Kematian itu menjadi satu yang niscaya dihadapi oleh manusia. Pasti. Tidak akan ada yang bisa menolaknya.
Kabar itu saya terima dari teman lama di MAN dulu. Lewat SMS ia memberikan kabar bahwa salah satu guru kita, bapak Sam’ani, telah meninggal dunia.
Ingatan saya langsung menerawang dan mencari acuannya yang lebih kuat. Kalau tidak salah pak Sam’ani ini adalah guru bahasa Inggris di MAN Cilacap yang sempat mengajar saya saat kelas I.
“ya, betul”, teman saya membenarkan. “tadi pagi di bawa rumah sakit, sorenya meninggal”, tambahnya.
Ya Tuhan, ternyata kematian itu memang akan datang pada siapa pun. Segera saya mengucap doa untuk beliau yang telah menuju ‘rumahnya’ selamanya. Semoga, amal dan ibadah bapak diterima oleh Allah SWT. Dan tentu, saya juga mendoakan jika terdapat dosa dan kesalahan, diampuni dosanya.
Saya dan Anda, kapan?
Itulah pertanyaannya, semoga dengan musibah kematian ini, selalu mengingatkan kita untuk terus bersyukur kepada Allah akan segala nikmat yang telah diberikan oleh-Nya; berupa apa pun, tanpa terkecuali. Nikmat sehat, baik jasmani maupun rohani, dan segala nikmat yang lain.
Pada saat yang sama, kita tentu harus pula menanamkan satu kesadaran dalam batin kita, bahwa kita pun akan segera menyusul kematian. Entah, esok, lusa atau kapan, kita gak tahu waktunya. Yang jelas, ia akan datang dengan tanpa undangan. Semoga, kita selalu siap dengan datangnya kematian.
Terakhir, Selamat Jalan pak Sam’ani. Kau adalah pahlawan tanpa tanda jasa yang telah menoreh ilmu dan kebaikan buat kami semua. Tak kan kami lupakan itu untuk selamanya, bahkan, itu akan selalu tumbuh dan berkembang menjadi aliran amal buat panjenengan di sana, amiiin.
DIarsipkan di bawah: Kamar Curhat | Ditandai: kematian, MAN Cilacap, mati, pasti, Sam'ani, selamat jalan | Leave a Comment »





RSS - Posts



