Entah, apa yang ada di benak aktor kekerasan yang ditampakkan sebagian kelompok di tanah air akhir-akhir ini. Eksistensikah, perjuangan ideologi (agama?), atau pragmatisme sempit alias pesanan tangan-tangan jail tersembunyi (invisible hand)?
Bisa jadi perkiraan di atas keliru, tapi tak kecil kemungkinan justru benar. Kita buktikan dengan fenomena yang baru saja menjadi ‘buah bibir media’ kemarin (1/6) di Silang Monas Jakarta. Insiden kekerasan, pemukulan dan penyerbuan melanda Aliansi Kebangsaan Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) pada Minggu siang yang tengah memperingati hari kelahiran Pancasila. Pihak yang dianggap melakukan penyerbuan menamakan diri Front Pembela Islam (FPI).
Aksi tersebut kembali menjadi titik balik bagaimana kekerasan masih tetap menjadi tanda dan cermin dalam sistem politik, hukum, sosial dan budaya kita. Lemahnya daya imunitas dan regulasi dalam bidang tersebut di Negara kita membuat penyakit yang bernama kekerasan (dengan segala bentuk perniknya) masih tetap tumbuh subur. Bahkan pertumbuhan mereka tak jarang meminta ‘tumbal’ alias memakan korban. Memori kolektif masyarakat kita kembali dingatbalikkan dengan adegan-adegan kekerasan yang diputar berulang-ulang.
Beberapa waktu lalu, kita juga sempat akrab dengan suguhan media ketika memblow-up kekerasan yang terjadi di Kampus Jatinangor IPDN. Jika kita cermati, jelas perilaku demikian sangat mengiris relung kemanusiaan dan nasionalisme kita sebagai bangsa. Kemanusiaan kita seolah-olah tiada arti, terinjak-injak oleh anarkhisme dan perilaku preman yang bengis dan kejam. Nasionalisme sebagai bangsa yang beragama dan beradab juga menjadi taruhan, terutama di mata publik dan dunia. Sampai-sampai dalam hal ini Presiden dan Wapres memberikan komentar kemarahannya.
Dalam hal ini aksi-aksi kekerasan kelompok yang menamakan diri FPI jelas-jelas sangat parah dan sulit untuk dimaafkan. Terlepas ada pro dan kontra antara kedua belah pihak (FPI dan AKKBB), namun seyogyanya kita tidak terpancing dengan provokasi untuk melakukan tindakan menginjak-injak keadaban kita sebagai makhluk beragama, Islam yang rahmatan lil’alamin.
Genealogi Kekerasan FPI
Oleh karena itu, menurut penulis aksi-aksi kekerasan FPI selama ini bisa kita lacak genealogi (asal-muasal) sumber dan dasar pijakannya secara ideologis dari beberapa faktor berikut ini;
Pertama, kekerasan atas nama agama. Berbekal reaksi ketidaksetujuan berbagai pihak (termasuk penulis) T.K. Oommen, sosiolog asal India, menyimpulkan bahwa kekerasan itu hadir bukan hanya disebabkan oleh faktor-faktor eksternal seperti ekonomi, politik, dan psikologi, tapi juga karena agama sendiri menyediakan rujukan yang cukup banyak untuk perilaku semacam itu. (T.K. Oommen, Religion as Source of Violence, 2001; dikutip dari Luthfi Assyaukani, 2005).
Doktrin ini terlihat jelas manakala aksi-aksi kekerasan dan premanisme yang dilakukan oleh organisasi Islam macam FPI kerap berlindung di bawah panji-panji agama. Sejak dideklarasikan tahun 1998 hingga saat inipun, kita merasakan betapa kelompok ini sering melakukan sweeping, pemberantasan Miras, Prostitusi, dengan cara destruktif. Di sinilah, penulis melihat perasaan terlampau percaya diri yang kelewat besar sebagai umat terbaik—meminjam bahasa al-Qur’an—khoiro ummatin—hingga jalan membumikan perintah Amar Ma’ruf Nahi Munkar itu juga kelewat batas, alias keblabasan.
Melihat, mencermati dan menganalisis kecenderungan kelompok ini yang selalu agresif menyerang wilayah (objek) lain yang dianggap the others (yang lain, berbeda ideologis) maka tepat kiranya melihat sumber Kedua, Kekerasan yang bersifat agresif yang muncul itu bersumber dari Frustasi Sosial.
Adalah John E. Mack, seorang ilmuwan asal Prancis yang telah mengemukakan Teori ‘Frustasi-Agresif’ di tahun 1986. Perkembangan teori Mack ini kemudian menyusun hipotesa penting bahwa semua agresi, baik antar individu/kelompok maupun antar bangsa, berakar pada rasa frustasi pencapaian tujuan salah satu atau lebih pelaku agresi itu. Artinya, konflik itu dapat ditelusuri pada tidak tercapainya tujuan pribadi atau kelompok dan rasa frustasi yang ditimbulkannya (El Fatih A. Abdel Salam, Profesor Ilmu Politik Malaysia, www.scripps.ohiou.edu/news/cmdd/artikel_ef.htm, 2008)
Memang, dari teori ini, kita bisa saja menyangkal dengan pertanyan seperti: apakah semua frustasi secara otomatis mengarah pada agresi, dan dapatkah semua agresi dan konflik ditelusuri berasal dari rasa frustasi yang katalistis (tidak mengalami perubahan)?
Namun, kita ingin melihat kecenderungan yang ditampakkan selama ini oleh organisasi pimpinan Habib Riziq Syihab yang terus menerus, berulang, telah beraksi guna mencapai tujuannya.
Seperti diketahui, bahwa tujuan FPI menjadi wadah kerja sama antara ulama dan umat dalam menegakkan Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar di setiap aspek kehidupan. Dalam sebuah blog yang mengklaim diri milik FPI juga tertulis jelas bahwa FPI hadir untuk menegakkan kebenaran dan keadilan demi terwujudnya Syari’at Islam (lihat http://fpi-online.blogspot.com)
Namun jika kemudian tujuan tersebut diwujudkan dengan aksi dan perilaku merusak seperti yang selama ini kita lihat, maka jelas FPI memang masuk dalam kategori Islam Radikal yang merasa Frustasi atas gagalnya tujuan untuk mewujudkan Indonesia sebagai Negara Islam. Mereka harus berhadapan dengan Gerbong keagamaan yang lain seperti Nahdlatul Ulama yang menolak Negara Islam. Melihat ini, kita masih lihat betapa lemahnya pemerintah dalam menyikapi tingkah ulah FPI. Lihatlah pasca bentrok 1 Juni kemarin, elite pemerintah kita saling lempar tanggung jawab; siapa yang paling punya wewenang untuk membubarkan FPI. Publik curiga, ada apa di balik enggannya Pemerintah untuk membubarkan FPI selama ini?
Infiltrasi AS
Tidak berlebihan jika jawaban dari pertanyaan terakhir ini, penulis ingin merujuk pada investigasi Robert Dreyfuss, seorang Jurnalis Investigasi asal Kolombia. Dalam buku Dreyfuss yang kemudian disunting oleh Agus Maftuh Abegebriel berjudul “Devils Game Orchestra Iblis; 60 Tahun Perselingkuhan Amerika-Religious Extremist” (2007) cukup menjadi rujukan yang tepat.
Dalam karangan setebal 486 halaman itu membeberkan bagaimana keterlibatan Amerika Serikat (AS) dalam proyek penumbuhsuburan Religious Extremist. Meski tidak sempat merekam bagaimana perselingkuhan AS dengan kelompok ekstrimis di Indonesia, namun dalam beberapa lembar karangannya banyak menyebut kata Indonesia dalam rangka mendukung jejaring Stakeholder AS.
Di mata Dreyfuss ada persamaan signifikan antara Islam Fundamentalis dan Radikalisme Gereja di AS: keduanya menganggap pendapat kelompoknya yang paling benar dan ‘yang lain’ adalah murtad dan kafir. Laiknya kelompok Fundamentalis Islam di Indonesia yang punya agenda menjadikan Negara Islam Indonesia, para fundamentalis gereja juga menganggap bahwa Amerika adalah “Negara Agama Kristen (Christian State)”. Dan mereka punya kesamaan agenda untuk menghegemoni komunitas lain di manapun di dunia ini.
Keyakinan inilah yang mendorong Direktur CIA William Joseph Casey untuk menumbuhsuburkan Islam Politik dan Gereja Katolik sebagai sekutu dan partner alami untuk meluluhlantahkan komunisme Ateistik Uni Soviet.
Dari sini jelas bahwa ‘ritual’ kekerasan yang acapkali didengungkan dengan menyembulkan panji-panji agama, besar kemungkinan merupakan skenario yang telah disusun lama oleh para intelejen asing (baca: AS). Lihatlah target utama kelompok ekstremis ini adalah mereka yang getol ‘membela’ Pluralisme, Liberalisme Agama, Komunisme, hingga keragaman pandangan (Ahmadiyah, misalnya). Jika ada orang atau kelompok yang memperjuangkan atau berpaham salah satunya, maka itulah commun enemy bagi si Ekstremis ini.
Nah, kejadian atau insiden di Monas kemarin menurut penulis sejatinya bersumber dari Frustasi FPI atas kelonggaran Pemerintah atas Paham Ahmadiyah di Indonesia. Di samping juga jelas benih dendam lama pada aktor-aktor di belakang AKKBB. Hal ini terbukti dengan lontaran keras Riziq pada diri KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang menjadi ‘antek Yahudi’ serta umpatan yang tak pantas diucapkan oleh tokoh beragama semacam Habib Riziq.
Maka, jalan satu-satunya adalah ketegasan pemerintah untuk segera membasmi gerakan radikalisme yang merongrong semangat kebangsaan dan perjuangan kemanusiaan di muka bumi. Dan yang terpenting Jihad yang selama ini diteriakkan oleh FPI—untuk penumpasan Ahmadiyah, misalnya—sudah saatnya bukan lagi memberangus kemanusiaan dan hak-hak manusia, namun pada satu perjuangan untuk mewujudkan kehidupan yang berperikemanusiaan dan berkeadilan. Wallahua’lam.
DIarsipkan di bawah: Agama-agama, Sosial | Ditandai: Amerika Serikat, FPI, infiltrasi


RSS - Posts




amerika bisa semua kali ya…
Salam ke bang wiwit.
tulisan abang lumayan berwawasan, tadinya saya dari sebelah yang abang juga ada disana… huuuh panas terus saya ikut kemari.
saya merasa risih dengan habib dan pak baasyir, inikah gaya ilmu tertinggi beliau-beliau yang mereka pertontonkan? memang ahmadiyah kita tidak setuju dan harus dibubarkan di indonesia, tapi anarkhis juga tidak benar menjadi jalan keluar.
dan pemerintah indonesia seharusnya punya ketegasan, bahwa undang-undang negara ini tidak pandang bulu karena setiap teksnya adalah amanah. saya juga tidak menutup kemungkinan kecurigaan kadang beginilah bisnis orang-orang elit. negarawan kah mereka atau politisi. seperti yang telah bang wiwit uraikan diatas itu juga boleh terjadi di indonesia. hehehe……