
Rizieq... oh Rizieq... (foto: Getty Images by AFP/Getty Images)
Sebagai seorang muslim, saya sangat prihatin melihat realitas kekerasan yang terus saja dihembuskan oleh lembaga yang menempelkan nama Islam pada namanya. Begitulah FPI menerapkan gaya ‘dakwah’nya—untuk tidak mengatakan teror.
Dari berita yang ditulis di banyak media, Rizieq Shihab sebagai terdakwa kasus penyerangan di Monas I Juni lalu, akhirnya divonis 1,5 tahun atau 1 tahun 6 bulan oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Kamis (30/10/2008).
Majelis hakim menyatakan, Rizieq secara sah dan meyakinkan bersalah, telah melakukan tindak pidana dengan cara menganjurkan pengikutnya untuk bernuat kekerasan kepada orang dan barang.
Terlepas dari setimpal atau belumnya takaran hukuman tersebut, kita semua, khususnya umat muslim patut mengelus dada atas peristiwa (kekerasan) lalu di Ancol yang telah memakan banyak korban, terutama pihak AKKBB.
Dengan vonis 1,5 tahun ini, setidaknya menggantung angan-angan Rizieq untuk terus memburu kemana Jama’ah Ahmadiyah berada.
Namun nanti dulu, nyatanya dengan dihukumnya Rizieq tak membuat nyali para pengikutnya ciut. Justru perilaku mereka tambah liar. Lihatlah perilaku mereka selama masa persidangan sebelum putusan, bahkan sejak awal pemeriksaan.
Mereka acapkali menebar aroma kemarahan dengan mencaci, memaki, menghujat serta bahkan ada yang memukul wanita di dalam ruang sidang. Sungguh sebuah perbuatan yang menghina lembaga peradilan kita. Belum pernah ada yang melakukan seperti itu, namun dibiarkan saja oleh aparat hukum kita. Para aparat, bahkan serta para hakim juga terlihat pasrah tak bisa memperlihatkan ketegasannya untuk mengusir para pelaku kasar dalam ruang sidang tersebut.
Padahal jika saya mengamati dalam sebuah persidangan, hakim begitu menerapkan kesakralan lembaga peradilan ini. Bila ada sedikit saja suasana gaduh atau perilaku yang tidak menyenangkan dalam ruangan, Hakim tak segan-segan member peringatan, serta mengeluarkannya dari dalam ruang sidang. Namun kali ini, untuk FPI, entahlah, Hakim serta aparat kita mengalami ‘impoten ketegasan’
Yang jelas, banyak sekali hal yang bisa digugat mengenai laku FPI di dalam sidang yang tak sepatutnya. (baca)
Kembali pada arena persidangan putusan Rizieq Shihab. Pasca putusan tersebut Rizieq langsung berteriak mengucapkan hamdalah dan menyuruh anggota FPI yang berada di ruang persidangan untuk mengucapkan takbir.
Hal-hal yang memberatkan terdakwa, menurut majelis hakim, Rizieq telah mengganggu ketertiban umum. Sedangkan yang meringankan, terdakwa bersikap sopan dipersidangan serta Rizieq adalah seorang guru.
Dalam vonisnya majelis hakim juga menyayangkan, terdakwa sebagai pimpinan seharusnya bisa mencegah terjadinya unjuk rasa yang menimbulkan kerusuhan.
Karena itu secara hukum Rizieq dianggap telah memberi kesempatan terhadap terjadinya kerusuhan. Karenanya terdakwa harus bertanggung jawab secara hukum terhadap perbuatan muridnya.
Menghargai Perbedaan
Menurut saya, perilaku Rizieq dan kawan-kawannya ini sangat meresahkan masyarakat, terutama dengan aksi kekerasannya kepada siapapun, meski satu agama sekalipun. Ini disebabkan karena di luar golongan Rizieq dan FPI nya ini adalah dianggap ‘yang lain’ sehingga menguatkan aroma perbedaan pandangan serta ideology. Dengan keberbedaan inilah mereka melancarkan ‘amar ma’ruf nahi munkar’.
Saya kira, FPI sejak awal berdiri memang didisain untuk menjadi satu lembaga yang tidak akan pernah menghargai perbedaan diantara sesamanya (yang muslim), apa apalagi di luar (agama) mereka.
Tadi malam saja, di salah satu tv swasta (tv one), digelar sebuah dialog atas penyikapan putusan Hakim Pengadilan Negeri Jakarta, antara Pihak FPI yang diwakili oleh Ketua Lembaga Dakwah FPI Abdurrahman Jaelani dan Pihak AKKBB Guntur Romli.
Saya melihat sebuah tayangan dialog yang sangat tidak sehat. Melihat gaya seorang Abdurrahman Jaelani yang begitu kekeuh untuk terus berbicara keras, tanpa memberi kesempatan pada lawan bicaranya, sebuah pemandangan dialog yang sangat tidak mencerminkan orang islam yang musti menampakkan kesantunan serta bagaimana berdiskusi duduk satu meja bersama.
Wajar saja, jika Guntur Romli enggan duduk satu meja dengan orang ini. Lha, kalau Guntur Romli mau datang ke studio tv one, sudah dipastikan, massa FPI yang lain akan berbondong-bondong berebut memberikan hadiah ‘bogem mentah’ Guntur.
Inilah, sebuah bayangan yang bisa dikatakan Suudzon karena memang perilaku FPI yang selama ini menampilkan wajah kasar dan menakutkan. Sehingga banyak orang yang tidak simpatik atas aksi-aksinya itu.
Maka sejatinya, menurut saya layak jika lembaga macam ini dibubarkan saja. Tidak pantas lembaga yang memasang label islam, menggembor-gemborkan Tuhan untuk menghabisi nyawa sesamanya yang beda hidup di negeri Indonesia yang menjunjung tinggi hukum serta Pancasila, bukan Syariat Islam versi FPI. Bukankah begitu?!
DIarsipkan di bawah: Agama-agama, Politika | Ditandai: Abdurrahman Jaelani, FPI, Guntur Romli, Habib Rizieq Shihab, kekerasan, Pancasila, Syari'at Islam


RSS - Posts




CARA SAHABAT BERDAKWAH BERBEDA ADA YANG LEMBUT DAN ADA YANG TEGAS. (PENDEKNYA TIDAK RELA JIKA DI-OBOK2)
SEBAIKNYA DUDUK BERDAMPINGAN AKKBB DENGAN FPI DI STUDIO SUPAYA MASYARAKAT PAHAM DUDUK PERKARANYA DAN AKAN MEMBERIKAN PENDAPATNYA SEHINGGA MENIMBULKAN PENCERAHAN (SOLUSI), JANGAN SEMBUNYI PERSEPSINYA JADI MACAM2.
KAITAN DENGAN PEMILU PARTAI ISLAM YANG NOTABENE TERBESAR, DALAM KANCAH POLITIKNYA BELUM PERNAH MENCAPAI ANGKA 20%, INSYA ALLAH TAHUN 2009 AKAN DIBUKTIKAN.
Inna amalu bin niat.
Saya tidak bisa membaca niat dari AKKBB itu.
kalau dengan anggota FPI, sudah sering bergaul.
Friendly, honesty dan taawun kalau ada masalah mereka
segera membantu.
Pertamakali saya sangat benci dengan FPI, setelah mereka
sering silaturahim ke rumah saya.
Ya, baru tahu saya mereka seperti ini.
Saya belum pernah silaturahim dengan AKBB, coba main ke rumah saya. dan kita ingin bertukar pendapat.
iye fpi baik kalo soalnya mo menambah massa buat ngancurin orang. yang dibanggain cuma nolongin korban tsunami aceh,, cuma itu doang, selebihnya non sense alias kekerasan.. heran ga malu apa teriak2 allahu akbar abis mukulin orang, pas melakukan kekerasan.. mendingan iblis daripada fpi.. najis.. bikin malu islam aja, sok2an mo menegakkan syariat menjaga aqidah, benerin dulu aqidah lo.. gw juga heran pas debat di tv one, massa AKKBB santai tenang ga mengganggu acara debat tapi massa fpi dibelakang emosi, ribut2 ga jelas,, haduh keliatan banget sih orang2 kampungan make otot tapi ga punya otak, baru masuk tv aja gitu, untung ga masuk bioskop, bisa sakit kuping gw kalo tv masih bisa di mute.. cuapee dehh..
fpi kalo emang benci sama orang2 yang kalian anggap kafir and musyrik ato mo menegakan syariat Islam, kalian pergi jihad ke Amerika ato Rusia sono kan fpi nyalinya hebat2….. kalo berani sih kalo ga juga gapapa,,,,,,,,, ntar kan kalo pada mati langsung masuk surga, enak tuh udah masuk surga dikenang pula sama Indonesia, ntar pasti pada dapet gelar pahlawan tanpa tanda tanda.. jangan beraninya rusuh di kandang doang, keroyokan pula, kan kasian sodara2 yang lain, satu nusa satu bangsa coy.. sama2 susah, sama2 cari uang buat makan keluarga, sama2 berdoa ke Tuhan YME walaupun beda2 caranya tapi gw yakin Tuhan nerima doa semua ciptaannya asalkan tulus, masalah dosa bukan urusan kalian, urusan kalian cuma berbuat baik kepada semua mahluk ciptaannya TANPA PAMRIH dan TANPA TERKECUALI gitu aja kok repot. bukannya ngebantu tapi malah nambah masalah doang disini.. KALO MENURUT GW FPI GANTI KEPANJANGANNYA DEH, JANGAN FRONT PEMBELA ISLAM, TAPI JADI FRONT PENGAJIAN ISLAM, kan enakkan tiap malem ngaji jadi tetangga juga enak nyumbang kopi sama cemilannya, daripada bikin rusuh mulu..
Tidak tarbayangkan jika FPI dibubarkan,maksiat tambah parah,pemurtadan merajalela,ummat Islam tidak punya benteng pertahanan dalam menahan serangan2 misionaris yang akan memurtadkan ummat Islam.
tidak bijak memaki FPI jika dirinya mengaku muslim,karena cuma FPI yang mampu membentengi ummat Islam.
Saya meyakini kekerasan yang dilakukan FPI bukan tiba2,kekerasan tersebut adalah titik didihnya setelah sebelumnya melalui proses pengamatan dan pendekatan persuasif.
terima kasih komentarnya untuk semua. mari kita bangun peradaban ini dengan penuh kedamaian dan saling mencintai serta memahami antar sesama. terima kasih
kita sama2 punya keyakinan n itu adalah hubungan pribadi kita dgn Tuhan…tiap org g bs maksain keyakinannya ke org lain karena hubungan dengan Tuhan sifatnya pribadi sekali.belum tentu saya mengikuti ajaran org lain yg dianggap benar nntinya masuk surga.apakah mereka yg memaksa kehendaknya bs bertanggung jawab? g kan??sampai di peradilan akhir,kita sendiri yg bertanggung jawab n g ada pengacara…oleh karena itu, kita jalani aja kebebasan kita beribadah n menjalankan keyakinan kita masing2..anda juga akan merasa takut diganggu kl anda merasa iman anda benar n dh kuat…GBU all.