Biaya Bersih-bersih ’Markus’ 10 Triliun
9 November 2009 at 5:08 pm | In Hukum & HAM | Leave a CommentTags: Hendarman Supanji, kejaksaan, korupsi, KPK, makelar kasus, markus, tikus

Jaksa Agung, Hendarman Supandji mengikuti rapat kerja dengan Komisi III DPR RI di Gedung DPR RI, Jakarta, Senin (9/11). Selain membahas kinerja kejaksaan, rapat kerja ini juga membahas beberapa hal aktual diantaranya mengenai proses hukum dua pimpinan KPK (non aktif) Chandra M Hamzah dan Bibit Samad Rianto.
Sebagai rakyat biasa yang awam, rasanya cukup sakit mendengar pernyataan jaksa agung kita hari ini, yang menghadiri dengar pendapat dengan komisi III DPR RI untuk mendalami kasus hukum yang akhir-akhir ini tengah ’panas’ diperbincangkankan.
Dalam hal ini saya secara pribadi hanya ingin menyimak sebagian statemennya yang cukup menggugah emosi saya. Dalam siaran langsung yang ditayangkan oleh media tv swasta itu, sorotan begitu menyorot ke wajah sang jaksa agung ini.
Dan begitu tiba sebuah cecaran dari anggota komisi mengenai maraknya makelar kasus (markus), Jaksa Agung Hendarman Supandji mengungkapkan, selaku komandan di kejaksaan, ia sudah berupaya optimal untuk meminimalkan keberadaan para “calo” tersebut.
Seperti dilaporkan oleh wartawan kompas Inggried Dwi Wedhaswary “mengenai ‘markus’, saya ini pada prinsipnya di hati nurani ingin membersihkan ‘markus’ ini. Baunya ada, tapi sulit untuk membersihkan. Setiap ruangan saya tempeli, ‘MARKUS DILARANG MASUK’. Tapi tidak efektif karena pertemuan dengan ‘markus’ bisa dilakukan di luar kantor,” kata Hendarman, Senin (9/11), dalam rapat kerja di Gedung DPR, Jakarta.
“SOLUSINYA, PERBAIKAN KESEJAHTERAAN YANG SAYA MINTA RP 10 TRILIUN UNTUK MEMINIMALKAN ‘MARKUS’. TAPI, MINTA RP 5 TRILIUN SAJA SULIT. DENGAN ANGGARAN HANYA RP 2 TRILIUN, SULIT KAMI LAKUKAN,” UJARNYA.
Tampaknya, ini yang jadi maksud Herdarman untuk sejatinya meminta tambahan anggaran terlebih dahulu, sebelum menata dan membersihkan kejaksaan dari ‘tikus-tikus markus’ yang ada di institusi kejaksaan.
Yang patut disesalkan adalah, kenapa tidak ditekankan bagaimana menata dan membina moral korps kejaksaan lewat berbagai macam kebijakan, bukan lewat ngemis anggaran 10 Triliun dahulu. Secara logika, Hendarman memang mengakui bahwa institusinya ini memang dihuni banyak sekali ‘tikus dan markus’ yang berkeliaran. Dan ia ingin, untuk menyulap sang tikus menjadi manusia agung penegak keadilan itu hanya cukup lewat jalan penaikan anggaran 10 triliun.
Memang, pemberian kesejahteraan menjadi sarana yang tepat untuk meminimalisir munculnya makelar kasus yang mencari ‘receh’ guna menebalkan dompetnya. Jika demikian halnya, maka yakinlah, selamanya rumah kejaksaan akan menjadi sarang ‘tikus dan markus’ yang beringas akibat keringnya kesejahteraan mereka. Bukan begitu pak Hendarman?
Sumber konflik “Cicak vs Buaya”, Ada Hubungan dengan Dana Kampanye SBY-Boed?
5 November 2009 at 3:17 pm | In News hangat | 2 CommentsIseng-iseng membuka facebook, dari catatan saudara Milo, nampaknya ada satu selentingan menarik terkait dengan kasus yang baru-baru ini marak menjadi pegunjingan di public dan jagad media serta perpolitikan negeri.
Hmmm… langsung saja kita menuju ke …TKP
Akar Pertikaian Cicak Versus Buaya: Dari Mana Aliran Dana Kampanye SBY-Budiono? (lihat sumber)
Sewaktu saya melihat pak SBY memberikan keterangan pers tentang penangkapan Bibit dan Chandra, ada sebuah pertanyaan di benak saya, Kenapa harus presiden sendiri ?, Kenapa tidak Menteri Hukum dan HAM ?, atau maksimal bisa Menko Polhukam?
Continue reading Sumber konflik “Cicak vs Buaya”, Ada Hubungan dengan Dana Kampanye SBY-Boed?…
Gus Dur Serukan Muktamar PKB 2010 Februari
1 November 2009 at 12:03 pm | In Gus Dur Thought, News hangat | Leave a CommentTags: Gus Dur, KH. Abdurrahman Wahid, Muhaimin Iskandar, Muktamar, NU, PKB
Penindasan pemerintah terhadap kepemimpinan KH. Abdurrahman Wahid di PKB (partai kebangkitan bangsa) tak membuat surut langkah dan menyerah. Cucu pendiri NU ini nyatanya masih punya harapan besar dan kekuatan untuk menggerakkan nafas partai.
Setelah didzolimi oleh pemerintah berkali-kali dalam kurun waktu 2 tahun ini, Gus Dur ingin menegaskan bahwa PKB harus mengadakan Muktamar pada 2010 awal. Dalam keputusan rapat Pleno di Kantor PKB pada 28 Oktober lalu, Gus Dur menyatakan bahwa dirinya sejatinya telah didesak oleh kiai-kiai untuk segera mengadakan Muktamar di PKB
”Justru kia-kiai mendesak minta sekarang saja” ujar Gus Dur.
Dan kemudian statemen ini kembali di sampaikan dalam keterangan Pers di Kantor PBNU kemarin (29/10). Dengan didampingi oleh sejumlah Kiai seperti Kiai Maman Imanul Haq dan Pengurus Dewan Syura, Ketua Umum Dewan Syura DPP PKB itu mengaku siap mengadakan Muktamar III pada Februari 2010 atau satu bulan setelah pelaksanaan Muktamar NU. “Sebenarnya kiai-kiai yang datang sudah minta saya untuk mempercepat saja. Tapi, memang lebih baik setelah NU,” ujar Gus Dur saat memberikan keterangan pers di Kantor PB NU, Jl Kramat Raya, Jakarta, kemarin (31/10).
Menurut presiden ke-4 RI itu, para kiai merasa prihatin atas kondisi PKB saat ini. Partai berlambang bintang sembilan itu dianggap terlalu bergantung pada penguasa. PKB, kata Gus Dur, juga makin kehilangan jati diri sebagai partai yang tumbuh dari gerakan moral. “Intinya, partai ini perlu diselamatkan,” tandas Gus Dur.
Aturan di internal PKB memiliki keunikan tersendiri. Tidak seperti partai lain pada umumnya, pada Muktamar II Semarang lalu ditetapkan dua mandataris. Yaitu, Muhaimin Iskandar sebagai ketua umum Dewan Tanfidz dan Gus Dur sebagai ketua umum Dewan Syura. Dualisme kepemimpinan inilah yang dianggap sebagai salah satu pemicu konflik selama ini.
Selengkapnya, berikut ini beritanya:
Continue reading Gus Dur Serukan Muktamar PKB 2010 Februari…
Muntik Tewas di Malaysia; PR Muhaimin
1 November 2009 at 12:02 am | In News hangat | Leave a CommentTags: Jawa Timur, Jember, kekerasan, Malaysia, Menakertrans, Muhaimin Iskandar, Muntik, PKB, siksa, TKI, TKW

TKI Meninggal: Beberapa warga menggotong kedatangan jenazah TKI, Muntik (47) binti Bani di Dusun Pondok Jeruk Barat, Desa Wringin Agung, Jombang, Jember, Jawa Timur, Sabtu (31/10). Muntik seorang TKI yang tewas di Selangor Malaysia setelah dianiaya majikannya. (FOTO ANTARA/Seno S)
Kasus meninggalnya TKI akibat penyiksaan dan tindakan kekerasan oleh majikan kembali terjadi. Kali ini, menimpa Muntik binti Bani (36), penduduk Desa Pondok Jeruk Barat, kecamatan Ringin Agung, Jombang, Jawa Timur.
Ia tewas akibat perbuatan biadab yang dilakukan majikannya yakni sepasang suami istri warga Malaysia beretnis India, Vanitha (29) dan Murugan (35).
Muntik yang baru 2 bulan bekerja di Malaysia itu menghembuskan nafas terakhir pada Senin 26 Oktober kemarin, setelah selama 6 hari dirawat di Rumah Sakit Tengku Ampuan Rahimah, di Klang, Selangor.
Seperti diberitakan oleh detik.com, Tim dokter yang menangani Muntik mengungkapkan kondisi perempuan itu sebelum meninggal. Muntik diketahui mengalami patah tulang di pergelangan tangan, tulang rusuk, dan tulang punggung akibat benturan benda keras. Selain itu ada luka yang terlalu lama di kaki yang mengakibatkan infeksi dan kondisi fisiknya merosot. Bahkan luka di kaki sebelah kanan sudah membusuk hingga terlihat tulangnya.
Berikut ini beberapa berita tentang tewasnya Muntik:
Angkuhnya si Ketua RT
27 Oktober 2009 at 2:02 pm | In Kamar Curhat | Leave a CommentTags: birokrasi, desa, ketua RT, KK, KTP
Hari ini, saya menjumpai sikap seorang ketua RT yang sangat tidak bersahabat. Entah kenapa, saya sebagai seorang (mantan) warganya, sudah berusaha untuk bersikap sopan, menegur dan menjemput untuk lebih dahulu menyalaminya. Tapi tak ada sikap berbalas senyum atau keramahan yang keluar dari raut mukanya.
Hmm… kenapa ya? Apakah seperti ini perilaku ketua RT di kota besar. Saya takut keyakinan itu menjadi bulat dan menciptakan satu image, bahwa perilaku orang di perkotaan adalah akrab dengan ketidakakraban, cuek, dan acuh tak acuh. Kalau demikian, bagaimana mau membimbing warganya.
Saya jadi berpikir, apakah saya pernah punya salah. Tapi seingat saya, hanya ada satu insiden yang barangkali menjadi catatan baginya terhadap saya.
Saat itu, saya tengah mengurus pembuatan KTP. Ia menceritakan alur, biaya serta macam-macamnya, hingga menetapkan kurang lebih biaya pembuatan KTP beserta Kartu Keluarga, sekian. Dengan sekian ketidakyakinan, saya menyerahkan juga sebagian uang itu. Namun belum diurus sepenuhnya, saya mendapatkan masukan, bahwa pak RT ini memang sedikit punya keahlian untuk memeras warganya yang hendak mengurus persuratan dan administrasi kewargaan. Makanya, saya putuskan untuk menarik kembali uang itu dari tangannya.
Lebih baik saya mengurus sendiri proses pembuatan KTP, biar belajar menjadi warga negara yang baik, daripada ikut berperan melanggengkan tradisi ketergantungan pada pihak calo KTP. Hmm, ini rupanya?
Kalau alasan ini yang jadi titik pangkal, rasanya tak etis dibawa pada sikap saling bertegur sapa dan menyalami satu-sama lain. Duh pak RT… Angkuhnya dirimu. Semoga cepat saja kau diganti oleh orang-orang yang lebih bersahabat dan lebih berkerabat.
Dekonstruksi Paham Konvensional Zakat
14 September 2009 at 11:18 pm | In Islamic Studies | Leave a CommentTags: dekonstruksi, Farid Esack, harta, islam, kaya, M. Quraish Shihab, mahdhah, maliyah, membebaskan, miskin, mohammed arkoun, progresif, rekonstruksi, Sosial, zakat
Realitas kemiskinan tampaknya telah menjadi sepotong kenyataan universal yang akan selalu menjadi ‘teks’ bagi orang-orang yang berpikir. Teks yang meniscayakan tafsir akan kepentingan ekonomi yang timpang, sehingga perlu ada keberpihakan terhadap ‘kelompok pinggir’ ini lewat pemberdayaan ekonomi. Dalam ranah agama, konsep pemberdayaan ekonomi ini acap dibunyikan dengan perintah Zakat.
Menurut M. Quraish Shihab (1997: 323-5), zakat merupakan jenis ibadah yang berkaitan erat dengan harta benda (maliyah). Oleh karena itu, bagi siapa saja (muslim) yang telah memenuhi syarat, sebagaimana yang telah ditentukan syariat, maka dia dituntut untuk menunaikannya, bukan semata-mata atas dasar kemurahan hatinya, tapi kalau perlu ‘dipaksa’ dengan menggunakan kekuasaan.
Sebegitu pentingnya ritual peribadatan ini, sampai-sampai orang banyak yang berlomba untuk menuntaskan ‘hasrat ubudiyah’nya di bulan Ramadhan dengan mendermakan sebagian hartanya kepada orang-orang yang membutuhkan. Pada saat yang sama, kelompok warga yang tergolong miskin telah siap antri untuk menerima sedekah dan pemberian zakat.
Wajah Baru
14 September 2009 at 2:33 pm | In Tidak terkategori | Leave a CommentJika ada diantara anda para pembaca dan pengunjung blog sederhana ini bertanya, “Adakah yang berubah dari blog ini?” Jawabnya, “Ya”.
Entah karena ada rasa bosan atau upaya untuk lebih mempercantik diri dan menuju pada konsep yang lebih sempurna, bagaimana proses nanti aja. Tapi yang jelas, saya itu kepengin merubah diri agar blog ini lebih punya selera dan (syukur) kalau bisa “bikin hidup dan lebih hidup”—meminjam iklan sebuah rokok.
Tradisi Kekerasan=Cermin Budaya Sakit
11 September 2009 at 5:04 pm | In Sosial | 2 CommentsTags: bobrok, budaya sakit, ekonomi, kekerasan, kultur, lewis coser, politik, Sosial, tradisi, violence
Membincang kekerasan memang tak ada mati dan putus-putusnya. Baru saja, seorang sahabat memampang status di Facebook, “Tadi fajar YPMI diserang minhum.. Mereka mengajak preman2 yang sedang mabok. YPMI dirusak… Sampai kapan kita terus jadi mainan mereka…”
Tanpa ingin memperjelas objek sasaran kekerasan, namun kita hanya ingin memberikan penegasan bahwa penyelesaian masalah dengan jalan kekerasan itu tak akan menyelesaikan masalah. Bahkan justru menimbulkan masalah baru.
Jika sudah demikian, maka kultur dialog, dan penghargaan terhadap ‘liyan’ (the others) jelas akan mengalami degradasi dan pengikisan. Mereka tak lagi mau menyelesaikan persoalan itu dengan dialog. Karena sejak awal, mereka memang tak mempunyai sense terhadap segalam macam hal yang berbau beda dan majemuk. Sehingga ketika ada hal yang dianggap mengancam eksistensi mereka, itu berarti harus dihapuskan dan singkirkan.
Anak Gaul Paham Islam
11 September 2009 at 3:22 pm | In Tidak terkategori | 3 CommentsTags: anak gaul, buku agama, fikih, fikih for teens, fiqh, islam, M. Nasrudin, paham, renyah, ringan
Judul tersebut, sengaja saya copas (copy paste) dari potongan sebuah judul buku yang berjudul “Fikih for Teen’s, Anak Gaul Paham Islam” karangan M. Nasrudin (ini link blognya, ini facebooknya). Meski saya belum membaca isi bukunya, namun dari ulasan sederhana yang dipaparkannya, paling tidak saya bisa meraba bahwa sahabat saya ini ingin menyuguhkan satu rasa keberagamaan yang renyah dan mudah dicerna, khususnya kalangan anak-anak mudah (ABG).
Tentu saya sangat mendukung dan mengapresiasi, bahkan angkat topi atas usaha keras Nasrudin ini. Mumpung saya punya media blog, saya sajikan saja di sini untuk dikonsumsi oleh pembaca semua, bahwa buku ini layak untuk dibaca siapa saja, terutama bagi yang menginginkan rasa keagamaan yang mudah dicerna, ringan dan membebaskan.
Ada yang tahu, kenapa kita perlu beribadah …?
Saat berdiskusi dengan kawan-kawan di sebuah SMA di Kota Semarang, ada yang bertanya, “Kak, Kenapa kita harus beribadah? Apakah Tuhan butuh untuk disembah?”
Celeguk! Saya terdiam. Batin saya, ini pertanyaan yang cukup berbobot untuk ukuran anak SMA. Tapi itu yang mereka tanyakan. Dan saya harus menjawabnya. Memutar otak. Gengsi dong, masak mahasiswa Fakultas Syariah gak bisa jawab pertanyaan seperti itu. Hehehe…
Tapi tidak mudah juga menjawabnya. Karena saya harus menggunakan logika yang bisa diterima anak-anak SMA. Jika saya terlalu banyak mengutip ayat atau hadits, saya khawatir, pemahaman mereka hanya akan terpaku pada teks itu. Kawan-kawan yang baik ini kurang berani mengembangkan diri dalam pemahaman keagamaan.
“Kamu ingin disayang Ayah-Bunda?”
“He-eh,”, jawabnya lantang, mengangguk.
“Kamu harus menjaga komunikasi yang baik dengan Ayah-Bunda. Caranya, gak bikin mereka marah gara-gara kamu telat bangun. Atau, gak ngabisin makan sahur, padahal ibu sudah cakep-capek masak…” kataku.
“Tyus?”. Ia memberondong saya dengan tanya yang lain.
“Kamu pengen disayang Tuhan?”
“Pasti dong”
“Makanya, kamu perlu membangun komunikasi yang baik dengan Tuhan.”
“Caranya?”
“Ya dengan ibadah”, jawabku terang. Dan kawan saya tadi tersenyum. Tahu kenapa? Temukan jawabannya di buku ini…
Judul : Fikih For Teens, Anak Gaul Paham Islam
Penulis : M. Nasrudin
Tebal : xx + 176 hlm
Cetakan : Perdana, Agustus 2009
Penerbit : Penerbit Jauza, Jogjakarta
Harga : Rp 32.000,-
Blog pada WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.








