Berpikir, jalankan

Berpikir, jalankan. Beberapa saat lalu, saya sedikit merenung sambil nyeruput es buah yang saya beli di pengkolan jalan. hmm… manusia itu memang musti memfungsikan pikiran (akal) dan segala dayanya untuk menjalani hidup ini.

Tanpa mau berusaha memeras otak dan tubuh ini, rasanya kita akan tetap ditempat. Di tempat kesunyian, kesendirian, kejenuhan, kelelahan, kerugian, kebosanan, ketidakuntungan, dan segala macam ‘ke…an’-an yang lain.

Itulah rasanya, sesuatu yang sedikit baru aku peras hikmahnya dari alur memikirkan sesuatu, memutarnya, mengolahnya, hingga memperoleh jalan dan peran, kemudian melakoninya.

Tidak semua orang bisa tekun dan sabar menjalani alur itu. Jadi, saya sendiri berharap agar ketidaksadaran saya barusan itu akan membekas menjadi satu pedoman yang terus bisa dipegang dan diamalkan…

kalibata, 23 des 09

Selamat Jalan Pak Sam’ani

Kematian itu menjadi satu yang niscaya dihadapi oleh manusia. Pasti. Tidak akan ada yang bisa menolaknya.

Kabar itu saya terima dari teman lama di MAN dulu. Lewat SMS ia memberikan kabar bahwa salah satu guru kita, bapak Sam’ani, telah meninggal dunia.

Ingatan saya langsung menerawang dan mencari acuannya yang lebih kuat. Kalau tidak salah pak Sam’ani ini adalah guru bahasa Inggris di MAN Cilacap yang sempat mengajar saya saat kelas I.

“ya, betul”, teman saya membenarkan. “tadi pagi di bawa rumah sakit, sorenya meninggal”, tambahnya.

Ya Tuhan, ternyata kematian itu memang akan datang pada siapa pun. Segera saya mengucap doa untuk beliau yang telah menuju ‘rumahnya’ selamanya. Semoga, amal dan ibadah bapak diterima oleh Allah SWT. Dan tentu, saya juga mendoakan jika terdapat dosa dan kesalahan, diampuni dosanya.

Saya dan Anda, kapan?

Itulah pertanyaannya, semoga dengan musibah kematian ini, selalu mengingatkan kita untuk terus bersyukur kepada Allah akan segala nikmat yang telah diberikan oleh-Nya; berupa apa pun, tanpa terkecuali. Nikmat sehat, baik jasmani maupun rohani, dan segala nikmat yang lain.

Pada saat yang sama, kita tentu harus pula menanamkan satu kesadaran dalam batin kita, bahwa kita pun akan segera menyusul kematian. Entah, esok, lusa atau kapan, kita gak tahu waktunya. Yang jelas, ia akan datang dengan tanpa undangan. Semoga, kita selalu siap dengan datangnya kematian.

Terakhir, Selamat Jalan pak Sam’ani. Kau adalah pahlawan tanpa tanda jasa yang telah menoreh ilmu dan kebaikan buat kami semua. Tak kan kami lupakan itu untuk selamanya, bahkan, itu akan selalu tumbuh dan berkembang menjadi aliran amal buat panjenengan di sana, amiiin.

Jika Ditumpuk, koin Prita mencapai 28 kali tinggi Monas

Derasnya dukungan Prita Mulyasari yang diwujudkan dalam bentuk pengumpulan koin terus mengalir deras. Antusiasme masyarakat ini sekaligus menjadi wujud perlawanan rakyat terhadap ketidakadilan yang dilakukan oleh penguasa, dalam hal ini: pihak rumah sakit dan pemerintah—Hakim dan Jaksa.

Kenapa koin, ini jelas menjadi lambang gerakan ekonomi rakyat kecil yang jika bersatu dan digabungkan, betul-betul menjadi gerakan social yang begitu dahsyat dan maha besar.

Ini musti menjadi pelajaran bagi aparat penegak hukum, rumah sakit, dan pihak-pihak terkait agar selalu mengutamakan kepentingan rakyat, meningkatkan pelayanan terhadap masyarakat, dan melakukan reformasi birokrasi secara komprehensif.

Nah, bicara soal koin, berapa yang telah terkumpul saat ini? Memang belum ada hitungan pasti, pasalnya, koin yang terkumpul puluhan karung itu sedianya akan mulai dihitung Senin malam (14/12).

Bahkan ada yang melakukan hitung-hitungan menarik, apa jadinya jika koin itu ditumpuk, hingga menjulang tinggi? Pasti akan ketemu ukuran tinggi yang fantastis. Benar.  Berikut ini hitungannya:

Seorang pembaca detikcom, Iwan membuat hitung-hitungan yang menarik agar kita bisa membayangkan sebanyak apa koin yang berhasil dikumpulkan.

Koin Rp 500 berdiameter 2,7 cm dengan berat 3,25 gram dan tebal 2,5 mm. Sedangkan koin Rp 100 berdiameter 2,3 cm, berat 1,88 gram dan tebal 2 mm.

Jika koin Rp 500 dikumpulkan, maka beratnya 1.326 kg atau 1,3 ton. Untuk koin Rp 100, jika tercapai sebesar nilai yang diinginkan, beratnya bisa hampir 4 ton!

Bagaimana jika koin-koin tersebut dijejerkan rapih? Jika semua koin Rp 500 digelar di permukaan jalan dan disambung satu persatu, maka panjangnya mencapai 11 km. Sedangkan koin Rp 100 panjangnya mencapai 47 km.

Angka itu sama dengan jarak kita menempuh perjalanan mulai dari RS Omni di Tangerang menuju ke Tanjung Priok melalui tol BSD, Jl Jend Sudirman, tol dalam kota dan tol Tanjung Priok.

Seandainya koin Rp 500 itu ditumpuk satu persatu, maka tingginya bisa mencapai 1.326 meter atau hampir 10 kali tinggi Monas. Sedangkan untuk koin Rp 100, maka tingginya 3.825 meter atau 28 kali tinggi Monas atau setengah dari tinggi gunung Himalaya.

(mok/ddt)

Mereka yang ngotot memenjarakan Prita Mulyasari

Prita Mulyasari Dituntut 6 Bulan Penjara (ANTARA/Ismar Patrizki)

Mau tahu, siapa mereka yang selama ini berdiri paling kukuh dalam upaya menjebloskan Prita Mulyasari ke penjara? Mereka inilah yang punya ‘kuping tebal’, dan ‘muka tembok’, hingga tak menggubris apapun suara-suara dari masyarakat yang menghendaki kasus Prita dihentikan dan Prita bebas dari segala tuntutan.

“Biarlah Anjing Menggonggong, Kafilah Ttetap Berlalu”, itu istilah dan kamus yang dipakai dua orang ini dalam mencantumkan pasal Pasal 27 dan Pasal 45 Undang-Undang tentang Informasi dan Transaksi Elektronik pada berkas perkara Prita. Dari pencantuman pasal inilah, Prita sempat mendekam di penjara selama tiga minggu.

Siapa tokoh yang (mungkin) tengah cari muka ini? Adalah Jaksa Riyadi dan Rahmawati Utami yang melontarkan bersikeras memenjarakan Prita.

Baca selebihnya »

Aceh diguncang gempa lagi

Pagi ini, buka-buka berita sudah muncul kabar yang miris, lagi mengejutkan. Di Detik.com, saya baca: Gempa bumi kembali mengguncang Nangroe Aceh Darussalam (NAD). Pagi ini, Rabu (10/12/2009) pukul 04.28 WIB, gempa berkekuatan 5,9 skala richter mengguncang 90 km Baratlaut Sinabang, NAD.

Menurut Badang Meteorologi Klimatologi dan Geofisika, gempa terjadi di 2.71 LU – 95.58 BT dengan pusat gempa di kedalaman 10 km.

Gempa ini tidak berpotensi tsunami. Belum diketahui apakah gempa dirasakan oleh masyarakat Aceh.

Saya hanya berdoa, semoga Tuhan tak kirimkan musibah di negeri ini. Rakyat sudah cukup menderita dan tersiksa dengan ulah-ulah pemimpinnya yang korup dan tak amanah… Justru, Engkau hukum saja para koruptor itu dengan azabmu.

30 Anggota Panitia Angket Century: Demokrat Mendominasi

Bagaimana nasib Angket kasus Bank Century? Setelah bola dan isu ini menggelinding beberapa hari ini. Rasanya, public wajib mencermati bagaimana tingkah elite negeri ini dalam menyelesaikan satu persoalan, kasus penyelewengan dana Century: apakah jujur, berpihak, atau hanya sekadar menuruti kepentingan para ‘bos-bos negeri’ yang terusik kepentingannya oleh hadirnya kasus ini.

Dalam tulisan saya di blog ini, saya hanya sekadar mengingatkan sebagai orang awam yang tak mengerti apa-apa, bahwa kasus ini sangat sensitive dan rawan kepentingan politik. Terlebih seperti isu yang bergulir, public memahami bahwa dana ini ada dugaan kuat mengalir ke kantor salah satu partai terbesar negeri ini beserta tim suksesnya.

Sehingga, wajar jika kemudian masyarakat kita khawatir jika angek kasus ini akan bernasib sama tidak jelasnya seperti angket BLBI yang lalu. Termasuk terkait  dengan masuknya Partai Demokrat (PD) yang setuju diangkatnya kasus Century ini belakangan. Ditengarai pula ini sebagai satu politik pencitraan bahwa seolah-oleh democrat bersih dari kasus ini, dan karenanya mereka merasa berkepentingan kuat untuk menduduki nahkoda kepemimpinan hak Angket.

Seperti di ketahui, di awal-awal masuknya mereka, PD ini sangat ngotot dengan kursi ketua Angket. Namun, setelah ditekan oleh berbagai opini public, justru ada upaya untuk mempengaruhi (lobi) partai yang lebih lunak (seperti Partai Golkar) untuk mewadahi kepentingan Demokrat yang terganjal etika itu.

Nah, siang ini, DPR dalam sidang paripurna telah mensahkan sebanyak 30 orang sebagai panitia hak angket. Terlihat sekali partai Demokrat sangat mendominasi komposisi panitia ini, setidaknya sebanyak 8 orang terdiri dari PD. Mari kita lihat siapa saja mereka. Di vivanews.com, saya berhasil mengunduh, berikut ini:

Baca selebihnya »

Kapan kita hidup enak

Tiba-tiba saja, saya tertarik ingin mengungkapkan sederet unek yang satu ini. Sampai-sampai kegiatanku sontak terhenti, karena terusik oleh ini.

Seorang teman menuliskan status di jejaring facebook begini: “kapan kita hidup enak…”(?). Ini bisa sebuah pertanyaan, juga pernyataan keputusasaan.

Bukan saya ingin menyalahkan yang menulis, toh teman saya ini juga pasti paham bagaimana maksud ungkapan yang dia lontarkan itu. Saya hanya ingin mengupas ungkapan ‘hidup enak’.

Setelah beberapa menit ia tuliskan status itu, segera saja saya jawab dengan balasan: “enak itu istilah yang menipu yang diciptakan manusia”.

Ya, saya kira menurut saya, itu jawaban yang kurang lebih ingin saya sampaikan. Seolah kita hidup itu diburu oleh tuntutan agar hidup bisa enak. Toh, kita sendiri kadang memiliki pandangan kabur tentang pemaknaan hidup enak itu. Enak secara ragawi, hartawi, fisik, atau yang bersifat nuraniah? Semua itu, menjadi ajang perdebatan yang berprespektif.

Sahabatku, kita musti punya pandangan dan prinsip bahwa hidup enak itu bukan tujuan, tapi sebagai akibat dari proses yang kita jalani. Ketekunan, keuletan dan kesabaran dalam menjalani proses hidup: itu yang menjadi prinsip. Adapun ada akibat secara sosial, ketika kita sukses hidup di dunia dengan meraih segenap gelar dan status sosial tinggi, itu sebagai buah dari prinsip kita.

Jadi janganlah menyerah. Itu bisa jadi menipu. Karena dengan tuntutan ‘hidup enak’—yang dipaksa dengan ukuran fisik dan materi—kita akan sering mengejar dunia itu tujuan satu-satunya. Padahal, ada hal yang mendasar yang perlu kita pegang sebagai tonggak. Saya kira kita jangan terlena dengan belaian para pemimpi agar kita selalu terpukau dengan kemewahan dan enaknya hidup. Mereka yang hidup enak (secara fisik dan materi) pun belum tentu merasakan ke’enak’an dan kebahagiaan hidup.

Jadi, tetap semangat! Ok bro… sekadar curahan yang tak berarti…

Awas, PPATK Juga Masuk Angin

Di tengah hiruk pikuk politik dengan segenap isu dan wacananya, rakyat kita memang dituntut untuk terus waspada dan jeli terhadap perilaku politisi dan pemimpin serta lembaga negara kita yang belum benar-benar bersih dari aksi-aksi kotor dan perilaku korup serta penghianatan terhadap hak-hak masyarakat.

Dalam tulisan yang lalu (Awas, Hak Angket Kasus Century Masuk Angin!), saya telah menuliskan bagaimana kewaspadaan kita musti tetap siaga satu terhadap segala kemungkinan hak angket kasus bank century yang setiap saat bias ‘masuk angin’ alias terkena gembosan oleh pihak-pihak penumpang gelap yang tidak bertanggung jawab, serta menginginkan skandal bank bobrok itu tak diketahui publik.

Kali ini juga kita harus tetap memelototin tingkah para politisi kita yang kerap menebar aroma kecurigaan hingga publik was-was serta meragukan kinerja anggota DPR. Ya, wajar saja, para pemimpin kita banyak yang belum ’sekolah kejujuran’ sehingga tingkat kejujuran serta pengorbanan mereka terhadap kepentingan rakyat masih diragukan.

Seperti diketahui PPATK kini tengah didesak banyak pihak untuk segera membeberkan aliran dana bank century dengan segala transaksinya yang akhir-akhir ini diributkan orang.

Ditengah desakan itu, ternyata muncul berita bahwa ketua Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) Yunus Husein bertemu dengan beberapa orang dengan dugaan telah memberikan data itu terlebih dahulu ke perorangan, bukan ke DPR. Di sinilah rentan kena ‘masuk angin’ dan tekanan pihak-pihak tertentu untuk menyimpangkan PPATK ke jalan yang keliru.

Seperti diberitakan Okezone.com misalnya, LSM Benteng Demokrasi Rakyat (Bendera) memandang, pertemuan pimpinan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) dengan beberapa orang seperti Marzukie Ali sebagai Ketua DPR, dimungkinkan ada maksud terselubung.

”Kami melihat ada indikasi PPATK main mata dengan Marzukie Ali,” kata aktivis Bendera Adian Napitupulu, saat dihubungi okezone, Selasa (1/12/2009) malam.

Dalam pertemuan yang dilakukan di DPR tersebut, pada kemarin sore, Adian menduga PPATK telah mengungkap data transaksi keuangan Bank Century pada Marzukie.

“PPATK memberi data pada perorangan, tidak pada rakyat (DPR),” tukasnya.

Sementara mengenai ucapan Marzukie menanggapi data Bendera yang mengungkap penerima dana Bank Century, dianggap merupakan sumber yang tidak jelas, ditanggapi dingin Adian. Namun Adian siap menantang validitas data tersebut.(hri)

Benar tidaknya berita ini, tentu kita wajib mengkritisinya. Terlebih jika tidak terdapat bukti yang jelas. Namun, masyarakat kita sekali lagi jangan mau dibohongi dengan kasus yang serius macam kasus penyelewengan dana bank century ini. Harapan kita semua tetap pada koridor hukum, dengan mengedepankan aspek penegakan hukum sebagai panglima. Sehingga segala persoalan yang tengah membenang ruwet ini segera terurai dan diketahui segenap masyarakat luas… semoga.

Kemana DANA CENTURY mengalir, Ini dia!

Pagi-pagi sudah mendapati berita tentang tokoh-tokoh elite kita yang menerima dana century. Kaget memang, karena mereka-mereka adalah orang-orang dengan klik terbanyak yang dikenal publik. Jadi sangat memalukan jika ini benar, mereka melakukan hal ini. Moralitas pemimpin negeri ini dipertaruhkan.

Mereka yang kecipratan dana Century adalah: LSI, KPU, ebas, KPU, FOX, Partai Demokrat, Edhie Baskoro Yudhoyono, Hatta Radjasa, Djoko Suyanto, Andi Malarangeng, Rizal Malarangeng, Choel Malarangeng, Hartati Murdaya,

Dan selidik-punya selidik, saya langsung menuju TKP dan melihat situs asli yang menerbitkan berita ini, yakni di http://www.primaironline.com

Jika data ini benar, maka inilah kehancuran SBY. Kau akan diturunkan secara paksa oleh rakyat, karena uang rakyat senilai 6,7 triliun sudah kau lahap bersama orang-orang di sekitarmu

Baca selebihnya »