kesembuhan bagi banyak orang.

Itu juga yang dikatakan oleh seorang kyai di salah satu tayangan televisi, seperi yang juga Emha tulis di Koran Tempo (21/2), “Jangan minta kepada Ponari, Ponari itu makhluk. Jangan minta kepada batu, batu itu makhluk. Jangan berlaku syirik sehingga menjadi manusia musyrik. Mintalah Khaliq, Allah Swt….”

Saya begitu tertarik membaca tulisan si “Kyai Kanjeng” ini. Ada pesan yang coba saya tafsiri. Bahwa dalam masyarakat kita acap terjadi salah dan sesat pikir, bagaimana membandingkan keklenikan ‘pemuja’ Ponari yang berusaha sembuh dengan para pasien dokter yang juga melakukan hal yang sama.

Dalam logika yang sangat sederhana, Emha menuliskan cukup apik. Ketika sebagian orang mencemooh fenomena ‘pemujaan’ Ponari karena mendekatkan pada perbuatan yang dibenci Allah, Syirik; Ponari itu makhluk. Begitu, pada saat yang sama, muncul jawaban: “Jangan minta kesembuhan kepada dokter, dokter itu (juga) makhluk. Jangan minta kepada pil dan obat-obatan, pil dan obat-obatan itu (juga) makhluk. Jangan berlaku syirik, sehingga menjadi manusia musyrik.”

View full article »

tuhan Facebook

Facebook, fenomena irasional

Facebook, fenomena irasional

Belakangan ini rame sekali diperbincangkan komunitas sosial pesaing Friendster yang bernama Facebook.

“Ha, makhluk apa tu”?

Makhluk ini seolah menyebar bagai virus yang menjangkiti setiap pojok-pojok kota, perkantoran, warnet, institusi pemerintah, professional, intelektual, akademisi dan lain sebaginya, tanpa memandang status sosial, karena status sosialnya ya itu…main tampang status yang diupdate terus setiap saat, detik, jam, hari dan seterusnya.

Saya cukup terhenyak membaca tulisan di blognya ndoro kakung yang ngetop itu, bahwa fenomena facebook, laiknya fenomena Ponari, yang menampilkan aura irasional bagi sebagian kalangan.

View full article »

Bohong

Tiba-tiba saya ingin membelejeti tema itu. Entah karena apa, tapi yang jelas, bahwa sifat seperti ini yang sering kita jumpai, alami, atau bahkan kita sendiri pernah melakukannya. Dengan beragam alasan, saya, anda dan kita membohongi orang lain.

Ceritanya begini:

“Orang ini kok punya gelagat yang gak baik ya”, tanyaku dalam hati, sambil memilah-milah buah yang akan saya beli di satu kesempatan.

Dari omongannya, sudah kelihatan kalau penjual ini tak jujur. Dia promosikan kalau buah nya itu adalah nomor 1, unggul, manis, paling baik deh pokoknya.

“saestu mas, kulo mboten ngapusi”, belanya dengan logat jawa, yang berarti: sumpah deh, saya gak bohong.

Su’udzonku sejenak saya coba redam sambil melihat wajahnya yang rada memelas. Memang seringkali, saya tertipu soal citra para penjual yang memelas, namun menyimpan sejuta niat untuk berbohong pada para pembelinya.

View full article »

6 bulan sudah…

Apa yang kita rasakan ketika kita jauh dari keluarga? Tentu, ada perasaan sedih, rindu, dan kehausan ingin bertemu.

Karena bagaimanapun, keluarga adalah sebuah lingkungan dimana kita menautkan emosional, kekerabatan serta keturunan. Dan dengan lingkungan keluarga itulah kita bisa bersatu, menjalin kasih sayang, saling perhatian dan memberikan support satu sama lain.

Karakter Ibu dan bapak tentu menjadi dua tokoh yang sangat spesial dalam kehidupan keluarga kita. Dari merekalah kita bisa menjalani hidup ini lebih hidup.

Saat masih kecil, saya masih ingat betapa sosok ibu, yang dalam keluarga saya memegang peranan penting dalam pendidikan, sangat disiplin menerapkan pada anaknya untuk selalu belajar. Dan beliau akan sangat marah ketika ketahuan anaknya tak belajar, atau teledor melupakan PR (pekerjaan rumah) dari sekolah.

Sementara, bapak begitu tertoreh dalam hati ini sebagai sosok yang sabar. Meski tak semapan ibu yang menjadi guru SD, tapi bapak tetap berjuang, bekerja, memasah kayu, karena pekerjaan bapak memang tukang kayu.

Nah, Apa jadinya ketika kita jauh dari dua sosok mereka?

View full article »

Masih seputar tema yang berdekatan dengan postingan sebelumnya, hari ini Gus Dur Juga menuliskan kolom tentang perlunya kerja-kerja dialog dan pemberian ruang ekspresi bagi ‘the others’, yang lain, dan ‘yang berbeda’ dari kita:

Kolom Gus Dur

Kerja Besar Kita ke Depan

Thursday, 12 February 2009

Kerja Besar Kita ke Depan (capture)

Kerja Besar Kita ke Depan (capture)

KITA dibuat tertegun dengan kenyataan bahwa dalam proses pembangunannya bangsa ini didominasi orang kaya/elite.Tidak punya uang, maka harus “mengalah” dari mereka yang lebih beruntung.
Pendidikan dan sebagainya hanya menganakemaskan mereka yang kaya.

Dikotomi kayamiskin ini berlaku di hampir semua bidang kehidupan. Nah, bagi mereka yang merasa tertinggal, mengakibatkan munculnya rasa marah dan dendam.Pemerintah turut bersalah dalam hal ini,karena mengambil pihak yang salah untuk dijadikan panutan.

Untuk menutupi hal itu, lalu mereka mengambil sikap yang juga salah, yaitu membiarkan salah pengertian satu sama lain antarkelompok melalui politik yang berat sebelah. Contohnya, dibiarkan saja suara berdengung dari garis keras yang meminta pembubaran kelompok minoritas, tanpa memberikan pembelaan kepada mereka.

View full article »

Berikut ini untuk melengkapi kategori Gus Dur Thought, saya unduh kolom Gus Dur yang diterbitkan oleh Koran Seputar Indonesia (edisi Rabu, 11 Februari 2009):

Hakikat Semangat Kebangsaan Kita

Wednesday, 11 February 2009

Kolom Gus Dur hasil Capture/Snapshot

Kolom Gus Dur hasil Capture/Snapshot

KETIKA pada 1933, KH M Hasjim Asy’ari Tebuireng (Jombang) memerintahkan putra beliau, KH Wahid Hasjim, yang baru pulang dari Tanah Suci, Mekkah untuk mempersiapkan Muktamar ke-9 NU di Banjarmasin (Borneo Selatan); pertanyaan tentang kebangsaan lalu muncul.

Dijawab oleh beliau,bahwa kita memerlukan pembahasan terus-menerus antara ajaran agama Islam dan paham kebangsaan/nasionalisme tersebut. Lalu menjadi jelaslah, bahwa di negeri ini,ajaran agama Islam tidak bisa lepas dari faktor kebangsaan tersebut.

Sebab,mayoritas anak bangsa tidak biasa berjuang terlepas dari paham kebangsaan/nasionalisme. Sebab,hal itu memang sudah lama dilakukan. Wangsa Syailendra dari Buddhis di Sumatera sudah merasakan masalah tersebut sejak abad ke-6 Masehi.

View full article »

Blog pada WordPress.com. | Tema: Motion oleh volcanic.
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 212 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: