Berita ini nyatanya cukup menyedot perhatian publik, hingga mampu nongkrong di ranah kategori berita terpopuler di situs liputan6.com:

Buaya Pemangsa Manusia ditangkap

Buaya Pemangsa Manusia ditangkap

Buaya Pemangsa Manusia Ditangkap

Chaerul Dharma dan Cuk Arbianto

18/06/2009 06:56

Liputan6.com, Labuhan Batu: Seekor buaya yang selama ini meresahkan dan diduga telah memangsa tiga orang di Sungai Kualuh, Labuhan Batu, Sumatra Utara, Rabu (17/6), ditangkap setelah diincar selama sebulan. Buaya sepanjang lima meter dengan berat mencapai 500 kilogram itu ditangkap nelayan dengan menggunakan jaring. Selanjutnya, buaya tersebut akan diserahkan kepada Pemerintah Kabupaten Labuhan Batu ke taman hewan, Pematang Siantar, guna dikembangbiakkan. Perburuan buaya terus dilakukan karena masih terdapat puluhan ekor yang belum tertangkap.(BOG)

Catatan saya adalah, dalam kasus ini jelas menyiratkan tafsir akibat ulah manusia yang seringkali melakukan kerusakan di alam ini dengan memburu buaya-buaya dan hewan-hewan lain yang dilindungi demi kepentingan sesaat dan keserakahan nafsu manusia. Inilah mengapa buaya-buaya tersebut marah dan balik memangsa para pemburu kawan-kawan mereka yang telah di sayat kulitnya dan dimanfaatkan oleh manusia.

Jika memang buaya itu memangsa manusia yang jumlahnya paling baru 3 orang, kenapa tidak menangkap ‘buaya senayan’ yang justru telah memangsa hak puluhan juta warga kita dengan melakukan korupsi dan menyelewengkan kepentingan rakyat. hmmm… itu lebih dahsyat!

Begini jadinya kalau dalam beberapa hal langkah KPU tak punya perhitungan dan kehati-hatian. Cap tidak profesional siap menjadi caci maki publik. Bagaimana tidak menyembulkan tafsir tak adil, tak profesional dan berat sebelah, jika dalam spanduk sosialisasi Pilpres 2009 nanti, bisa-bisanya dan sempat-sempatnya menyenggol ranah kontroversi dengan memampang spanduk yang (seolah-olah) mengarahkan untuk mencontreng pasangan Capres-Cawapres nomor urut 2 alias SBY-Budiono.

Berikut kabar buruk itu:

KPU arahkan contreng SBY-Budiono?

KPU arahkan contreng SBY-Budiono?

Jumat, 26/06/2009 09:57 WIB
Spanduk Sosialisasi Pilpres Arahkan Contreng No 2
Shohib Masykur – detikPemilu

Jakarta – Spanduk sosialisasi pilpres di Lampung dinilai menyesatkan. Sebab spanduk itu seolah-olah mengarahkan pemilih mencontreng pasangan capres-cawapres nomor 2.

“Spanduk itu berukuran 5 meter, ada gambar 3 kolom. Masing-masing kolom berisi gambar 3 pasangan, capi blank, nggak ada mukanya. Hanya pencontrengannya di nomor dua semua,” kata Ketua Panwaslu Lampung Desi Putra Jayasinga saat dihubungi detikcom, Jumat (26/6/2009).

Pencontrengan yang dilakukan di nomor 2 itu dinilai menyesatkan. Sebab spanduk itu seperti mengarahkan publik untuk mencontreng pasangan nomor 2. Beberapa partai pendukung calon lainnya telah menyatakan protes atas spanduk tersebut.

“Spanduk itu kan ada 3 kolom. Kalau mau bijak seharusnya pencontrengan dilakukan di masing-masing pasangan. Kolom pertama pasangan nomor 1, kolom kedua nomor 2, kolom ketiga nomor 3,” kata Desmi.

Desmi mengatakan, tadi malam Panwaslu Lampung telah meminta agar spanduk itu diturunkan. Sampel spanduk juga telah dikirim ke Bawaslu untuk ditindaklanjuti lebih lanjut.

Namun karena spanduk itu telah tersebar ke seluruh kabupaten dan kecamatan di Lampung, sulit untuk menurunkan semuanya. Meski begitu, KPU Lampung berjanji menurunkan semua spanduk itu.

Menurut pengakuan KPU Lampung, kata Desmi, spanduk itu merupakan kiriman dari KPU pusat. Produksinya dilakukan KPU pusat yang lalu didistribusikan ke daerah-daerah.

“Pengakuan dari KPU Lampung itu dicetak dari KPU pusat. Saya khawatir ini di seluruh Indonesia. Panwaslu melihat ini suatu keberpihakan,” ucap Desmi. ( sho / nrl )

Selebaran gelap: Apakah PKS tidak tahu istri Budiono Katolik

Selebaran gelap: "Apakah PKS tidak tahu istri Budiono Katolik"

Saling lempar Isu SARA kembali dipertontonkan. Kali ini menimpa istri Budiono yang dicap oleh salah satu tabloid sebagai non Muslim. Terang saja, rumor itu membuat kubu Cikeas tersedak. Dan mereka menuntut kubu JK-Wiranto minta maaf.

Aksi bagi-bagi ini dilakukan saat digelar kampanye JK-Wiranto di Medan. Nah, untuk lebih jelasnya, berikut ini liputan SCTV yang merekam aksi tersebut:

[http://video.liputan6.com/videodetail/200906/234817/Selebaran.Soal.Istri.Boediono.Berbuntut.Panjang]

Saling lempar Isu SARA kembali dipertontonkan. Kali ini menimpa istri Budiono yang dicap oleh salah satu tabloid sebagai non Muslim. Terang saja, rumor itu membuat kubu Cikeas tersedak. Dan mereka menuntut kubu JK-Wiranto minta maaf.

Aksi bagi-bagi ini dilakukan saat digelar kampanye JK-Wiranto di Medan. Nah, untuk lebih jelasnya, berikut ini liputan SCTV yang merekam aksi tersebut:

[<embed src='http://video.liputan6.com/libs/jwplayer/player-licensed-viral.swf' height='360' width='480' allowscriptaccess='always' allowfullscreen='true' flashvars='repeat=list&autostart=true&file=http%3A%2F%2Fvideo.liputan6.com%2Fmrss.php%3Fprogram%3Dnews%26id%3D234817%26m_id%3D846884&plugins=viral-1d'/>]

Kolom Gus Dur kali ini berjudul “Jalan Menuju Demokrasi”. Diunduh dari Harian Seputar Indonesia. Berikut tulisan lengkapnya:

Jalan Menuju Demokrasi

Tuesday, 23 June 2009

PENULIS begitu terkejut melihat peristiwa pascapemilihan umum di Iran. Karena apa yang terjadi di Iran dewasa ini, seperti peniruan ketika Indonesia masih dipimpin oleh Pak Harto.
Namun,di balik hal itu ada perkembangan sangat menarik, ketika Mir Hosseini Mousavi ternyata meneruskan upaya yang dirintisnya selama ini. Ia mengajukan protes atas tindakan-tindakan Dewan Penyelamat Revolusi Islam Iran yang dipimpin oleh Ayatullah Ali Khamaeni yang juga ulama besar. Di masa pemerintahan Pak Harto, semua peraturan dan Undang-Undang Pemilu dibuat untuk memenangkan pihak Golongan Karya (Golkar).

Perbedaan paling mencolok terletak pada kenyataan bahwa Mir Hosseini Mousavi meneruskan demonya untuk menolak pemilu presiden.Ini berbeda dengan kaum yang menginginkan demokrasi di negeri kita. Kini mereka tidak mau meneruskan secara terbuka langkah ke arah itu.Paling jauh,kaum minoritas yang sering meminta agar penulis artikel ini, bersedia melindungi mereka jika diancam orang lain, baik dari pemerintahan maupun di luar pemerintahan. Tentu saja ini sangat sesuai bahwa ada mayoritas membisu (silent majority) dalam kondisi ini.
(lagi…)

Banyak pertanyaan yang berseliweran, mengapa stasiun tv kita banyak yang menolak iklan ini. Bukannya setiap tv justru acap membuka diri jika masa kampanye dimulai. Kenapa justru gak ‘dipanen’. Gak butuh duitnya, atau sudah ada yang membayar lebih gede? atau, atau yang lain?

Tampaknya kita butuh jawaban para pemilik tv yang menolak iklan Mega-Pro tentang ‘Harga’ itu. Atau kalau mungkin pihak-pihak yang membuat bungkam.

Bagaimana menurut anda?

Ketika itu, tahun 2001, di masa pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid, stabilitas politik dan keamanan betul-betul goyah. Di Jakarta, atau kota besar lainnya, ancaman perampokan, pembunuhan, atau pencurian, merajalela. Lampu merah (lampu lalu lintas) adalah daerah bahaya satu, karena di situ beroperasi kelompok `’Kapak Merah”. Ketika lampu merah menyala, tiba-tiba saja serombongan anak muda bersenjata kapak, pisau, atau golok -terkadang bersenjata api-menyatroni mobil yang sedang berhenti, memecahkan kacanya, lalu merampok penumpangnya, dan pergi seenaknya saja meninggalkan korban, yang tak jarang sudah dianiaya terlebih dulu. Polisi seakan tak berdaya. Itu menyebabkan rakyat terpancing menjadi main hakim sendiri. Maling motor yang tertangkap, dibakar hidup-hidup. Adegan mengerikan itu, merupakan pemandangan sehari-hari di mana-mana.

Itu belum seberapa. Berbagai daerah bergolak. Aceh, misalnya,seakan sudah terpisah dari Republik. Bayangkan, Presiden Abdurrahman Wahid, datang ke Banda Aceh, ketika itu, hanya berani sampai Masjid Raya. Bicara sebentar, ia langsung balik ke bandar udara, terbang pulang ke Jakarta. Di Ambon, Maluku, `’perang” Islam – Kristen, mencapai puncaknya. Tak terhitung nyawa yang melayang, bangunan yang terbakar, atau perkantoran yang dimusnahkan. Peristiwa serupa terjadi di Poso, Sulawesi Tengah. Di berbagai daerah di Kalimantan, orang Dayak `’perang” melawan suku pendatang, Madura. Korban tak lagi terhitung.

Nah, ketika itu yang menjadi Menko Polkam adalah Jenderal (Purn.) Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), yang berambisi menjadi Presiden RI. Sebagai penanggungjawab stabilitas politik dan keamanan di kabinet, apa yang SBY lakukan? `’Ooh dia rapat terus, diskusi terus, sampai berbulan-bulan,” ujar seorang Menteri yang ketika itu masuk jajaran Polkam. Sebagai hasil rapat-rapat yang melelahkan yang dipimpin SBY itu, dibentuklah Desk Aceh, Desk Ambon, Desk Poso, Desk Sampit, dan entah Desk apa lagi. Apa kerja Desk itu? Jangan tanya, karena mereka rapat terus, diskusi terus, seminar terus. `’Saya lihat orang-orang yang bunuh-bunuhan di Ambon, Poso, atau Sampit, sudah mulai capek. Mereka juga sudah capek membakar rumah, saking banyaknya rumah yang dibakar. Tapi rapat belum menghasilkan keputusan apa pun,” kata Menteri tadi.
(lagi…)

Hari ini, saya mendapatkan email dari milis yang rasanya cukup perlu untuk dibaca dan ditelaah. Mulai dari awal kata hingga akhir kata saya membaca, saya tanamkan terlebih dahulu keyakinan bahwa ini adalah sebuah teks yang siap mendapatkan ekor makna dan pemahaman yang berbeda-beda, bahkan menjadi kontroversi.

Terlebih, teks ini dihadirkan saat dimana konstalasi politik memanas pra pemilihan Presiden dan Wakil Presiden 2009.

Tapi apapun yang menjadi makna, arti dan pemahaman para pembaca, saya kira itu sah-sah saja. Silakan ditafsirkan sesuai dengan persepsi dan keyakinan anda semua. Mendukung, menolak, setuju, tak setuju atau biasa-biasa saja. Itu semua adalah (sekali lagi) hak anda semua. Saya hanya bagian terkecil dari orang yang hendak memberikan pemahaman tentang teks ini.

Dalam milis tersebut sang pengirim yang menamakan diri Bungaran memberikan judul “Kilas Balik Langkah Politik SBY”. Tulisan tersebut terbagi menjadi 2 bagian. Berikut ini saya unduh dari milis tersebut. Selamat menikmati.

Marcus Brutus adalah kawan, anak buah dan orang yang dipercaya Julius Caesar, kaisar Romawi. Tapi Brutus pulalah yang menusuk sang kaisar dengan pisau dari belakang hingga mati. Karakter Brutus akhirnya dipakai untuk menggambarkan seorang yang berkhianat terhadap orang yang menolongnya, melindunginya dan bahkan mempercayainya. Karakter Brutus ini hampir selalu muncul dalam pergulatan politik. Dalam perbincangan politik Indonesia sekarang ini, salah satu figur yang dijuluki Brutus adalah Jenderal SBY.

SBY telah menjadi Brutus bagi tiga presiden yaitu Soeharto, Abdurrahman Wahid dan Megawati. Bedanya, Brutus di zaman Romawi akhirnya mati bunuh diri, sedangkan Brutus SBY terbilang Brutus yang masih beruntung.

Di akhir zaman Presiden Soeharto, SBY menjabat Kasosspol ABRI di bawah Panglima ABRI Wiranto. Tanggal 16 Mei 1998, MABES ABRI di Jalan Merdeka Barat dipenuhi wartawan karena ada siaran pers Wiranto yang meminta Soeharto mundur. Tapi Wiranto tak muncul-muncul.

Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) ABRI, Wahab Mokodongan, membagikan siaran pers itu yang isinya menimbulkan kontroversi, yaitu: ABRI Mendukung Pernyataan PBNU. Padahal isinya adalah minta Soeharto untuk turun. Wiranto kaget, kok ada siaran seperti ini. Kemudian baru diketahui bahwa SBY-lah yang membuat dan mengkonsep pernyataan itu. Dengan cara itu, SBY bermaksud mendorong dan menjebak Wiranto untuk ambil alih kekuasaan. Akibatnya, Wiranto sempat kena tuding mau mengkudeta Soeharto. Seperti ditulis dibukunya, SBY bahkan sempat bertanya pada Wiranto, “Apakah Bapak akan ambil kekuasaan?” Ambisi SBY memang besar. Targetnya ketika itu adalah Pangab. Kalau Wiranto bisa jadi Presiden dengan mengambil alih dari Soeharto, tentu ia akan ditunjuk jadi Pangab, orang nomor satu di ABRI. Tapi Wiranto memang dinilainya penakut. Tapi, setelah Soeharto jatuh, peristiwa ini dieksploitasinya sebagai bentuk keberpihakannya pada kelompok reformis. Ke mana-mana ia mengatakan bahwa ia adalah ABRI yang reformis dan ABRI perlu paradigma baru. Dengan tampil sebagai sosok seolah-olah reformis, SBY tampil dalam elit politik pada pemerintahan pasca Soeharto.
(lagi…)

Penyelamat bawa korban tambang yang meledak di Sawahlunto (Antara/ Arif Pribadi). diambil dari situs VIVAnews.com

Regu penyelamat masuki tambang yang meledak di Sawahlunto (Antara/ Arif Pribadi). diambil dari situs VIVAnews.com

Regu penyelamat masuki tambang yang meledak di Sawahlunto (Antara/ Arif Pribadi). diambil dari situs VIVAnews.com

AFP. diambil dari detiknews.com

AFP. diambil dari detiknews.com

Musibah kembali menimpa para penambang batubara di kawasan Bukit Bual, Nagari V Koto, Kecamatan Koto VII, Kabupaten Sijunjung, Sumatera Barat (Sumbar). Waktu berjalan semenjak Selasa lalu, korban terus bertambah. Dari beberapa liputan media menyebutkan Korban yang jatuh akibat ledakan tambang ini mencapai 32 orang. Dan dipastikan, jumlah ini akan terus bertambah.

Berikut ini nama-nama korban tewas yang penulis unduh dari VIVAnews.com hingga Rabu 17 Juni 2009 siang akibat ledakan tambang dalam milik rakyat di kawasan Bukik Cigak, Talawi, Sawahlunto, Selasa pagi lalu:

1.   Salman Hariadi (45)
2.   Ali Baba (18)
3.   Anton (28)
4.   Ali Yusri (25)
5.   Andre (19)
6.   Haris Effendi (19)
7.   Har (28)
8.   Putra Yanto (28)
9.   Jon Kennedy (30)
10. Arbizal (44)
11. Bustian (47)
12. Mawardi (42)
13. Indra (40)
14. Ali Amran (45)
15. Syafriadi (34)
16. Samsuwilda (35)
17. Karim S (40)
18. Banny Hariyanto (29)
19. Samsul Aziz (27)
20. Nafizul Amran (38)
21. Regu Eka Putra (18)
22. Zul Effendi (40)
23. Hengki Saputra (23)
24. Arlisman (38)
25. Safi Yunadi (19)

Empat nama terakhir diinapkan di Puskesmas Tanjung Ampalu, Kabupaten Sijunjung. Sementara sisanya berada di Rumah Sakit Umum Daerah Sawahlunto. Dua jenazah di RSU Sawahlunto belum dikenali identitasnya.

Hingga siang ini tim evakuasi dari berbagai daerah di Sumbar berupaya untuk mengevakuasi lima korban yang masih berada di dalam lubang. Rata-rata korban berasal dari Sawahlunto dan Sijunjung. Hanya beberapa orang korban yang berasal dari Kabupaten Solok Selatan dan Kabupaten Dharmasraya.

Ledakan di lubang galian batubara ini terjadi Selasa pukul 10.00. Sebuah dentuman keras terdengar dan kemudian disusul oleh luapan api keluar dari lubang.

Laporan Eri Naldi | Padang

Atas musibah ini, memang kita patut menjadikan pelajaran yang betul-betul berharga jangan sampai musibah akibat kelalaian, kecerobohan dan segala macam alasan lain ini kembali terjadi. Turut berbela sungkawa, semoga Musibah ini tak kembali terjadi dan arwah para korban tewas diterima di sisi-Nya.

Halaman Berikutnya »