Kenapa PKB Musti Bahas Capres?

7 Januari 2009 at 6:09 am | In Politika | Leave a Comment
Tags: , , , , ,

Hmmm… saya bersemangat up date postingan lagi melihat berita hari ini. Sebuah berita—emang kecil sih, karena di kolom tepi—Tempo Interaktif. Di sana tertulis Judul “PKB di desak Membahas Calon Presiden”.


Setelah di lihat lagi, isinya adalah tuntutan salah satu Pengurus DPW-PKB Jawa Tengah, Ali Ansori untuk menuntut dan mendesak DPP-PKB agas segera membahas bursa nama calon presiden atau wakil presiden untuk diusung dalam Pemilihan Presiden 2009.

Wah, saya bertanya dalam hati, kenapa baru tanya sekarang. Seingat saya, bukannya PKB sendiri sudah pernah mendeklarasikan Calon Presiden. Dan 100 persen PKB masih yakin Gus Dur dikehendaki rakyat. Kenapa hari gini masih bertanya calon presiden?

Di awal dan pertengahan 2008, PKB telah mengadakan sebuah rapat pleno yang dihadiri oleh seluruh pengurus DPP, termasuk Gus Dur dan Muhaimin Iskandar. Dan saat itu, seluruh peserta rapat menyetujui bahwa Gus Dur maju lagi dalam pergulatan Calon Presiden pada Pemilu 2009. Anda tidak percaya. Silakan baca berita ini. Jauh sebelumnya, arus bawah nahdliyyin di Jawa Timur juga sudah menuntut DPP-PKB untuk mencapreskan kembali Gus Dur, maju menjadi calon presiden (ini beritanya). Dan saya yakin banyak lagi beritanya berserakan. Silakan Googleing.

Nah, kalau demikian, saya rasa keputusan itu sudah final bukan. Tak ada yang bisa lagi mengubahnya. Kecuali, memang telah ada rapat pleno dan gabungan antara Syura dan Tanfidz untuk menggagalkan pencapresan kembali Gus Dur, dan kemudian mencalonkan figure lain. Setahu saya, dan sejauh penglihatan saya, belum ada rapat yang khusus membahas soal itu.

Sehingga, kalau boleh saya bertanya sendiri apakah ungkapan ini: “Kenapa kita kembali memilih Gus Dur? Karena reformasi sudah kehilangan arah. Telah dibajak. Oleh karena itu reformasi akan kita kembalikan ke rel sesungguhnya,” ujar Ketua DPP PKB Muhaimin Iskandar dalam jumpa pers mendukung pencalonan Gus Dur sebagai Presiden di Hotel Sultan, Jl Gatot Soebroto, Jakarta, Minggu (9/3/2008)—sudah diingkari?

Pertanyaan tersebut pasti anda sudah tahu jawabannya. Namun, kenapa kemudian sampai ada pertanyaan dan desakan untuk membahas Pencapresan PKB?


1. Sekelas Tempo, mungkinkah salah memasukkan berita? Ah, saya sendiri ragu menjawab ‘mungkin’. Jelas, Koran ini sangat professional memilih berita. Namun, yang jadi soal, kenapa berita yang berlawanan itu masih bisa dimuat?

2. Apakah ini sebagai imbas dari konflik PKB, dan perlawanan Muhaimin atas Gus Dur? Hmm…kalau yang ini, bisa jadi mungkin. Dan kalau di pikir-pikir, diutak-atik gatuk, bahwa konflik PKB ternyata berujung kepentingan politik pencapresan. Lha ya to, wong Muhaimin sendiri sudah ngomong kalau Ia akan kembali ngusung Gus Dur… Tapi sekarang, justru Ia sendiri yang mengingkari. Dan perlawanannya selama ini kepada Gus Dur, ternyata bisa ditebak sebatas pencalonan dirinya masuk bursa Cawapres, serta yang terpenting, buntut pelolosan SBY untuk kembali memegang kursi Presiden 2009. Wah, kalo jawaban yang kedua ini kayaknya masuk logika deh. Oalaaah…segitunya to…

Tapi, saya jadi berpikir lagi, seharusnya sekelas Tempo juga musti jeli melihat ini. Musti juga menampilkan fakta lain yang telah mendahuluinya. Dalam arti, berita yang hari ini dimuat itu, sejatinya telah ada fakta lain yang telah hadir. Dan jika berita ini menegasikan fakta sebelumnya, musti ada penjelasan dan logika yang berimbang.

Kenapa saya bicara demikian, sebab kalau posisi Tempo mengambil jalan tengah, harusnya berita itu juga menampilkan fakta sebelum Konflik Partai ini, telah menentukan Capresnya, namun sekarang dari pihak Muhaimin menuntut kembali digelar penentuan Bursa Capres. Bukankah demikian?

Itupun kalau pihak Tempo tak ingin masuk dalam lingkaran pertentangan dua Kubu antara Gus Dur dan Muhaimin. Tapi kalau memang mau mengambil posisi di pihak Muhaimin sehingga muncul berita itu, ya, memang dalam satu perspektif tepat, tapi tidak tepat pada perspektif yang lain. Lantas, dimana cover both side-nya? Ah, sudah deh, mungkin Tempo jelas punya rasionalitas sendiri. Namun, saya juga berharap, bahwa itu jadi perhatian, meski (saya yakin) sepele.

Dan karena Tempo mengambil di satu Perspektif saja itulah, saya mengambil perspektif lain, untuk melakukan kritik atas pemberitaan itu.

Dan tentu, kritik terhadap pemberitaan ini juga akan berefek kritik saya pada internal partai yang, sekali lagi saya katakan, belum bisa menghargai sejarah. Tak mau melihat pengalaman. Mungkin ini perspektif saya. Namun, paling tidak pembenarannya adalah: jika sudah menetapkan ‘A’, dan kemudian ingin merubah menjadi ‘B’ musti ada pijakan rasio (hukum)nya. Tidak asal rubah kan? Hmm… pusing juga ya…


____________

NB: berikut ini berita yang saya maksudkan itu

PKB Didesak Membahas Calon Presiden

Rabu, 07 Januari 2009 | 11:17 WIB

TEMPO Interaktif, Semarang:Dewan Pengurus Pusat Partai Kebangkitan Bangsa didesak agar segera membahas bursa nama calon presiden atau wakil presiden untuk di usung dalam Pemilihan Presiden 2009 mendatang.

“Partai-partai lain sudah rame membahas calon masing-masing, tapi PKB masih belum ada suaranya,” kata Wakil Ketua Dewan Pimpinan Wilayah PKB Jawa Tengah, Ali Anshori di Semarang, Rabu (7/1).

Menurutnya, pembahasan soal calon presiden di PKB sangat penting apalagi pelaksanaan Pemilu sudah semakin dekat. “Biar kita ada waktu sosialisasi yang cukup,” katanya.

Menurut Ali, para kader PKB di bawah juga sudah sering bertanya-tanya kira-kira siapa yang akan diusung partai berlambang bola dunia dikelilingi sembilan bintang tersebut.

ROFIUDDIN

No Comments Yet »

RSS umpan untuk komentar-komentar dalam tulisan ini. URI Lacak Balik

Tinggalkan komentar

XHTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Blog pada WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.