Sosok Ketua MA yang baru itu…

Logo MA

Logo MA

Sejak kemarin saya sudah melirik berita ini. Dalam hati, saya sedikit bicara, kayaknya berita ini benar. Ya, terjadilah, hari ini ada kabar baru dari dunia hukum: Wakil Ketua Mahkamah Agung Bidang Non Yudisial Harifin A. Tumpa terpilih sebagai Ketua Mahkamah Agung.

Kabarnya, Tumpa ini memang hakim yang paling senior diantara 43 anggota Hakim Agung di MA. Jadi secara senioritas jelas beliau yang lebih layak memimpin.

Dan kabar lain, Tumpa juga lebih punya integritas dan independensi. Entahlah soal ‘kebersihan’ seseorang kita kan gak tahu ya. Wong kebersihan diri kita sendiri saja, kadang kita masih belum bisa meraba. Apalagi untuk menjudgemet seseorang ‘bersih-kotor’, ‘baik-buruk’ dan seterusnya, biarlah itu menjadi wilayah orang yang berhak saja. Saya, anda, dan kita semua, paling-paling sebagai penonton saja yang hanya bisa menumpahkan segala curahan, umpatan dan kekesalan lewat tulisan sederhana dan awut-awutan ini.

Kembali ke Tumpa. Ada kabar lain juga, bahwa Tumpa ini memang sosok yang didukung oleh orang nomor 1 di negeri ini, siapa lagi, ya itu: anda tahu sendiri. Kalau soal ini bagi saya, jelas bahwa rezim pasti akan merangkul dan menggandeng siapa saja yang punya arah kebijakan, pemikiran dan ideology yang sejalan. Jika ada orang, kelompok atau siapapun yang tidak menginginkan hal itu, maka ancang-ancanglah ia akan menempati posisi Oposisi.

Hmm… Oposisi. Ya, begitulah. Anda pasti paham kan.

Nah, kembali ke Tumpa lagi. Banyak orang yang meragukan kemampuan Tumpa memimpin lembaga tinggi macam MA ini. Terlebih gemparnya isu terakhir soal umur dan kesehatan Hakim Agung. Jelas perdebatan tentang umur dan kesehatan tak bisa di elakkan. Dan Tumpa beberapa waktu lalu, sempat roboh saat memimpin acara pengambilan sumpah jabatan hakim agung di ruang Kusuma Atmadja, Gedung Mahkamah Agung pada 30 Desember 2008.

Seperti di tuliskan Tempointeraktif, sejak itu, banyak rekan dan sejumlah kalangan menyarankan Harifin tidak ngotot maju dalam pemilihan ketua Mahkamah Agung. Peristiwa itu terjadi saat enam hakim agung baru, hendak mengucapkan sumpah jabatan dihadapan hakim agung lain dan tamu undangan.

Harifin yang berdiri di depan enam hakim agung lain tiba-tiba loyo dan terjatuh. Namun, tubuhnya tak sampai menyentuh lantai ruang upacara karena  segera dipegangi Ketua Muda Pembinaan Ahmad Kamil dan Ketua Muda Agama Andi Syamsu Alam, dan seorang ajudan.

Hmm…sebuah kejadian yang cukup menyedihkan, mengharukan, dan memalukan kayaknya. Ya, gimana lagi, masak..hakim-hakim kita kini sudah sepuh-sepuh…? Apakah memang MA ini memang tempatnya orang yang sudah sepuh dan renta?

Sesaat setelah roboh dan usai acara pelantikan itu, Harifin yang genap berusia 67 tahun pada 23 Februari 2009 nanti mengaku kaki kirinya mendadak kram. “Mungkin kecapekan karena saya kemarin dari Bandung,” kata Harifin menjelaskan ihwal kondisi kesehatannya.

Ya, sudahlah…saya yang tidak tahu apa-apa ini hanya ingin mengucapkan selamat atas terpilihnya anda sebagai sosok nomor satu di jagat Hukum, mempimpin Mahkamah Agung. Harapan besar kita semua adalah, lembaga ini bisa menjadi corong penegakan hukum di negeri ini. Tidak diperjualbelikan, tidak menjadi tangan panjang pemerintah. Musti independent gitu lah pendeknya pak… dan bapak juga janji sendiri di depan orang banyak dan media kita, bahwa MA akan semakin transparan. Yach, itu sih harapan orang kecil seperti saya. Dan semoga harap orang lain dan rakyat kita ini juga hampir sama kurang lebihnya.

Selamat Pak Tumpa… semoga di usia senja anda bisa menjadi torehan yang berharga bagi bangsa ini.

Siapa sosok Tumpa?

Harifin A. Tumpa

Harifin A. Tumpa

Dan berikut ini saya lampirkan sepenggal sosok siapa Tumpa ini, seperti dan bagaimana dia selama ini.

Lahir di Sopeng, Sulawesi Selatan pada 23 Februari 1942. Harifin memulai karirnya sebagai hakim Pengadilan Negeri (PN) Takalar tahun 1969, lalu menjadi Ketua pengadilan negeri di beberapa daerah selama 1972-1989.

Pernah menjadi hakim PN Jakarta Barat tahun 1989, Ketua PN Mataram tahun 1994 dan Hakim Tinggi Pengadilan Tinggi Makassar tahun 1997. Kemudian menjabat Direktur Perdata tahun 1997-2000, menjadi Wakil PT Palembang selama 2001. Pada 2002-2004 menjabat sebagai Ketua Pengadilan Tinggi Palu.

Karirnya menanjak menjadi hakim agung pada 14 September 2004.  Sejak 27 November 2007, Harifin menjadi Wakil Ketua MA bidang Non Yudisial merangkap Pelaksana Tugas Ketua MA.

Data kekayaan berdasarkan Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara  atau LHKPN ke Komisi Pemberantasan Korupsi per-1 Maret 2006 adalah sebesar Rp 1,456 miliar.

Harifin menempuh pendidikan Sekolah Hakim dan Djaksa di Makassar pada 1959-1963 yang dilanjutkan dengan kuliah di Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin, Makassar, dan lulus pada 1972.

Ia juga berhasil menyelesaikan studinya di Post Graduate Universitas Leiden, Belanda, pada  1987, dan Magister Hukum di Universitas Krisnadwipayana Jakarta tahun 1998-2000.

Harifin menikah dengan Herwati Sikki dan dikaruniai tiga orang anak yaitu A. Hartati, AJ. Cakrawala, dan Rizki Ichsanudin.

ICW mencatat, Harifin Tumpa merupakan salah satu hakim yang menggugat kewenangan pengawasan hakim agung oleh Komisi Yudisial ke Mahkamah Konstitusi pada 2006. Permohonan ini akhirnya dikabulkan oleh Mahkamah Konstitusi dan berujung pada revisi UU KY yang tidak juga rampung hingga kini.

Ia adalah hakim agung paling senior saat ini dan mulai menjabat sebagai hakim agung sejak 14 September 2004.. Jabatannya saat ini adalah Wakil Ketua MA bidang Non Yudisial sekaligus pelaksana tugas Ketua MA setelah Bagir Manan pensiun. Harifin yang seharusnya memasuki masa pensiun pada 23 Februari 2009 ‘terselamatkan’ dengan disahkannya usia pensiun hakim agung 70 tahun dalam revisi UU MA.

Salah satu putusan yang menarik perhatian publik yang terakhir dibuat Harifin adalah putusan kasasi Temasek. Kala itu, Majelis Kasasi ‘melegalkan’ penjualan saham Indosat dari Singapore Technologies Telemedia (STT) ke Qatar Telecom (Qtel). Harifin juga pernah menjatuhkan sanksi pidana ketenagakerjaan kepada pengusaha di Jakarta Utara. Sebagian serikat buruh menyambut baik putusan itu.

Nama baik Harifin sempat terusik ketika diduga melakukan intervensi penetapan eksekusi Gedung Aspac. Advokat David Tobing bahkan melaporkan tindakan Harifin ini ke Ketua MA, Wakil Ketua MA bidang Yudisial, dan Ketua Muda Pengawasan.

Di penghujung tahun 2008, Harifin sempat memberi kado istimewa kepada insan pers. Ia meneken Surat Edaran MA (SEMA) yang berisi agar hakim harus memanggil saksi ahli dari Dewan Pers dalam perkara yang menyangkut delik pers. Harifin memang kerap melakukan diskusi dengan organisasi wartawan.

Pada Maret 2006, Harifin melaporkan kekayaannya sebesar Rp 1.456 miliar ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Terkait pencalonannya sebagai Ketua MA, Harifin enggan berbicara banyak. “Memang ada yang akan mencalonkan saya?” ujarnya berulang kali kepada wartawan.

Djoko Sarwoko

Joko Sarwoko

Joko Sarwoko

Ia saat ini menjabat sebagai Ketua Muda Pengawasan MA. Posisinya yang juga sebagai Juru Bicara MA membuat Djoko terlihat lebih sering tampil ke publik. Lulusan Fakultas Hukum Universitas Gajah Mada (UGM) ini memiliki harta kekayaan Rp1,311 miliar dan USD 3500 per 1 Mei 2007.

Beberapa putusan kontroversial yang pernah dibuat Djoko, di antaranya terkait perkara korupsi Mantan Direktur Utama (Dirut) Bank Servitia, David Nusa Wijaya dan perkara pelanggaran HAM di Timor-Timur. Djoko yang kala itu menjadi anggota majelis mengurangi hukuman David yang didakwa mengemplang dana BLBI. Sedangkan dalam perkara HAM Timor-Timur, Majelis PK yang salah satu anggotanya Djoko memvonis bebas Guiteres.

Terkait pencalonan sebagai Ketua MA, Djoko memiliki jawaban yang senada dengan Harifin. “Mungkin tak pantas lah saya jadi Ketua MA,” ujarnya kepada hukumonline. Bahkan, untuk menjadi Wakil Ketua MA sekalipun, Djoko masih belum tahu pantas atau tidak. “Nanti kita lihat lah,” ujarnya lagi.

Paulus Effendi Lotulung

Paulus Effendi Lotulung

Paulus Effendi Lotulung

Pria yang mengambil program magisternya di Perancis ini, sekarang menjabat sebagai Ketua Muda Tata Usaha Negara MA. Setelah pulang dari kuliah di Perancis, Paulus menjadi asisten di MA hingga 1984. Ia dilantik sebagai hakim agung pada 1998. Pada 31 Maret 2001, ia memiliki harta kekayaan sebesar Rp 535 juta dan USD 38.

Paulus pernah mengeluarkan kebijakan kontroversial terhadap sengketa Bupati Lahat melawan PT Bukit Asam. Kala itu, ia mengeluarkan fatwa yang menyatakan perkara PTUN itu bisa diajukan kasasi. Tak lama setelah keluarnya fatwa itu, kuasa hukum Bukit Asam, Todung Mulya Lubis langsung mengajukan kasasi ke MA. Selain itu, Paulus pernah berurusan dengan Komisi Yudisial ketika dicurigai sebagai orang dekat Artalyta Suryani.

Pada pemilihan Wakil Ketua MA pada akhir 2007 lalu, Paulus sempat dicalonkan oleh delapan hakim agung. Namun ia mengundurkan diri dari pencalonan walau lolos ke putaran kedua. Alasannya, ia memiliki beban berat sebagai Ketua Tim Pembaruan MA. “Itu tidak bisa jabatannya saya rangkap. Tugas ini sama berat karena selain mengetuai Tim Pembaruan, saya juga harus melakukan pembinaan pada pengadilan TUN di seluruh Indonesia,” ujarnya kala itu.

Terkait pemilihan kali ini, Paulus tegas menyatakan tak akan mencalonkan diri. Namun, ia membuka peluang bila dicalonkan oleh rekan-rekannya. “Untuk (jabatan) itu, saya nggak mau mencalonkan diri. Tapi terserah kalau saya dicalonkan oleh rekan-rekan hakim agung yang lain,” ujarnya saat ditemui hukumonline di Pameran Sapuan Lukisan Bismar  Siregar beberapa waktu lalu.

(cuplikan profil diunduh dari Tempointeraktif.com, Hukumonline.com, dan nasional.vivanews.com)

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s